> >

Penyebab Elektabilitas Partai pendukung Pemerintah Cenderung Stagnan dan Menurun

Rumah pemilu | 21 Juni 2022, 23:12 WIB
Elektabilitas Parpol sesuai hasil Survei Litbang Kompas (Sumber: Tangkapan layar YouTube Kompas TV/Ninuk)

“Ini menarik untuk dicermati, karena konsistensi Demokrat menjadi oposisi ini menjadi salah satu faktor elektabilitasnya menjadi naik,” tuturnya.

Bahkan, tutur Anita, pada survei sebelumnya, elektabilitas Partai Demokrat itu sempat anjlok di angka lima persen.

Menurutnya, konsisitensi Partai Demokrat ini sebenarnya bisa dilihat dari pengalaman PDIP tahun sebelum Pemilu 2014.

Pada akhir 2012, hasil survei Litbang Kompas merilis elektabilitas PDIP waktu itu hanya 14 persen.  Kemudian pada survei yang digelar tahun 2013, elektabilitas PDIP mulai naik.

“Kalau enggak salah 23,6 persenan. Desember 2012 masih 13,3 persen.”

Walaupun, saat itu peningkatan elektabilitas PDIP tidak bisa lepas dari faktor keberadaan Jokowi.

Tetapi, ia melihat bahwa faktor konsistensi PDIP sebagai partai oposisi juga menjadi penyebab meningkatnya elektabilitas.

Stagnasi partai-partai pendukung pemerintah, menurutnya perlu diwaspadai. Sebab tidak menutup kemungkinan elektabilitasnya bisa menurun jika mereka salah langkah, misalnya membuat kebijakan yang tidak prorakyat.

“Sebenarnya kembali saja ke fungsi partai politik. Fungsi partai politik itu kan sarana komunikasi politik, sosialisasi politik, rekruitmen politik, dan pengatur konflik di masyarakat,” jelasnya.

Persoalannya, lanjut Anita, saat ini partai politik itu hanya melakukan fungsi rekruitmen politik, yang sebenarnya juga tidak maksimal.

Sebab, banyak dari partai politik yang gagal dalam melakukan kaderisasi, seperti merekrut kader partai lain sebagai capres.

“Itu kan sebenarnya kegagalan partai politik. Ya itu yang dilakukan, partai politik hanya sebatas rekruitmen, melakukan seleksi kepemimpinan.”

Baca Juga: Survei Litbang Kompas: Tingkat Kepuasan Publik Terhadap Jokowi – Ma’ruf Menurun

Dia berpendapat, yang seharusnya dilakukan partai politik adalah fungsi sarana komunikasi politik, termasuk tugas dan fungsinya sebagai agregator dan artikulator kepentingan masyarakat.

“Jadi bagaimana parpol menyerap suara atau yang diinginkan masyarakat, kemudian diolah menjadi kebijakan yang prorakyat.”

Saat ini, misalnya masyarakat sudah mulai rasional, mereka akan memilih partai politik yang benar-benar akan memperjuangkan kepentingan mereka.

Hal-hal semacam itulah yang seharusnya dilakukan agar elektabilitasnya meningkat.

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU