> >

Ngaji Senthir Malam 21 Ramadan di Boyolali, Cara Mengingat Perjuangan Para Pendahulu

Beranda islami | 1 April 2024, 07:10 WIB
Sejumlah santriwati Pondok Pesantren Nurul Hidayah Almubarokah, Boyolali, Jawa Tengah, menyalakan lampu minyak sebelum mengikuti kegiatan Ngaji Senthir, Minggu (31/3/2024). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

BOYOLALI, KOMPAS.TV – Azan Isya beberapa belas menit lalu telah usai berkumandang, ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Hidayah Almubarokah baru saja selesai menunaikan ibadah salat Isya.

Satu per satu mereka berjalan dan berkumpul di halaman madrasah. Sebagian mereka menggenggam lampu minyak yang belum menyala, sedangkan tangan satunya mendekapkan Alquran ke dada mereka.

Tidak jauh dari madrasah, tepatnya di sebidang tanah lapang berukuran sedang, sejumlah santri lain sudah menyiapkan meja dan tikar serta peralatan pengeras suara.

Sejumlah meja berukuran kecil juga tertata rapi di tepi lapangan. Sepintas tidak terlalu kentara bahwa akan ada gelaran acara di tempat itu.

Malam itu, Minggu (31/3/2024) bertepatan dengan tanggal 20 Ramadan 1445 Hijriyah, atau dikenal dengan malam tanggal 21 Ramadan, atau memasuki 10 hari terakhir Bulan Suci Ramadan.

Sebagian umat Musim meyakini bahwa malam Lailatul Qadar akan hadir pada malam-malam tanggal ganjil di 10 hari akhir Bulan Ramadan.

Sejumlah santri Pondok Pesantren Nurul Hidayah Almubarokah, Boyolali, Jawa Tengah, bersiap mengikuti kegiatan Ngaji Senthir, Minggu (31/3/2024). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Pengelola Pondok Pesantren Nurul Hidayah Almubarokah, Andong, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menggelar kegiatan khusus pada malam tersebut, yakni ngaji senthir atau mengaji dengan penerangan dari lampu minyak.

Senthir sendiri berarti lampu minyak tanah dengan sumbu, yang dulu menjadi salah satu sumber penerangan.

Tak hanya menggunakan senthir, para santri dan santriwati serta pengasuh pondok menggunakan obor bambu dalam kegiatan ngaji senthir.

Beberapa menit setelah seluruh santri berkumpul di halaman madrasah, satu per satu obor dan senthir tersebut dinyalakan.

Santri yang obornya belum menyala kemudian membakar sumbu obor dengan cara menempelkan ke obor santri lain yang telah menyala.

Asap tipis dari nyala obor mengepul dan meliuk tertiup angin malam yang terkadang bertiup cukup kencang dan memadamkan api beberapa obor serta senthir.

Setelah semua siap, ratusan santri dan pengasuh pondok pesantren pun berbaris menuju tanah lapang tempat mereka akan mengaji bersama menyambut malam selikur atau malam 21.

Mengingat Perjuangan Pendahulu

Setibanya mereka di lapangan, para santri segera menuju tempat masing-masing. Santriwati mengaji di sisi kiri lapangan dan santri putra di sisi kanan. Sementara pengasuh pondok pesantren menempati meja yang disediakan di sisi depan.

Baca Juga: Bulan Ramadan, Yuk Isi Waktu Luang dengan Belajar Seni Melukis Kaligrafi!

Suara pengasuh pondok terdengar jelas dari pengeras suara yang terpasang. Ia memimpin para santri membaca kitab suci Alquran.

Para santri dengan khusyuk membaca Alquran yang ada di tangan masing-masing, dengan penerangan obor dan lampu senthir.

Sejumlah santri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah Almubarokah, Boyolali, Jawa Tengah, berjalan menuju lapangan lokasi Ngaji Senthir, Minggu (31/3/2024). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Beberapa santri terpaksa menyalakan kembali senthir yang mereka bawa saat angin certiup cukup kencang dan memadamkan pelita.

Beberapa santri terlihat bekerja sama menjaga agar lampu minyak mereka tidak padam, mereka mencoba melindungi api dengan telapak tangannya agar tak terkena tiupan angin.

Seusai kegiatan, seorang pengurus sekaligus pengasuh di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Almubarokah, Muhammad Fathan Syakifuddin, menjelaskan pelaksanaan kegiatan ngaji senthir.

Penggunaan obor atau senthir tersebut, kata dia, sebagai pengingat perjagan para pendahulu dalam mempelajari Alquran.

“Obor atau oncor, supaya jadi pengingat bahwasanya pada zaman dahulu para nenek moyang kita, para pendahulu kita itu ketika membaca Alquran seperti itu, membawa oncor,” ucapnya.

Dengan mengingat perjuangan para pendahulu yang tidak mudah dalam mempelajari Alquran, diharapkan para santri akan semakin bersemangat dalam menuntut ilmu.

“Bagaimana rasanya biar anak-anak, para santri itu tahu, bagaimana rasanya jerih payah untuk mengaji, untuk membaca kalam-kalam Allah, bagaimana sulitnya.”

Dua santriwati Pondok Pesantren Nurul Hidayah Almubarokah, Boyolali, Jawa Tengah, saling membantu menyalakan lampu minyak atau senthir sebagai penerang pada kegiatan Ngaji Snthir, Minggu (31/3/2024). (Sumber: Kompas.TV/Kurniawan Eka Mulyana)

“Jadi supaya anak-anak bisa berpikir, muhasabah diri bahwasanya sulitnya membaca Alquran,” tambahnya.

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU