> >

Jurnalis Inggris Digugat Pemilik Chelsea Terkait Buku Kebangkitan Mantan Agen KGB Putin

Kompas dunia | 29 Juli 2021, 06:03 WIB
Pemilik klub sepak bola Chelsea Roman Abramovich. Foto diambil di Gothenburg, Swedia, pada 16 Mei 2021. Abramovich menggugat seorang jurnalis Inggris dan penerbitnya atas pencemaran nama baik terkait sebuah buku yang mengisahkan tentang kebangkitan mantan agen KGB yang kini menjadi presiden Rusia, Vladimir Putin. (Sumber: AP Photo/Martin Meissner, File)

LONDON, KOMPAS.TV – Seorang jurnalis Inggris dan penerbitnya digugat atas pencemaran nama baik di pengadilan London pada Rabu (28/7/2021) dari miliuner pemilik klub sepak bola Chelsea Roman Abramovich. Gugatan pencemaran nama baik ini terkait sebuah buku tentang kebangkitan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Buku karya Catherine Belton yang bertitel “Putin's People: How the KGB Took Back Russia and then Took on the West” (”Orang-orang Putin: Bagaimana KBG Mengambil Alih Rusia, Lalu Barat”) menggambarkan kebangkitan mantan agen KGB – dinas rahasi Uni Soviet – Putin dan orang-orang dekatnya ke puncak kekayaan dan kekuasaan pasca perpecahan Uni Soviet pada 1991.

Presiden Rusia Vladimir Putin saat menghadiri pertemuan dengan sejumlah pejabat Rusia di St Petersburg, Rusia, Senin (26/7/2021). (Sumber: Alexei Nikolsky, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)

Belton, mantan koresponden Financial Times Moskow, dan penerbit HarperCollins digugat di Pengadilan Tinggi oleh Abramovich yang kelahiran Rusia.

Menurut Abramovich, klaim dalam buku yang menyebut bahwa ia membeli tim Chelsea pada 2003 atas arahan Putin adalah “salah dan fitnah”. Chelsea, yang bermain di Liga Premier, merupakan salah satu tim sepak bola paling kondang dunia.

Baca Juga: Pengakuan Mantan Agen KGB, Donald Trump Ternyata Aset Rusia

Pengacara Abramovich, Hugh Tomlinson, mengatakan, buku itu memberi kesan bahwa pembelian Chelsea merupakan “bagian dari skema untuk mengorupsi Barat, bertujuan untuk membangun blok di Inggris demi (memperluas) pengaruh Rusia.”

Andrea Caldecott, pengacara Belton dan HarperCollins menyatakan bahwa pembaca buku akan menyimpulkan “ada alasan untuk mencurigai Abramovich bertindak atas arahan Kremlin”. Namun, imbuh Caldecott, buku itu juga memuat “bantahan tegas” dari seseorang yang dekat dengan Abramovich.

Melansir Associated Press, sejumlah kelompok pendukung kebebasan berbicara mengungkapkan kekhawatiran mereka atas kasus ini. Menurut mereka, terlalu mudah bagi orang kaya untuk menggunakan pengadilan Inggris untuk membungkam kritik.

Baca Juga: Roman Abramovich Kucurkan Dana Rp 3 Triliun untuk Chelsea demi Gaet Erling Haaland

Belton juga digugat atas pencemaran nama baik oleh Rosneft, perusahaan energi milik Rusia. Sementara HarperCollins juga menghadapi gugatan dari pengusaha Rusia Mikhail Fridman dan bankir Rusia Petr Aven. Namun, Tomlinson menyebut pada Rabu (27/7/2021) bahwa gugatan-gugatan itu telah diselesaikan.

Menurut Tomlinson, pihak penerbit telah “setuju untuk secara efektif menghapus seluruh materi yang menjadi dasar tindakan penggugatan itu, dari edisi buku mendatang”.

Penerbit juga akan meminta maaf lantaran tak mendekati Fridman dan Aven sebelum publikasi untuk meminta komentar mereka atas pernyataan yang menyebut bahwa keduanya memiliki kaitan dengan KGB di awal karir mereka.

Baca Juga: Joe Biden Ancam Vladimir Putin jika Rusia Tak Hentikan Serangan Siber ke AS

Tomlinson mewakili Abramovich, Fridman dan Aven. Namun, di awal sidang pada Rabu (28/7/2021), ia membantah adanya “koordinasi” di antara para penggugat.

Dia, kata Tomlinson, telah dipekerjakan oleh ketiganya “secara kebetulan dan sepenuhnya secara mandiri.”

Tomlinson juga membantah bahwa klaim para penggugat Rusia itu merupakan serangan terhadap kebebasan berbicara dan jurnalisme. Menurutnya, buku itu “merupakan karya serius sejarah kontemporer, tapi sayangnya ada pengulangan ketidakakuratan yang (mencerminkan) kemalasan”.

Sidang yang dipimpin hakim Amanda Tipples itu dijadwalkan akan berlangsung selama 2 hari.

Penulis : Vyara Lestari Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Associated Press


TERBARU