> >

Cerita Pengungsi Suriah dan Mahasiswa Ukraina Selamat dari Gempa Turki, Kembali Teringat Perang

Kompas dunia | 7 Februari 2023, 13:22 WIB
Tim penyelamat mencari korban gempa melalui puing-puing bangunan yang runtuh di kota Harem dekat perbatasan Turki, provinsi Idlib, Suriah, Senin, 6 Februari 2023. Korban jiwa menembus 4.000 orang di kedua negara seperti laporan Associated Press, sementara ribuan masih terjebak di bawah puing-puing. (Sumber: AP Photo/Ghaith Alsayed)

ISTANBUL, KOMPAS.TV - Dua orang pengungsi yang tinggal di salah satu wilayah dekat pusat gempa Turki, Gaziantep, mengaku teringat kondisi perang di negara mereka saat terjadi gempa dahsyat pada Senin (6/2/2023).

Pengungsi Suriah Utara, Kasem al-Abrash mengaku pikirannya langsung tertuju ke Idlib, Suriah saat terjadi guncangan gempa berkekuatan M7,8 di Povinsi Kahramanmaras, Turki.

“Di Suriah saya belajar untuk mengelola situasi seperti ini, tetapi saya tidak pernah menyangka harus menghidupkan kembali trauma itu lagi,” ucapnya, dilansir dari Al-Jazeera, Senin (6/2).

Senin dini hari, ia terbangun dan segera berlari ke bawah gedung apartemen yang kemudian roboh di sebagian titik.

Kasem pun mengaku familiar dengan kondisi bangunan runtuh di sekitar tempat tinggalnya di Turki itu. Menurutnya, reruntuhan bangunan tersebut mirip dengan kondisi bangunan yang hancur akibat konflik di Suriah.

“Kami sudah harus berurusan dengan pengalaman traumatis dari konflik Suriah. Sekarang kami berada beberapa kilometer dari perbatasan, sepertinya sejarah terulang kembali. Dan kami harus menghadapi trauma lain lagi,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Upaya Penyelamatan Korban Gempa Turki, Teriakan Pilu Terdengar dari Balik Reruntuhan

Senada, mahasiswa dari Ukraina, Karina Horlach, mengaku terkejut dan langsung bangun dari tempat tidurnya karena getaran dahsyat pada Senin dini hari waktu setempat.

Guncangan gempa yang belakangan menghancurkan ribuan bangunan di Turki dan Suriah itu membuatnya teringat kondisi terakhir saat ia berada di Ukraina yang sedang berperang dengan Rusia.

“Ini bulan Februari, dan tepat satu tahun yang lalu saya terbangun oleh ranjang yang bergetar,” kata Horlach dengan nada panik. 

Penulis : Nadia Intan Fajarlie Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV/Al Jazeera


TERBARU