Adisty Larasati
Adristya Chintya Dewi
Aiman Witjaksono
Andre Octavianus Sinaga
Arizona Galih
Astrid Wibisono
Audrey Chandra
Chintya Rompas
Cindy Sistyarani
Frisca Clarissa
Fristian Griec
Githa Nila Maharkesri
Glenys Octania
Glory Rosary Ojong
Hardjuno Pramundito
Iryanda Mardanuz
Ivo Nasution
Jihan Novita
Lintang Pudyastuti
Liviana Cherlisa
Maydop Elfrina
Mercy Tirayoh
Muhammad Syahreza
Mysister Silvilona
Ni Luh Puspa
Nina Melinda
Paschalis Iswari Parahita
Radi Saputro
Rahmat Ibrahim
Riko Anggara
Sofie Syarif
Stefani Ginting
Tily Rheabela
Timothy Marbun
Venny Melani Pryscilla
Woro Windrati
Yan Rahman
Yulika Satria Daya
Adisty Larasati

Adisty mulai bergabung menjadi jurnalis di KompasTV sejak tahun 2015. Saat ini ia membawakan sejumlah program seperti, Kompas Pagi, Sapa Pagi Weekend, Kompas Siang, Indonesia Update, Update Korona, Rumah Pemilu, Kompas Dunia, dan Kilas Kompas. Salah satu pengalaman yang tidak pernah ia lupakan adalah saat ditugaskan untuk meliput di Lombok. Ketika itu ia hanya ditugaskan selama tiga hari, namun dikarenakan kondisi Gunung Agung meletus, ia diharuskan stay lebih lama untuk meliput peristiwa meletusnya Gunung Agung selama sepuluh hari.

Ikuti Adisty Larasati:
Adristya Chintya Dewi

Adristya memulai awal karirnya sebagai jurnalis pada tahun 2017. Setelah lulus dari President University – Hubungan Internasional tiga tahun lalu, ia langsung bergabung bersama KompasTV. Pengalaman menjadi jurnalis yang paling berkesan baginya adalah ketika ia merasakan terkena gas air mata saat meliput kegiatan demo BAWASLU 21 Mei – 22 Mei 2019 lalu.

Ikuti Adristya Chintya Dewi:
Aiman Witjaksono

Jurnalis kelahiran Jakarta, 8 Juli 1978 ini merupakan salah satu jurnalis senior di Indonesia. Ia mulai bergabung dengan KompasTV sejak tahun 2012. Kini, ia menjadi host program AIMAN, sebuah program berita investigasi, yang membahas berbagai isu terkini secara mendalam. Selain program AIMAN, program lain yang dibawakannya adalah Kompas Update, Kilas Kompas, Kompas Pagi, Indonesia Update, Kompas Dunia, dan Gelar Perkara. Motto dalam hidupnya adalah "Memberi manfaat untuk mengubah peradaban."

Ikuti Aiman Witjaksono:
Andre Octavianus Sinaga

Jurnalis yang biasa dipanggil Andre Sinaga ini bergabung bersama KompasTV di tahun 2011. Ia adalah lulusan Komunikasi Universitas Prof Dr. Moestopo, yang saat ini membawakan program Megapolitan Pagi, Sport Pagi dan Sport Malam. Pengalaman liputan di berbagai wilayah dengan tingkat kesulitan yangg berbeda dan menegangkan menjadi hal yang sudah biasa ia hadapi. Salah satunya saat liputan Gerhana Matahari Total / Total Solar Eclipse di Palu, tahun 2016.

Ikuti Andre Octavianus Inaga:
Arizona Galih

Pria kelahiran Semarang ini memulai karirnya menjadi jurnalis sejak tahun 2009. Sarjana komunikasi ini pertama kali bergabung dengan KompasTV dimulai dari KompasTV Jawa Tengah pada 2011 lalu. Program yang dibawakannya adalah Kompas Update, Kilas Kompas, Kompas Pagi, Indonesia Update, Kompas Dunia, dan Gelar Perkara. Salah satu pengalaman paling berkesan di KompasTV ketika ia menjadi Field Produser di Brexit tahun 2016. Ketika itu terjadi kemacetan panjang di pintu keluar tol Brebes Timur. Selama sepuluh hari menyaksikan secara langsung dan menginformasikan fakta di lapangan.

Ikuti Arizona Galih:
Astrid Wibisono

Alumni Griffith University, Australia, ini memulai karirnya menjadi jurnalis sejak 2011. Ia bergabung bersama KompasTV di tahun 2017. Program yang dibawakannya adalah Kompas Malam, Kompas Dunia, Berita Utama, Rumah Pemilu, dan Kompas Siang.

Ikuti Astrid Wibisono:
Audrey Chandra

Alumni London School of Public Relations ini memulai karir sebagai jurnalis di KompasTV pada tahun 2013. Selama di KompasTV, Audrey pernah membawakan sejumlah program yakni Kompas Pagi, Jakarta Hari Ini, Indonesia Update, Kompas Siang, Rumah Pemilu, Sapa Indonesia Pagi, dan Sapa Indonesia Siang. Banyak hal menarik yang ia dapatkan selama menjadi jurnalis, salah satunya ketika ia ditugaskan untuk meliput kecelakaan pesawat AirAsia, tanpa ada persiapan dan bekal apa-apa ia dan juru kamera diharuskan untuk berangkat saat itu juga. Motto hidupnya adalah bersyukur, berbuat baik dan berpikir positif.

Ikuti Audrey Chandra:
Chintya Rompas

Perempuan kelahiran Jakarta, 27 September 1981 ini sudah menggeluti bidang jurnalis sejak tahun 2004. Sempat istirahat dari bidang ini selama beberapa tahun, Cynthia kembali memulai karirnya sebagai jurnalis di tahun 2016 dengan bergabung bersama KompasTV. Sejumlah program yang ia bawakan adalah Kompas malam, Berita Utama, Opini, Ngopi, dan Kompas Dunia. Selama berkarya di KompasTV ia diajarkan bagaimana menjadi Jurnalis yang mampu membawakan berbagai jenis acara.

Ikuti Chintya Rompas:
Cindy Sistyarani

Menjadi jurnalis di KompasTV membawanya ke Filipina untuk meliput Topan Haiyan. Ini merupakan salah satu pengalaman mengesankan bagi Cindy selama menjalani pekerjaannya di KompasTV selama sembilan tahun terakhir. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga ini telah memulai karirnya sebagai jurnalis sejak tahun 2007. Program acara yang dibawakannya adalah Kompas Petang, Kompas Siang, Kompas Malam, Dua Arah, Kompas 100, KompasianaTV, Live Report.

Ikuti Cindy Sistyarani:
Frisca Clarissa

Perempuan asal Paris of Java ini sudah memulai karirnya sebagai jurnalis sejak tahun 2012. Alumni Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran ini sempat mendapat sebutan “Mbak Pororo”dari para netizen saat meliput demo BAWASLU pada 22 Mei 2019 lalu. Sederet pengalaman menarik telah ia dapatkan selama bekerja sebagai jurnalis di KompasTV, diantaranya ketika bertugas sebagai "Video Journalist" saat meliput Presiden meninjau daerah terdampak bencana Tsunami Banten 2018, mewawancarai Abraham Samad secara eksklusif di atas pesawat rute Jakarta-Makassar pada tahun 2015, hingga meliput tragedi bom Thamrin di tahun 2016 serta tragedi bom Surabaya tahun 2018 lalu.

Ikuti Frisca Clarissa:
Fristian Griec

Alumni Fakultas Hukum Universitas Padjajaran ini mulai bergabung bersama KompasTV di tahun 2015. Berbagai pengalaman mengesankan ia dapatkan selama ia menjadi jurnalis, salah satunya saat ia ditugaskan untuk meliput pembebasan sandera Abu Sayyaf yang berlokasi di Filipina. Program yang saat ini dibawakan adalah Kompas Petang, Laporan Khusus, dan Melek Hukum. Motto hidupnya adalah “Patience, Persistence, Hard Work.”

Ikuti Fristian Griec:
Githa Nila Maharkesri

Githa yang merupakan Sarjana Teknik Informatika ini sudah bergabung bersama KompasTV sejak tahun 2013. Program yang saat ini ia bawakan adalah Target dan Kompas Sport. Salah satu pengalaman yang paling mengesankan baginya adalah, ketika ia pernah dilempar air seni oleh pendemo, dan tersedak gas air mata pada saat melaporkan breaking news. Motto hidupnya adalah “Share kindness dan ceritalah, aku mendengarkan.”

Ikuti Githa Nila Maharkesri:
Glenys Octania

Glenys Octania memulai karirnya di KompasTV pada tahun 2015. Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, Glenys sudah bercita-cita untuk menjadi wartawan. Banyak dipandang orang sebelah mata karena ia memiliki keturunan Cina, tak membuatnya pantang menyerah untuk bisa menjadi wartawan. Berbagai lomba di bidang jurnalistik juga sering ia ikuti sejak SMA, meskipun sering kalah dalam mengikuti perlombaan di bidang ini namun ia tak patah arang.

Ikuti Glenys Octania:
Glory Rosary Ojong

Perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat ini sudah berkecimpung di bidang jurnalistik sejak tahun 2010. Hampir semua program di KompasTV pernah ia bawakan seperti, Kompas Pagi, Kompas Siang, Kompas Petang, Kompas Malam, Kompas Bursa, Sport, New Star, hingga Sapa Indonesia pagi. Banyak sekali pengalaman menarik yang tidak terlupakan, tapi salah satu yang paling berkesan baginya adalah ketika ia harus meliput pertandingan sepakbola Manchester City di Malaysia.

Ikuti Glory Rosary Ojong:
Hardjuno Pramundito

Pria kelahiran Sydney, Australia ini bergabung dengan KompasTV sejak Mei 2011. Alumni Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia ini mengawali karirnya di bidang jurnalistik pada tahun 2004. Saat ini ia membawakan program Kompas Dunia, dan Kompas Siang. Selama bekerja di KompasTV, Hardjuno sudah melalui banyak momen yang mengesankan. Membangun bersama secara konstruktif, dan mengawal sejumlah momen penting di Indonesia.

Ikuti Hardjuno Pramundito:
Iryanda Mardanuz

Alumni Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini memulai karirnya di KompasTV pada Agustus 2017. Saat ini, Iryanda membawakan sejumlah program diantaranya, Kompas Pagi, Sapa Indonesia Pagi Akhir Pekan, Kompas Siang, Sapa Indonesia Siang, Kompas Dunia, Kilas Kompas, Kompas Update, Breaking News, dan Saksi Kunci. Salah satu pengalaman yang berkesan baginya, ketika ia ditugaskan untuk meliput bencana di tahun 2018, khususnya pada saat pengangkatan Black Box Lion Air PK-LQP yang jatuh di Laut Jawa sebelah utara Karawang.

Ikuti Iryanda Mardanuz:
Ivo Nasution

Ivo merupakan jurnalis lulusan D3 Manajemen Informatika. Ia memulai karirnya dengan menjadi penyiar radio pada 2001 – 2011. Bergabung di KompasTV pada 1 Juli 2019. Saat ini ia aktif membawakan program Kompas Dunia. Ia sangat menikmati pekerjaannya, terlebih saat melakukan liputan di lapangan dan mewawancarai orang yang mesti tidak terkenal namun hebat dan menginspirasi.

Ikuti Ivo Nasution:
Jihan Novita

Jihan Novita bergabung bersama KompasTV sejak 2019, dan kini membawakan program Kompas Dunia, Kompas Update, Breaking News. Mengemban tanggung jawab pada program Kompas Dunia membuatnya menjadi lebih mengetahui dan memahami isu yang terjadi di Mancanegara. Selama bekerja di KompasTV ia juga menjadi banyak belajar untuk bisa bersikap cepat tanggap, tepat, dan akurat ketika tiba-tiba harus dihadapkan dengan Breaking News.

Ikuti Jihan Novita:
Lintang Pudyastuti

Setelah menjadi sarjana Ilmu Komunikasi, Lintang memulai karirnya menjadi reporter di KompasTV pada tahun 2018. Saat ini ia membawakan program SINGKAP, yang merupakan program berita investigasi. Menjadi reporter indepth yang mengupas berbagai macam cerita sejarah di Indonesia sangatlah berkesan, karena dapat mengunjungi dan menulusuri tempat - tempat bersejarah.

Ikuti Lintang Pudyastuti:
Liviana Cherlisa

Wanita kelahiran Jakarta, 9 Desember 1989 ini sudah menjadi jurnalis sejak tahun 2019. Pada tahun 2012, Liviana memulai karirnya sebagai presenter di KompasTV. Selain menjadi jurnalis, ia juga sempat menjajal ajang Miss Indonesia 2009 yang kala itu mewakili Maluku Utara. Salah satu pengalaman yang tidak pernah ia lupakan selama menjadi jurnalis ialah ketika ia meliput kejadian bom Thamrin dan ia juga pernah di protes oleh nara sumber yang merupakan anggota DPRD.

Ikuti Liviana Cherlisa:
Maydop Elfrina

Maydop bergabung dengan KompasTV sejak 2015. Program unggulan seperti, Kompas Pagi, Kompas Siang, dan Kompas Bisnis adalah program yang saat ini dibawakan oleh Maydop. Meliput kecelakaan pesawat HERCULES C 130 yang jatuh di Medan menjadi salah satu pengalaman yang tidak pernah ia lupakan. “I do my best, God do the rest” menjadi motto hidup wanita kelahiran Jakarta, 9 Juli ini.

Ikuti Maydop Elfrina:
Mercy Tirayoh

Mercy merupakan Jurnalis lulusan IISIP Jakarta angkatan 2005. Ia memulai karir jurnalistiknya dengan menjadi freelancer di Kompas.com pada 2010. Tak lama begelut dengan platform media online, ibu satu orang putra bernama Cakrawala Samudra mencoba menjadi reporter di ANTV sejak 2010-April 2013. Bergabung di Kompas TV sejak Mei 2013. Saat ini aktif menjadi pembawa berita program Kilas Kompas dan produser program Berkas Kompas, program liputan mendalam dan investigasi.

Ikuti Mercy Tirayoh:
Muhammad Syahreza

Pria kelahiran Jakarta, 26 Agustus 1990 ini bergabung dengan KompasTV sejak Oktober 2018. Selama bekerja di KompasTV, Reza sudah membawakan sejumlah program diantaranya, Kompas Update, Kompas Siang, Sapa Pagi Akhir Pekan, Viral Banget, Sapa Indonesia Siang, dan Malam Pergantian Tahun 2020.

Ikuti Muhammad Syahreza:
Mysister Silvilona

Jurnalis kelahiran Medan ini telah menekuni bidang jurnalistik selama lima tahun. Sederet pengalaman berkesan ia dapatkan selama menjadi jurnalis. Semua liputan, wawancara selalu memberikan pelajaran baru. Pertama, ketika ditugaskan untuk meliput acara Internasional langsung seperti WEF, IMF-World Bank Annual Meetings dan IORA. Dalam acara seperti ini, selain belajar memahami kondisi perekonomian juga berkesempatan wawancara langsung dengan para tokoh ekonomi berpengaruh.

Ikuti Mysister Silvilona:
Ni Luh Puspa

Wanita asal Bali ini telah menggeluti bidang jurnalis sejak tahun 2010. Awal bergabungnya dengan KompasTV dimulai dari KompasTV Biro Makassar. Sederet pengalaman menarik telah ia dapatkan selama menjadi seorang jurnalis, salah satunya adalah ketika ia mewawancarai Kapolri Jenderal Tito Karnavian secara eksklusif sembari menaiki helikopter.

Ikuti Ni Luh Puspa:
Nina Melinda

Perempuan kelahiran Yogyakarta ini mengawali karirnya sebagai jurnalis pada tahun 1999. Sebelum bergabung dengan KompasTV di tahun 2014, Nina lebih dahulu bekerja di TVRI Yogyakarta. Alumni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini membawakan program Kompas Sepekan, dan menjadi Produser beberapa program diantaranya Kompas Malam, dan Program Spesial Calon Presiden & Wakil Presiden. Banyak hal yang berkesan baginya saat menjalani pekerjaannya di bidang jurnalistik, seperti; meliput tragedi Tsunami Aceh tahun 2004, pengalaman paling menegangkan saat menyusuri wilayah terisolir akibat Tsunami Aceh, yakni di Leupung. Meliput kontak senjata antara RI dan GAM. Ia sempat berada di tengah kontak senjata berlangsung. Selain itu ia juga pernah meliput gempa Yogyakarta.

Ikuti Nina Melinda:
Paschalis Iswari Parahita

Pascalis bergabung bersama KompasTV sejak November 2015. Saat ini ia membawakan program Kompas Bisnis, Kompas Siang, dan Kompas Dunia. Mengawamkan berita ekonomi dan bisnis yang sangat rumit dan bisa dipahami oleh masyarakat, menjadi tantangan sehari-hari bagi Pascalis.

Ikuti Paschalis Iswari Parahita:
Radi Saputro

Jurnalis kelahiran Bandung ini memulai karirnya di KompasTV pada Januari 2013. Saat ini ia membawakan program Kompas Siang, dan Kompas Petang. Pengalaman mengesankan baginya adalah saat meliput Skandal Rekening Gendut oknum Polisi di Sorong, Papua Barat secara eksklusif. Serta, saat ia ditugaskan berangkat ke Russia untuk meliput pesta Sepak Bola Terakbar di Dunia, World Cup 2018.

Ikuti Radi Saputro:
Rahmat Ibrahim

Alumni Sastra Universitas Pasundan Bandung ini mulai menggeluti profesinya sebagai jurnalis pada tahun 2009. Dimulai dari menjadi presenter berita bahasa sunda di STV Bandung. Di tahun 2011, ia mulai bergabung bersama KompasTV Biro Jawa Barat, hingga akhirnya di tahun 2015 ia bertugas di KompasTV Jakarta. Saat ini ia membawakan sejumlah program seperti Kompas Pagi, Kompas Siang, Kompas Bisnis, Kompas Sahur, dan Kompas Petang.

Ikuti Rahmat Ibrahim:
Riko Anggara

Meliput rangkaian ibadah haji selama satu bulan memberinya kesempatan untuk sekaligus menunaikan ibadah haji tersebut. Hal ini menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi Riko selama ia menjadi jurnalis di KompasTV. Pria kelahiran Bogor ini sudah menggeluti profesi sebagai jurnalis sejak tahun 2002. Tidak sampai disitu, berkat ilmu dan pengalamannya, saat ini Riko juga aktif menjadi pengajar kelas Public Speaking.

Ikuti Riko Anggara:
Sofie Syarif

Alumni Royal Holloway College, University of London, Inggris (New Political Communications) ini mengawali karirnya di KompasTV pada tahun 2011. Sampai saat ini, Sofie sudah mengemban tanggung jawab untuk memproduksi sederet program seperti, Kompas Pagi, Kompas Siang, Kompas Petang, Kompas Dunia, Kompas Siang, Sapa Indonesia Siang. Ia juga menjadi host program Sapa Indonesia Malam.

Ikuti Sofie Syarif:
Stefani Ginting

Alumni Jurnalistik Universitas Padjajaran ini memulai karirnya di KompasTV pada tahun 2014. Pernah meliput bencana alam di Pengalengan, melakukan live report di waktu subuh menginformasikan bahwa para pengungsi harus tidur kedinginan dan membutuhkan bantuan kasur dan selimut. Setelah siaran, langsung datang 1 mobil box yang membawa kasur dan selimut. Pengalaman ini cukup mengesankan bagi Stefani selama ini menjalani profesinya sebagai jurnalis.

Ikuti Stefani Ginting:
Tily Rheabela

Rheabela memulai karirnya menjadi jurnalis sejak tahun 2014. Wanita asal Bangka Belitung ini memiliki motto hidup “Dream High, Jump Higher.” Sederet program KompasTV yang ia bawakan adalah Kompas Update, Kompas Pagi, Kompas Sport, dan Kompas Sahur Salah satu pengalaman berkesan baginya selama menjadi jurnalis ialah ketika ia harus berkeliling bandara Soekarno Hatta demi mendapatkan tiket ke Bali, dikarenakan harus melakukan tapping program dengan presiden. Namun ternyata tidak jadi berangkat.

Ikuti Tily Rheabela:
Timothy Marbun

Pria kelahiran Lhokseumawe, Aceh ini mulai bergabung bersama KompasTV pada tahun 2011. Sebelumnya, Timothy sudah lebih dahulu berkecimpung menjadi jurnalis di salah satu televisi berita di Indonesia. Dalam perjalanannya menjadi jurnalis, ia pernah mengemban tugas untuk meliput ke negara paling rawan di dunia, Afghanistan. Melihat langsung kondisi yang selama ini hanya bisa disaksikan di layar, dan berbicara langsung dengan penduduknya.

