> >

Cerita Buruh Panggul Pelabuhan Merak, Sehari Cuma Dapat Rp30.000 dari Pemudik

Sosial | 27 April 2022, 13:11 WIB
Ilustrasi. Sejumlah kuli panggul atau buruh mengangkat barang milik penumpang KM Lambelu di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Sumber: Antara )

TANGERANG, KOMPAS.TV- Diperbolehkannya mudik lebaran tahun ini, disambut positif banyak pihak. Bukan hanya oleh masyarakat yang ingin pulang ke kampung halaman, tetapi juga oleh buruh panggul di Pelabuhan Merak, Tangerang, Banten.

Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan mudik diizinkan, mereka berharap arus mudik akan ramai dan membawa berkah bagi mereka. Lantaran, sudah 2 tahun mudik dilarang, yang otomatis membuat pendapatan mereka turun drastis.

Namun, rupanya efek pandemi memang belum hilang. Ucin, seorang buruh panggul berusia 60 tahun, hanya bisa membawa uang Rp30.000 ke rumahnya.

"Biasanya, pada H-6 bisa membawa uang ke rumah Rp300 ribu, namun kini hanya Rp30.000," kata Ucin seperti dikutip dari Antara, Rabu (27/4/2022).

Baca Juga: Ditinggal Pemiliknya Mudik, Kucing Bisa Staycation di Cat Shop

Menurut Ucin, uang segitu hanya bisa buat makan, itu pun masih kurang. Sedangkan jelang Lebaran, kebutuhan rumah tangga biasanya meningkat. Namun, karena anaknya sudah besar-besar, Ucin tak perlu pusing lagi membelikan baju Lebaran.

"Kami tentu mengeluh menurunnya pendapatan itu, terlebih sudah mendekati Lebaran," ujarnya.

Sepinya pengguna jasa buruh panggul dikarenakan banyak pemudik yang menggunakan mobil pribadi. Sehingga, mereka tidak perlu memindahkan barang.

Hal serupa juga dkeluhkan oleh Madali, buruh panggul yang merupakan warga asli Merak.

Baca Juga: PNS Kepulauan Riau Boleh Mudik Pakai Mobil Dinas, tapi Ada Syaratnya

"Kami pada H-7 Senin (25/4) normalnya sudah mengantongi Rp400 ribu, namun saat ini hanya Rp35 ribu," ucap Madali.

Mereka sangat berharap dengan banyaknya barang yang bisa dipanggul. Karena mereka tidak bisa setiap hari bekerja di pelabuhan dan harus bergantian dengan orang lain.

"Kami hari ini bekerja, nanti Rabu besok diganti orang lain," tutur Madali yang sudah 40 tahun menjadi buruh panggul.

Baca Juga: Pantauan Pelabuhan Merak Hingga Penempatan Satgas Kawal Pemudik untuk Cegah Kejahatan di Area Rawan

Ia mengatakan, sebagai jasa pengantar barang milik penumpang, ia tidak mematok bayaran, namun menyerahkan pada keikhlasan pemudik. Terkadang, pemudik memberikan upah jasa Rp15.000, juga terkadang Rp50.000. Bahkan juga terkadang ada pemudik yang tidak mengasih uang. 

Pendapatan buruh panggul, diakuinya bisa membantu ekonomi keluarganya.

"Kami sebagai jasa angkutan hanya seikhlas pemberian pemudik," sebutnya. 

 

Penulis : Dina Karina Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Antara


TERBARU