> >

Ungkap Penyebab Krisis Keuangan Garuda, Wamen BUMN: Banyak Sewa Pesawat dan Kemahalan

Bumn | 9 Juni 2021, 10:33 WIB
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (Sumber: Instagram @tiko1973)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan sejumlah penyebab krisis keuangan yang dialami Garuda Indonesia. Sewa pesawat yang banyak dengan harga yang mahal oleh manajemen Garuda menjadi bagian dari penyebab utama itu. 

"Memang jenis pesawat yang di sewa di masa lalu itu terlalu banyak dan sewanya kemahalan. Ini tentunya penyakit masa lalu Garuda, di mana cost structure-nya (struktur biaya) jauh melebihi dari maskapai-maskapai sejenis," kata Tiko dalam acara Business Talk Kompas TV, dikutip Rabu (09/06/2021).

Tiko mengatakan, keuangan perusahaan semakin terbebani saat pandemi melanda. Beban biaya Garuda Indonesia mencapai 150 juta dollar AS per bulan, yang digunakan untuk membayar sewa pesawat, perawatan pesawat, gaji karyawan, dan untuk membeli avtur.

Namun pendapatan yang dimiliki hanya 50 juta dollar AS. Artinya perusahaan merugi 100 juta dollar AS atau sekitar Rp1,43 triliun (kurs Rp 14.300 per dollar AS) setiap bulannya.

Baca Juga: Kurangi Beban Keuangan, Garuda Kembalikan 2 Pesawat Sewa yang Belum Jatuh Tempo

Sehingga, Garuda banyak menunda membayar kewajibannya, seperti membayar sewa pesawat ke perusahaan penyewa pesawat atau lessor. Serta kewajiban ke Angkasa Pura dan Pertamina.

"Tentunya dengan kondisi Covid-19, pendapatan menurun dan kondisi ini sudah berjalan setahun lebih. Oleh karena itu, memang selama ini yang dilakukan adalah penundaan pembayaran. Jadi sebenarnya, kalau kami mau jujur, dari dulu sudah banyak yang enggak dibayar kewajibannya," ujar Tiko.

Karena pembayarannya kerap tertunda, pihak lessor pun menarik pesawat mereka. Konsekuensinya, kode pesawat harus diubah. Salah satunya ada pesawat yang tadinya menggunakan kode PK (Indonesia) menjadi VQ (Bermuda).

Garuda juga baru saja mengembalikan 2 pesawat jenis Boeing 737-800 New Generation kepada pihak lessor. Padahal masa sewanya belum jatuh tempo. Alhasil, Garuda pun beroperasi dengan jumlah pesawat yang minimum.

Baca Juga: Penyelundupan Sepeda, Eks Dirut Garuda Dituntut 1 Tahun Penjara

"Jadi lessor ini punya hak buat grounded pesawat yang tidak di bayar kewajiban leasing-nya. Saat ini sudah banyak pesawat yang di-grounded oleh lessor-lessor ini, sehingga saat ini Garuda beroperasi minimum dengan 50 pesawat," jelas Tiko.

Sebelum pandemi, Garuda bisa melayani hingga 500 penerbangan setiap hari. Namun saat pandemi, jumlahnya anjlok menjadi hanya 20-30 penerbangan setiap hari.

"Jadi sekarang kami sedang lakukan kajian-kajian, dan melibatkan para adviser bagaimana tindakan-tindakan yang bisa kami lakukan bersama kreditur dan lessor," tambahnya.

Baca Juga: Meski Ada Program Pensiun Dini, Garuda Tetap Pertahankan 1.300 Pilot dan Kru Kabin

Saat ini Kementerian BUMN dan manajemen Garuda sedang memetakan dan bernegosiasi ulang dengan para lessor. Dari 36 lessor yang bekerja sama, diantaranya ada yang terlibat kasus korupsi dengan manajemen lama.

Namun, untuk lessor yang bersih tidak terlibat korupsi, pihak Garuda akan meminta mereka untuk menurunkan harga sewa pesawat, karena masih dalam kondisi pandemi.

Penulis : Dina Karina Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV


TERBARU