> >

KOMPAS 20 Mei 1998, Pak Harto: Saya Ini Kapok Jadi Presiden

Peristiwa | 20 Mei 2023, 13:37 WIB
Pengunjung menyaksikan bagian depan Koran KOMPAS edisi Mei 1998 yang menampilkan edisi kejatuhan Presiden Soeharto di acara pameran "Indonesia Kini, 25 Tahun Peristiwa Mei 1998" di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (19/5/2023). (Sumber: Kompas.TV/Iman Firdaus)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Mei 1998 suasana Jakarta sangat mencekam. Setelah aksi penembakan terhadap enam mahasiswa Trisakti, kemudian disusul kerusuhan dan pembakaran sejumlah gedung, kondisi politik pun sedang tidak stabil.

Di saat publik ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di internal pemerintahan, Harian KOMPAS pada Rabu 20 Mei 1998 menurunkan berita utama yang cukup mengagetkan, isinya, "Pak Harto: Saya Ini Kapok Jadi Presiden".

Baca Juga: KPK, Amanat Reformasi yang Kini Terus Jadi Sorotan

Paragraf awal berita menuliskan bahwa kedudukannya sebagai presiden bukanlah hal yang mutlak karena itu tidak masalah bila harus mundur.

"Bagi saya, sebetulnya mundur tidaknya itu tidak menjadi masalah. Yang perlu kita perhatikan itu, apakah dengan kemunduran saya itu kemudian keadaan ini akan segera bisa diatasi," ujarnya, dalam jumpa pers di Istana Merdeka, Selasa (19/5/1998).

Di pojok kanan atas tertera harga eceran koran itu di Pulau Jawa Rp1.100.

 

Judul berita besar itu ditambah dengan foto di bagian tengah ada sejumlah mahasiswa sedang menduduki gedung DPR, hingga naik ke atap yang sering disebut gedung kura-kura itu.

Mantan Pemimpin Redaksi Harian KOMPAS Budiman Tanuredjo, mengingat peristiwa tersebut. Namun, katanya, yang menarik bagi dia bukan judul itu, tapi pengumuman dari KOMPAS di bagian pojok kanan bawah.

"Waktu itu tanggal 21 Mei adalah hari libur Kenaikan Isa Almasih. Namun karena kondisi politik nasional, KOMPAS tetap terbit," ujarnya saat memberikan sambutan di Bentara Budaya Jakarta dalam acara pembukaan pameran Drawing Experimental dengan tajuk "Indonesia Kini, 25 Tahun Peristiwa Mei 1998, Jumat (19/5/2023).

Dan benar, besoknya 21 Mei 1998 Harian KOMPAS tetap terbit dengan judul utama yang tak kalah heboh, "Selamat Datang Pemerintahan Baru" dengan foto Sri Sultan Hamengkubuwono X sedang berpidato di depan khalayak.

Judul yang seperti sudah meramalkan bahwa hari itu, Soeharto akan lengser. Dan judul itu tepat, sebab pada pukul 10.00 hari itu, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya.

"Butuh kalkulasi untuk membuat judul itu. Sebab kalau ternyata hari itu Soeharto tidak turun, maka habis KOMPAS," kata Budiman.

Baca Juga: Mengenang Kelamnya Aksi Rusuh Solo Mei 1998 saat Toko Dijarah dan Dibakar: Saya Merinding dan Takut

Sebagian Harian KOMPAS edisi jelang kejatuhan Soeharto pun dipamerkan dalam acara ini, lengkap dengan foto-foto kala itu. Termasuk foto ketika Direktur Dana Moneter Internasional (IMF) Michel Camdesuss dalam posisi bersidekap ikut menyaksikan Soeharto sedang menandatangani dokumen.  


 

Penulis : Iman Firdaus Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU