> >

Boris Johnson Batalkan Kunjungan ke India dan Larang Pengunjung dari India Masuk ke Inggris

Kompas dunia | 20 April 2021, 05:20 WIB
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. (Sumber: Steve Parsons / Pool via AP)

LONDON, KOMPAS.TV – Perdana Menteri Inggris Boris Johnson membatalkan kunjungannya ke New Delhi, India karena krisis Covid-19 yang melanda negeri itu. Inggris juga memberlakukan larangan perjalanan bagi sebagian besar pengunjung dari India.

Pemerintah Inggris dan India menyatakan pada Senin (19/4/2021) bahwa, ”Seiring dengan kondisi Covid-19 yang ada saat ini, Johnson tak bisa mengunjungi India minggu depan seperti yang dijadwalkan sebelumnya.”

The Associated Press melansir pada Senin (19/4/2021), Johnson dan Perdana Menteri India Narendra Modi akan melakukan pembicaraan pada akhir bulan ini dan berencana melakukan pertemuan tatap muka pada pertengahan tahun ini.

Baca Juga: Covid-19 di India Semakin Parah, Salah Satunya Klaster Ritual di Sungai Gangga

Johnson mengatakan, “Sangat masuk akal untuk menunda perjalanan ke India, mengingat situasi dan kondisi pandemi di sana.” Ia berharap Modi dapat datang ke Inggris sebagai tamu undangan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 pada Juni mendatang.

Kunjungan yang telah direncanakan sejak lama itu seharusnya menjadi kunjungan luar negeri pertama Johnson sejak pandemi Covid-19 dimulai lebih dari setahun lalu. Semula, Johnson dijadwalkan berkunjung bulan Januari, tapi kemudian tertunda lantaran peningkatan penularan Covid-19 di Inggris.

Baca Juga: Ritual Mandi Massal di Sungai Gangga, 1.000 Orang Dinyatakan Positif Virus Corona

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock menyatakan, parlemen Inggris memasukkan India ke dalam "daftar merah" negara-negara dengan tingkat Covid-19 yang tinggi. Dimulai sejak Jumat, mereka yang sempat berada di India dalam jangka waktu 10 hari sebelumnya, tidak diijinkan masuk ke Inggris. Larangan ini dikecualikan bagi warga negara Inggris Raya, juga warga Inggris dan Irlandia yang kembali pulang. Namun, mereka harus menjalani karantina selama 10 hari di hotel sejak kedatangan.

Jutaan warga Inggris memiliki akar atau kerabat di India.

“Antara kedua negara ini – Inggris dan India – kami memiliki hubungan pertemanan dan keluarga,” kata Hancock. “Saya memahami akibat dari keputusan ini, tapi saya harap parlemen setuju bahwa kita harus bertindak.”

Baca Juga: Ritual Kumbh Mela di Sungai Gangga Hasilkan Lonjakan Kasus Positif Covid 19

Lebih lanjut, Hancock menyatakan bahwa Inggris telah mencatat 103 kasus varian baru virus corona yang pertama kali terdeteksi di India. Para ilmuwan tengah menyelidiki apakah varian itu menular lebih cepat atau lebih kebal terhadap vaksin yang ada ketimbang jenis virus aslinya.

Pada Senin (19/4/2021), India mencatat 273.810 kasus penularan baru, yang merupakan angka tertinggi sejak pandemi dimulai lebih dari setahun lalu. Kini, India melaporkan lebih dari 15 juta kasus penularan, yang merupakan jumlah terbanyak kedua setelah Amerika Serikat (AS).

Kementerian Kesehatan India juga melaporkan 1.619 kematian akibat Covid-19 selama 24 jam terakhir, hingga angka kematian akibat Covid-19 meningkat menjadi lebih dari 178.769 jiwa. India menjadi negara dengan jumlah kematian akibat Covid-19 terbanyak ke-4 setelah AS, Brasil dan Meksiko, namun populasi India jauh lebih banyak.

Penulis : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU