> >

Peringatan Rusia: Kelakuan Amerika Bisa Timbulkan Eskalasi Tak Terduga dan Konflik Kekuatan Nuklir

Krisis rusia ukraina | 16 Agustus 2022, 17:00 WIB
Sebuah roket Rusia yang ditembakkan dari daerah perbatasan Belgorod menuju Ukraina. Foto diambil di Kharkiv, Ukraina, 11 Agustus 2022. Pada Senin (15/8/2022),  Kedutaan Besar Rusia untuk Amerika Serikat (AS) merilis pernyataan bahwa sederet kebijakan Washington dianggap tidak memedulikan kepentingan dan keamanan negara lain meningkatkan risiko konflik nuklir. (Sumber: Vadim Belikov/Associated Press)

WASHINGTON, KOMPAS.TV - Kedutaan Besar Rusia untuk Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa sederet kebijakan Washington yang dianggap tidak memedulikan kepentingan dan keamanan negara lain meningkatkan risiko konflik nuklir.

Peringatan itu dirilis Kedutaan Rusia di Washington melalui kanal Telegram-nya pada Senin (15/8/2022).

“Hari ini, Amerika Serikat terus mengambil tindakan tanpa mengindahkan kepentingan dan keamanan negara lain, yang mana turut meningkatkan risiko nuklir,” tulis pernyataan Kedutaan Rusia di Washington sebagaimana dikutip TASS.

“Langkah-langkah AS meningkatkan keterlibatan dalam konfrontasi hibrida dengan Rusia dalam konteks krisis Ukraina penuh dengan eskalasi tak terduga dan (potensi) bentrok militer langsung antara kekuatan nuklir dunia,” lanjut pernyataan tersebut.

Washington sendiri menjadi penyokong militer Ukraina terbesar dalam menghadapi invasi Rusia. Sejak Joe Biden memerintah, AS telah mengirimkan bantuan militer senilai 9,8 miliar dolar ke Ukraina.

Baca Juga: Putin Promosikan Senjata Rusia, Siap Jual Senjata Presisi Tinggi dan Kerja Sama Teknologi Militer

AS juga aktif menggalang sanksi untuk menjepit ekonomi Rusia karena menginvasi Ukraina. Di ranah diplomatik, Washington pun aktif mengupayakan eksklusi Moskow dalam forum-forum internasional seperti KTT G20.

Lebih lanjut, Kedutaan Rusia juga mengkritik tindakan AS yang mundur secara sepihak dari perjanjian-perjanjian keamanan internasional seperti Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF) dan Traktat Langit Terbuka.

“Ini terjadi di tengah upaya berjangka Washington untuk meninggalkan sistem kontrol senjata dan non-proliferasi (nuklir) yang telah berdiri sejak lama,” sambung pernyataan Kedutaan Rusia di Washington.

Rusia pun mendamprat AS yang menuduh Kremlin tak bertanggung jawab dalam urusan nuklir. Belakangan ini, akibat serangkaian insiden ledakan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia, Ukraina, AS menuduh Moskow menggunakan “tameng nuklir” dalam invasinya.

PLTN Zaporizhzhia sendiri diduduki Rusia sejak awal Maret lalu. Insiden ledakan di PLTN terbesar Eropa ini dikhawatirkan memicu bancana nuklir.

Kiev dan Moskow saling menyalahkan atas serangkaian insiden ledakan di dekat fasilitas nuklir Zaporizhzhia dua pekan belakangan.

“Kami menyarankan Washington harus melihat lebih dekat kebijakan nuklirnya sendiri daripada membuat tuduhan tak bersdasar terhadap negara-negara yang pandangan dunianya tidak sama dengan milik Amerika,” pungkas misi diplomatik Rusia di Washington.

Baca Juga: Mengenal Sukhoi Su-57, Jet Tempur Generasi Kelima yang Dibanggakan Rusia, Digunakan Gempur Ukraina

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV/TASS


TERBARU