> >

Madu Wanagama, Madu ala Peneliti UGM dengan Proses Tidak Lazim

Berita daerah | 9 November 2020, 12:03 WIB
Madu Wanagama yang dikembangkan peneiti UGM (Sumber: istimewa)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV- Peneliti UGM mengembangkan madu yang diberi nama Madu Wanagama seiring dengan membaiknya ekosistem hutan wanagama. Pengembangan madu ini juga sebagai alaternatif mata pencaharian warga sekitar.

Madu Wanagama dikembangkan dari lebah yang berada di area hutan pendidikan Wanagama seluas 622.25 hektar. Madu yang digunakan berasal dari jenis Apis cerana, dan bukan Apis mellifera yang kerap dibudidayakan untuk skala industri.

Apis cerana adalah lebah lokal Indonesia, serupa dengan Apis dorsata dan jenis lebah lain yang hidup di hutan, sedangkan Apis mellifera berasal dari Australia dan dibudidayakan intensif oleh peternak lebah.

“Arah pengembangan kehutanan ke depan adalah menghasilkan hasil hutan non-kayu seperti madu yang berfungsi sebagai pangan fungsional untuk kesehatan masyarakat dan membantu penyerbukan tanaman hutan dan pertanian,” ujar Dwiko Budi Permadi, peneliti Fakultas Kehutanan UGM, Senin (9/11/2020).

Baca Juga: Juruh Lontar. Gula Cair Dengan Rasa Seperti Madu

Pengembangan madu ternyata sudah dimulai sejak lama, tepatnya pada 1980-an. Ketika itu Wanagama menjadi tempat uji coba spesies yang cepat tumbuh, salah satunya Acacia mangium untuk menghasilkan kayu pulp yang unggul.

Mangium ternyata menghasilkan nektar ekstra floral dari ketiak daunnya, sehingga cocok jadi habitat lebah Apis cerana. Mangium sering mengeluarkan nektar di luar nektar bunga, yang berbunga hanya setahun sekali.

Suatu saat, mangium ditebang karena sudah tua dan terserang penyakit. Akibatnya, koloni lebah banyak yang hijrah dan menurun dan berdampak pada penurunan produksi madu.

Masyarakat sekitar dan pengelola Wanagama akhirnya sadar untuk tetap mempertahankan penghasil nektar dan polen sebagai sumber pakan lebah. Madu Wanagama pun dijaga ketat agar tidak diberi tambahan pakan selain nektar dan polen.

“Ini yang membedakan dari madu budidaya yang sering diberi tambahan pakan buatan bukan dari nektar,” ucap Dwiko.

Penulis : Switzy-Sabandar

Sumber : Kompas TV


TERBARU