Ikuti Timothy Marbun:
Venny Melani Pryscilla

Jurnalis kelahiran Palembang ini memulai karirnya di KompasTV sejak tahun 2017. Venny adalah alumni Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan. Saat ini ia menjadi pembawa berita untuk program Target, dan Kompas Sport. Setiap ia melakukan liputan investigasi, ia mendapatkan banyak sekali pengalaman. Contohnya, ketika harus penelusuran dan candid camera ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang dijaga warga. Sampai harus dikejar-kejar warga dan juga ketika harus penelusuran dan candid cam ke sarang prostitusi.

Ikuti Venny Melani Pryscilla:
Woro Windrati

Alumni Master Komunikasi konsentrasi media Unversitas Pelita Harapan (UPH) ini sudah menggeluti profesi sebagai jurnalis selama 15 tahun. Wanita kelahiran Jakarta, 26 Maret 1981 ini sudah bergabung bersama KompasTV sejak tahun 2011. Program acara yang dibawakannya adalah Kompas Siang, Sapa Siang, Kompas Malam Megapolitan, Kompas Pagi, dan Kompas Petang.

Ikuti Woro Windrati:
Yan Rahman

Pria kelahiran Sukabumi, 30 Januari 1988 ini memulai awal karirnya di KompasTV pada tahun 2011. Mulai dari program Kompas Sport, Kompas Pagi, Kompas Siang, hingga Kompas Malam pernah dibawakannya. Menurutnya selama ia bekerja di KompasTV, ia pernah mendapatkan pengalaman yang paling mengesankan. Yakni saat ditugaskan untuk meliput kawasan di distrik Mulia, Puncak Jaya, Papua. Kota terdingin di Indonesia dengan ketinggian 2.448 mdpl. Ketika itu ia meliput berbagai hal terutama kebiasaan dan budayanya.

Ikuti Yan Rahman:
Yulika Satria Daya

Pengalaman seru sebagai jurnalis banyak terjadi, salah satunya adalah pengalaman ketika Yulika mewawancarai Carlos Puyol & Karl-Heinz Riedle. Pria kelahiran Teluk Betung, 5 Juli 1979 ini bergabung bersama KompasTV pada tahun 2015. Saat ini ia fokus membawakan program Kompas Sport. Motto hidupnya adalah “If you’re doing something and having fun, it means you’re doing right.”

Ikuti Yulika Satria Daya:
Close Ads x
NEWSTICKER
05:50
GUBERNUR DKI ANIES BASWEDAN TARGETKAN STADION PERSIJA RAMPUNG PADA 2021   PEMKOT MALANG AKAN REVITALISASI TIGA PASAR RAKYAT PADA 2021   KEMENDIKBUD: PENDIDIKAN ANAK USIA DINI UNTUK KESIAPAN KEHIDUPAN ANAK YANG LEBIH BAIK   MENDIKBUD NADIEM MAKARIM: SEKOLAH TATAP MUKA HARUS SEIZIN PERWAKILAN ORANGTUA   PEMKAB MANGGARAI BARAT, NTT, AJUKAN BANTUAN BAGI 1.000 KELOMPOK USAHA BERSAMA (KUBE) KE KEMENSOS UNTUK 2021   SATGAS COVID-19 DENPASAR LIBATKAN TNI-POLRI CEGAH KERUMUNAN DI PILKADA 2020   SATGAS COVID-19 TAK IZINKAN JAZZ GUNUNG DIGELAR MESKI BROMO ZONA HIJAU   SATGAS COVID-19 MINTA MASYARAKAT TETAP WASPADA JELANG LIBUR PANJANG AKHIR TAHUN   JUBIR SATGAS COVID-19 WIKU ADISASMITO PASTIKAN PERSIAPAN VAKSIN UNTUK PENANGANAN KORONA BERJALAN BAIK   MENRISTEK BAMBANG BRODJONEGORO DORONG PENGUATAN EKOSISTEM RISET DAN INOVASI NASIONAL   KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN SEBUT UU CIPTA KERJA PERMUDAH USAHA PENGOLAHAN IKAN   KEMENPERIN MINTA SDM INDUSTRI ADAPTIF DI TENGAH DISRUPSI TEKNOLOGI   KEMENPERIN SIAPKAN STRATEGI BANGUN SDM INDUSTRI YANG KOMPETEN UNTUK TINGKATKAN DAYA SAING   MENDESA PDTT: DANA DESA BOLEH DIGUNAKAN APA SAJA SELAMA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN UU YANG BERLAKU