> >

Sensor Mandiri: Kolaborasi LSF dan Komunikasi UMM dalam Penguatan Literasi Film

Budaya | 11 Juni 2021, 04:05 WIB
Para peserta dan narasumber berfoto bersama setelah mengikuti seminar perfilman nasional, Sensor Film di antara Kebebasan Berkreasi dan Menjaga Budaya Bangsa, Rabu (9/6/2021) (Sumber: Istimewa)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia kini tengah mengupayakan penguatan literasi film di Tanah Air, contohnya yakni gerakan Sensor Mandiri.

Untuk itu, bersama Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), LSF pun menggelar seminar perfilman nasional yang bertajuk Sensor Film di antara Kebebasan Berkreasi dan Menjaga Budaya Bangsa, Rabu (9/6/2021).

Ketua LSF, Rommy Fibri Hardiyanto percaya kampus memiliki peran strategis dalam memperkuat kajian kritis sekaligus literasi publik terhadap film.

"Kami memerlukan mitra strategis seperti Komunikasi UMM ini. Karena LSF tidak akan mampu menjangkau semua film yang diproduksi untuk disensornya," jelas Rommy.

Baca Juga: Ingin Lindungi Anak dari Konten Porno, Bintang Film Dewasa Ini Minta Tak Ada Lagi Situs Panas Gratis

Rommy menerangkan, gerakan Sensor Mandiri hadir sebagai bentuk jawaban untuk kondisi 'tsunami tontonan' yang sedang terjadi saat ini.

Yaitu kondisi di mana masyarakat dibanjiri film-film dari berbagai platform, baik itu bioskop, televisi, hingga digital publik, yang justru lebih bebas untuk dipilih dan ditonton.

“Di sinilah urgensinya Sensor Mandiri. (Konsep gerakan Sensor Mandiri) masyarakatlah yang harus memilih dan memilah sendiri tontonan yang sehat untuk diri sendiri dan keluarganya,” ungkap Rommy.

Secara tidak langsung, menurut Rommy, masyarakat akan diajak untuk ikut menjadi bagian dari khalayak film yang kritis.

Baca Juga: Review Film: Cruella, Tokoh dari Disney dengan Dua Kepribadian

Selain itu, Rommy mengatakan, LSF kemudian tidak akan lagi menjadi tukang potong film setelah gerakan tersbut mulai digencarka pada tahun ini.

“Paradigma baru LSF bukan lagi menggunting film, tetapi berdialog dengan produser film," ujar Rommy.

Seperti menentukan batas usia penonton, mendiskusikan adegan yang perlu direvisi atau dihilangkan, sampai menemukan titik temu yang tidak mengganggu jalan cerita film tetapi juga tetap menjaga nilai-nilai budaya bangsa.

Sebab sebelumnya, narasumber lain yang juga merupakan dosen Komunikasi UMM, Nasrullah menyatakan film berada di antara tiga posisi strategis.

Baca Juga: Akun Instagram WatchDoc dan Twitter Film KPK EndGame Diretas, Dandhy Laksono: Panitia Nobar Diteror

Mulai dari, film sebagai industri yang tidak hanya melibatkan insan film di bidang produksi, tepai juga distribusi dan penayangannya.

Film juga merupakan media komunikasi massa, yang isi dan cara pembawaannya dapat dimaksudkan untuk propaganda hingga agitasi.

“Kekuatan film sangat dahsyat mempengaruhi khalayak, seperti film propaganda anti-vaksinasi di Amerika Serikat, yaitu Vaxxed,” kata Nasrullah.

Hingga, film pun bisa menjadi produk budaya yang penting, lantaran sebuah film tak jarang memuat lansekap peradaban yang memperlihatkan perkembangan suatu bangsa.

"Jika Korea dapat mengguncang dunia melalui Korean Wave, maka seharusnya Indonesia bisa menggerakkan anak-anak muda di belahan dunia lain untuk menggandrungi kuliner rendang, tarian pendet, kepulauan di Labuhan Bajo atau Raja Ampat,” tandasnya.

Penulis : Aryo Sumbogo Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU