> >

Meski Tak Didukung Trump, Tim Transisi Biden Maju Terus

Kompas dunia | 19 November 2020, 03:06 WIB
Presiden AS Terpilih Joe Biden menggelar pertemuan virtual dengan sejumlah ahli keamanan nasional AS, di teater The Queen, Wilmington, AS, Selasa (17/11) waktu setempat. (Sumber: AP Photo / Andrew Harnik)

WILMINGTON, KOMPAS.TV – Penolakan Presiden Amerika Serikat (AS) petahana Donald Trump untuk bekerja sama, memaksa penggantinya, Presiden AS Tepilih Joe Biden untuk mencari solusi yang tidak biasa demi mempersiapkan diri dari ancaman kesehatan masyarakat dan tantangan keamanan nasional yang akan ia warisi dalam waktu 9 minggu ke depan.

Diblokir dari pengarahan intelijen resmi yang biasanya diberikan pada presiden yang baru, Biden menggelar rapat virtual pada Selasa dengan sejumlah ahli intelijen, pertahanan dan diplomatik. Namun, tak satu pun dari para ahli tersebut yang berafilisiasi dengan pemerintahan AS saat ini. Ini, menimbulkan pertanyaan tentang apakah Biden mendapat informasi paling mutakhir terkait ancaman bahaya yang dihadapi AS.

Baca Juga: NATO Kewalahan Jika AS Tarik Sebagian Pasukan Dari Afghanistan

Associated Press melaporkan pada Rabu (18/11) waktu setempat, di hari yang sama, Wakil Presiden (wapres) AS Terpilih Kamala Harris menerima pengarahan yang lebih formal sebagai anggota Komite Intelijen Senat, meskipun informasi tentang ancaman spesifik terhadap AS masih tetap terbatas.

Dan seiring pandemi yang kian memburuk, pemerintahan AS petahana juga memblokir Biden untuk berkolaborasi dengan tim respons Covid-19. Perwakilan Biden pun berencana bertemu langsung dengan sejumlah perusahaan farmasi pekan ini demi menentukan langkah terbaik untuk mendistribusikan setidaknya dua vaksin menjanjikan bagi ratusan juta rakyat AS, sebuah tantangan logistik terbesar yang dihadapi presiden baru AS dalam sejarah.

Baca Juga: Pfizer: Kami Menjalin Komunikasi dengan Tim Biden

Langkah-langkah ini mencerminkan bagaimana Biden menyesuaikan diri dengan transisi yang tegang secara historis. Tanpa tanda-tanda bahwa kubu Trump akan bersiap memfasilitasi transisi kekuasaan secara damai, Biden dan timnya harus bekerja menempuh berbagai opsi cadangan untuk melakukan yang terbaik demi mempersiapkan diri terhadap berbagai tantangan yang ia hadapi segera setelah ia menjabat pada Januari tahun depan.   

Menolak untuk mengkritisi Trump, pada Selasa, Biden mengakui bahwa ia “belum menerima pengarahan yang biasanya sudah ia terima saat ini” saat membuka pertemuan virtual dengan para ahli keamanan nasional. Pertemuan itu diikuti 12 peserta, yang tampak dalam layar video, termasuk di antaranya mantan Wakil Direktur CIA David Cohen, pensiunan Jenderal Stanley McChrystal dan Avril Haines, wakil penasehat keamanan nasional era Presiden Obama.

Pada para peserta pertemuan tersebut, Biden mengatakan, ia bersiap mewarisi “Negara yang terpecah belah dan dunia yang berantakan. Itulah mengapa saya membutuhkan Anda semua.”

Beberapa pekan setelah pemilihan presiden (pilpres) AS, Trump tetap memblokir akses Biden pada pengarahan-pengarahan dari pemerintahan petahana terkait situasi terkini pandemi dan keamanan nasional, dengan klaim tanpa bukti bahwa Biden bukanlah presiden terpilih yang sah karena adanya kecurangan dalam penghitungan suara. Pada 7 November lalu, kandidat Demokrat Biden telah mengalahkan rivalnya dari Partai Republik, dan strategi hukum Trump untuk menentang hasil pilpres gagal dengan cepat.  

Penulis : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU