JAKARTA, KOMPAS.TV - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah dan Kota Palembang, Sumatera Selatan kembali menebal pada pagi ini, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan pantauan jurnalis KompasTV, Kurnia Tarigan di Palangka Raya, selama sebulan terakhir tidak terlihat adanya helikopter water bombing yang melakukan pemadaman.
Saat ini, seluruh upaya pemadaman dilakukan personel Satgas Darat. Mereka pun terkendala minimnya sumber air di lokasi lahan gambut yang terbakar sejak dua hari lalu.
Para petugas melakukan pemadaman berbekal tangki air berkapasitas 1.000 liter. Namun, saat air yang mereka bawa tersebut habis, para petugas harus kembali mengambil air ke sumbernya.
Baca Juga: Dampak Karhutla Indonesia di Negara Tetangga, Begini Cerita WNI di Malaysia dan Singapura
Dari pantauan di lokasi, saat petugas kembali untuk mengambil air, api di lokasi pemadaman kembali membesar akibat tiupan angin kencang.
Kabut asap di Palangka Raya pun kembali menebal pada Senin (12/10/2026) sore, bahkan warnanya menguning. Kabut asap tebal juga masih terpantau pada Selasa pagi ini.
Kasus infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) di Kota Palangka Raya juga meningkat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, jumlah kasus mencapai 10.400.
Pemerintah daerah setempat juga masih memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi para peserta didik.
Para siswa juga berpotensi harus mengikuti ujian tengah semester secara daring dari rumah masing-masing jika kondisi kabut asap tidak membaik.
Kabut asap juga kembali menebal di Palembang, Sumatera Selatan. Berdasarkan laporan jurnalis KompasTV, Purwantoro, kabut asap sempat menipis pada Senin sore, tapi kembali menebal pada Selasa pagi.
Pagi ini, jarak pandang atau visibilitas di Kota Palembang sekitar 400 meter dengan kondisi udara yang buruk.
Baca Juga: Pangdam Laporkan Kendala Pemadaman Karhutla, Prabowo Janji Kirim Rp2 Miliar
Sehari sebelumnya, Senin, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyebut operasi pemadaman karhutla melalui udara di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan tak dilakukan karena visibilitas atau jarak pandang yang rendah.
“Sementara untuk Satgas Udara, kami sudah coba bergerak baik dari Palangka Raya Tjilik Riwut maupun dari Samsoedin Noer Banjarmasin, sementara belum tembus karena visibility yang sangat tebal,” jelasnya saat melaporkan perkembangan penanganan karhutla kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Senin.
“Dan di Kalimantan Tengah ini operasi-operasi udara, baik helikopter bombing, operasi modifikasi cuaca maupun pesawat komersial. sementara tidak dapat terbang karena visibility."
Sedangkan di Sumatera Selatan, Satgas Udara baru bisa terbang pada Senin, dan rencananya akan dipadukan dengan operasi modifikasi cuaca.
“Mudah-mudahan nanti begitu prediksi BMKG sudah mulai turun hujan alami di pertengahan Oktober sampai dengan November dan selanjutnya, setelah musim hujan turun, tentu saja kondisi karhutla akan lebih baik,” ungkap Suharyanto.
“Tapi sebelum itu kami siap untuk bekerja keras mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki.”
Ringkasan Berita:
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Sumber : Kompas TV
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.