> >

Curigai Gerak-Gerik Kapal Tanker Berbendera Yunani, Bakamla RI Langsung Usir dari Perairan Indonesia

Peristiwa | 14 Desember 2021, 18:44 WIB
Kapal Bakamla KN. Ular Laut - 405 mengusir kapal asing berbendera Yunani dari Laut Banda. (Sumber: Humas Bakamla RI)

BANDA, KOMPAS.TV - Pantauan Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI atau Indonesia Coast Guard menemukan sebuah kapal asing jenis tanker dengan gerak-gerik mencurigakan di tengah Laut Banda pada Senin (13/12/2021) malam.

Kabag Humas Bakamla RI Kolonel Bakamla Dr. Wisnu Pramandita menjelaskam, kapal itu berhenti tepat di tengah jalur lintas kapal. Pihak Bakamla menilai tindakan kru kapal itu dapat mengganggu ketertiban  di jalur lintas kapal.

KN (Kapal Negara) Ular Laut - 405 Bakamla RI pun mendekati kapal itu dan berusaha melakukan komunikasi lewat radio. Kru kapal tanker berbendera Yunani itu mengaku sedang menunggu antrian untuk berlabuh di Australia.

Baca Juga: Bakamla akan Sampaikan Konsep Strategi Atasi Polemik Perairan Natuna ke Kementerian Pertahanan

"Kapten MT Maron Gass Olympias beralasan bahwa kapal berhenti dikarenakan menyesuaikan jadwal ketibaan di pelabuhan tujuan di Australia. Namun hal tersebut tidak dapat dimaklumi, karena berpotensi mengganggu ketertiban jalur lintas kapal," tutur Wisnu dalam keterangan tertulis, Selasa (14/12/2021).

Karena itu, pihak Bakamla pun menegur kru kapal dan memaksa MT Maron Gass Olympias itu untuk segera angkat kaki dari perairan Indonesia, tepatnya dari sebelah barat Pulau Buru.

"Menanggapi teguran dari KN Ular Laut - 405, MT Maron Gass Olympias langsung mengubah haluan ke barat dan meninggalkan Laut Banda menuju Australia, ujar Kolonel Wisnu.

Kapal Asing di Perairan Indonesia

Sejak lama, kapal-kapal asing mengeruk untung di perairan Indonesia, salah satunya lewat pengambilan ikan ilegal atau illegal fishing. Misalnya, kapal-kapal berbendera Vietnam atau China kerap masuk ke perairan Indonesia tanpa terdeteksi sejak awal.

"Padahal, potensi kelautan kita sungguh melimpah. Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan, potensi perikanan tangkap laut Indonesia pada tahun 2020 berada pada peringkat terbesar ke-3 di dunia setelah China dan Peru. Indonesia menyumbang 8 persen dari produksi dunia," kata Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan, Selasa (14/9/2021). 

Baca Juga: Petani Mengeluh Soal Impor Bawang, Jokowi Langsung Telepon Mendag

Indonesia kehilangan potensi pendapatan yang fantastis setiap tahunnya. Misalnya, data Indonesian Justice Intiative (IOJI) mengestimasi kerugian Indonesia dari praktik illegal fishing sebesar USD 4 miliar atau setara Rp56,13 triliun setiap tahun.

Apabila pemerintah mampu mengoptimalkan sumber daya kelautan yang melimpah tersebut, Syarief yakin Indonesia tidak perlu banyak berutang.

"Padahal langkahnya tidak rumit, yaitu memperkuat pengelolaan dan penjagaan kawasan maritim. Bakamla harus diberikan dukungan yang optimal untuk mampu menjaga sumber daya kelautan dari penjarahan oleh pihak asing atau berbagai praktik ilegal lainnya," kata Syarief.
   
"Penguatan Bakamla tidak boleh hanya terbatas pada aspek kelembagaan semata. Namun harus nyata terlihat pada dukungan anggaran, sarana, prasarana, dan peremajaan teknologi pendukung dalam menjalankan tugasnya sebagai penanggung jawab keamanan laut," imbuhnya.

Baca Juga: Jokowi Resmikan 4 Embung Bernilai Miliaran Rupiah di Jawa Tengah

Penulis : Ahmad Zuhad Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU