> >

Pengakuan Novak Djokovic: Pilih Kehilangan Trofi Grand Slam daripada Diwajibkan Vaksin Covid-19

Kompas sport | 15 Februari 2022, 18:36 WIB
Petenis Serbia Novak Djokovic saat merayakan kemenangannya atas petenis Italia Matteo Berrettini pada final tunggal putra pada hari ketiga belas Kejuaraan Tenis Wimbledon di London, Minggu, 11 Juli 2021. Djokovic mengaku pilih absen dari Grand Slam dibanding diwajibkan vaksin Covid-19. (Sumber: AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Petenis tunggal putra nomor satu dunia, Novak Djokovic, mengaku tidak ingin diidentikkan dengan gerakan antivaksin. Namun, ia tetap kukuh menolak divaksin atas alasan “kebebasan”.

Hal tersebut disampaikan petenis asal Serbia itu dalam wawancara dengan BBC yang dirilis pada Selasa (15/2/2022).

Novak Djokovic menuai sorotan ketika hendak berpartisipasi dalam Australia Terbuka pada Januari 2022 lalu. Alasannya, keenganannya divaksin Covid-19 memicu ontran-ontran yang berujung deportasi.

Djokovic ingin bertanding di Australia tanpa vaksin. Ia mengaku sudah mendapatkan “dispensasi medis” karena baru saja sembuh dari Covid-19.

Akan tetapi, Menteri Imigrasi Australia Alex Hawke mencabut visanya. Alasannya, ia khawatir keberadaan Djokovic bisa memicu “kericuhan” dan memperkuat sentimen antivaksin.

Petenis 34 tahun itu sempat mengajukan banding dan menang di pengadilan. Namun, keputusan final menyatakan bahwa sang petenis harus dideportasi.

Baca Juga: Pengadilan Australia: Djokovic dapat Menginspirasi Warga Australia yang Anti-Vaksin

Menanggapi insiden di Australia, Djokovic mengaku tidak antivaksin dan tidak mau disamakan dengan golongan itu. Ia mengaku pernah divaksin ketika kecil.

“Saya tidak pernah menentang vaksinasi. Namun, saya selalu mendukung kebebasan untuk memilih apa yang dimasukkan ke tubuh Anda,” kata Djokovic kepada BBC.

Alasan itu dipakai Djokovic untuk menegaskan sikapnya menolak divaksin Covid-19. Bahkan, ia rela kehilangan kesempatan bertanding di Grand Slam jika diwajibkan vaksin terlebih dulu.

“Ya, jika itu (tidak ikut Grand Slam) adalah harganya, saya mau saja membayar,” katanya.

Djokovic sendiri telah meraih 20 titel Grand Slam sepanjang kariernya. Di nomor tunggal putra, hanya Rafael Nadal yang memenangi trofi lebih banyak (21).

Apabila Djokovic melewatkan turnamen, ia kehilangan kans untuk mengkudeta Nadal sebagai petenis tunggal putra tersukses.

Menurut pengakuannya, ia rela membiarkan Nadal mengukir sejarah jika kewajiban vaksin Covid-19 masih disyaratkan.

“Prinsip kebebasan mengambil keputusan terhadap tubuh saya sendiri lebih penting dibanding trofi atau apa pun. Saya mencoba selaras dengan tubuh saya sebisa mungkin,” kata Djokovic.

Meskipun demikian, Djokovic tak menampik kemungkinan bahwa ia pada akhirnya akan mau divaksin Covid-19.

“Saya tidak menentang vaksinasi. Saya paham bahwa, secara global, semua orang berusaha keras menangani virus ini dan, semoga, melihat akhir yang sudah dekat bagi virus ini,” pungkas sang petenis.

Baca Juga: Penulis Biografi Novak Djokovic Klaim sang Petenis akan Suntik Vaksin Covid-19

 

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV/BBC


TERBARU