> >

19 Negara Terancam Alami Kerusakan Total Sistem Kesehatan Akibat Kekurangan Oksigen

Kompas dunia | 27 Mei 2021, 07:01 WIB
Tenaga medis menangani seorang pasien di Rumah Sakit Jumbo Covid-19 di Mumbai, India, pada 26 April 2021. Infeksi baru membuat negara itu kelimpungan karena jumlah kasus yang terus meningkat. (Sumber: AP PHOTO/Rafiq Maqbool)

LONDON, KOMPAS.TV –Melansir The Guardian pada Selasa (25/5/2021), disebutkan terdapat 19 negara di dunia yang terancam mengalami kehancuran total sistem kesehatan akibat kekurangan oksigen.

Hal itu dikarenakan adanya gelombang tinggi kasus Covid-19.

Negara-negara itu di antaranya India, Argentina, Iran, Nepal, Filipina, Malaysia, Pakistan, Kosta Rika, Ekuador, dan Afrika Selatan.

Anggapan itu muncul setelah tercatat ada kenaikan besar dalam permintaan oksigen sejak Maret, setidaknya naik 20 persen saat vaksinasi kurang dari 20 persen populasi mereka.

Kekhawatiran juga muncul dari negara-negara Asia lain yang juga berisiko, seperti Laos, dan negara-negara Afrika meliputi Nigeria, Ethiopia, Malawi, dan Zimbabwe, yang memiliki sistem pengiriman oksigen yang kurang matang. Artinya, peningkatan kecil kebutuhan oksigen dapat menimbulkan masalah besar.

Baca juga: Ringankan Dampak Pandemi di India, Indonesia Kirim 1.400 Tabung dan Gas Oksigen

Koordinator Every Breath Counts Coalition, Leith Greenslade mengatakan, banyak dari negara-negara tersebut menghadapi kekurangan oksigen sebelum pandemi Covid-19. Every Breath Counts Coalition merupakan kemitraan swasta-publik untuk mendukung negara-negara terkena dampak ganda dari Covid-19 dan kematian anak akibat pneumonia.

Menurut Greenslade, kebutuhan ekstra mendorong sistem kesehatan ke tepi jurang.

“Situasi tahun lalu, dan lagi pada Januari tahun ini di Brasil dan Peru, seharusnya menjadi peringatan,” kata Greenslade.

“Tapi, dunia tidak sadar. Kita seharusnya tahu yang akan terjadi di India, setelah melihat apa yang terjadi di Amerika Latin. Dan sekarang melihat ke Asia, kita harus tahu ini akan terjadi di beberapa kota besar di Afrika,” lanjutnya.

Robert Matiru, Direktur Operasional UNITAID yang memimpin Satgas Darurat Oksigen Covid-19 dari WHO, mengatakan kepada Biro Investigasi Jurnalis, "Kami dapat melihat kehancuran total sistem kesehatan, terutama di negara-negara dengan sistem yang sangat rapuh," seperti dikutip dari Kompas.

Rumah sakit di India telah melaporkan kekurangan oksigen yang signifikan saat negara itu berjuang melawan gelombang kedua Covid-19.

Baca juga: Jual Perangkat Oksigen dengan Harga Tinggi, Pengusaha Restoran di India Ditangkap

Pada pertengahan Mei, India membutuhkan tambahan 15,5 juta meter kubik oksigen sehari hanya untuk pasien Covid-19, lebih dari 14 kali lipat dari yang dibutuhkan pada Maret, menurut analisis data biro tersebut.

Sebagai tanggapan, India telah melarang semua ekspor oksigen cair dan tabung. Tetapi para ahli mengkhawatirkan tetangga India, seperti Pakistan, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, dan Myanmar, beberapa di antaranya bergantung pada oksigen dan peralatan buatan India.

“Anda bisa membayangkan, jika mereka mulai melihat puncak (Covid-19) pada derajat yang sama, maka itu bisa menjadi lebih buruk, karena India membutuhkan semua pasokan (oksigen),” kata Zachary Katz, wakil presiden obat esensial di CHAI.

Di Nepal, data biro menunjukkan bahwa saat ini sedang membutuhkan lebih dari 100 kali lebih banyak oksigen dari pada yang dibutuhkan pada Maret.

Di Sri Lanka, permintaan oksigen telah meningkat 7 kali lipat sejak pertengahan Maret.

Kemudian di Pakistan, yang menderita gelombang ketiga Covid-19, hampir 60 persen lebih banyak pasien menggunakan oksigen di rumah sakit dari pada selama puncak negara itu sebelumnya pada musim panas lalu.

Menurut seorang menteri pemerintah, memperingatkan pada akhir April bahwa tekanan pada pasokan oksigen telah mencapai tingkat berbahaya.
 

Penulis : Baitur Rohman Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV


TERBARU