> >

Enggak Mempan Dibor, Terowongan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Diledakkan

Ekonomi dan bisnis | 13 Oktober 2021, 10:38 WIB
Pengerjaan salah satu terowongan di Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Tidak semua terowongan bisa dibuat mengunakan bor, ada juga yang harus menggunakan teknik peledakan (belasting) sehingga membuat biaya bengkak. (Sumber: KCIC)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung terus menemui tantangan. Mulai dari pembengkakan biaya, BUMN sponsor yang kekurangan dana hingga negara turun tangan, sampai tantangan teknis konstruksi menghadapi kondisi geologis.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto mengatakan, ada 1 terowongan yang dekat dengan Bandung yang sulit dibangun.

Lantaran batuan yang akan dilewati terowongan tidak bisa dibor karena terlalu keras.

"Contoh ada 1 tunnel yang mendekat ke arah Bandung, di dalam itu ada batu yang tidak bisa dibor jadi harus di blasting (peledakan) ini makanya terjadi pembengkakan biaya," kata Septian kepada wartawan, Selasa (12/10/2021).

Baca Juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Pakai Duit APBN, Ini Alasan Kementerian BUMN

Dalam laporan PT KAI kepada DPR beberapa waktu lalu, disebutkan biaya pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung membengkak 1,9 miliar dollar AS atau Rp27 triliun rupiah (kurs Rp14.300). Sehingga, dana yang diperlukan meningkat, dari 6,07 miliar dollar AS  atau Rp85 triliun menjadi 7,97 miliar dollar AS atau Rp113 triliun.

Kebutuhan penambahan biaya proyek paling banyak terjadi pada biaya konstruksi sekitar 600 juta dollar AS hingga 1,25 miliar dollar AS dan pembebasan lahan sebesar 300 juta dollar AS.

"Untuk pengadaan tanah itu sudah mencapai Rp 15 triliun yang diinvestasikan, itu bukan angka kecil. Jadi saya kira ini bukan masalah pemerintah tidak konsisten (janji tak pakai APBN). Tapi ini penting untuk pengembangan wilayah Jakarta dan Bandung di masa depan," ujar Septian

Tadinya, proyek tersebut dikerjakan oleh PT Konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). KCIC terdiri dari 2 konsorsium, yaitu konsorsium Indonesia PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan konsorsium Beijing Yawan yang berisi sejumlah perusahaan China. 

Baca Juga: Anggota DPR Minta Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Diaudit, Ini Alasannya

Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti

Sumber :


TERBARU