> >

TNI Siaga Penuh, Kapal China Terpantau Sudah Tinggalkan Natuna

Berita kompas tv | 10 Januari 2020, 15:10 WIB

Meski kapal-kapal China, diidentifikasi mulai meninggalkan perairan Natuna, namun pengamanan terus ditingkatkan.

TNI bahkan mengerahkan KRI Usman Harun, serta empat jet tempur untuk patroli laut dan udara.
Klaim China dan masuknya sejumlah kapal asing, ke Wilayah Zona Ekonomi Ekslusif membuat pengamanan di perairan Natuna, terus ditingkatkan.

TNI bahkan memberangkatkan KRI Usman Harun, untuk patroli pengaman laut Natuna sebagai bagian peningkatan pengamanan. Selain kapal, empat jet tempur juga dikerahkan untuk melakukan patroli udara di perairan Natuna. Keempat jet tempur F-16 diterbangkan dari pangkalan udara di Pekanbaru, Riau.

Sebelumnya, pada Rabu 8 Januari lalu, Presiden Joko Widodo, berkunjung ke Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Presiden datang untuk membagikan 26 ribu sertifikat tanah kepada warga. Di tengah kunjungannya, Presiden juga mengecek kesiapan kapal perang, yang ditugaskan di tapal batas utara.

Presiden menegaskan bahwa Natuna adalah bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menyatakan Kepulauan Natuna masuk ke dalam wilayah NKRI.
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Sisriadi menjelaskan, kapal-kapal China telah meninggalkan Natuna, tak lama setelah Presiden datang.

Operasi penjagaan secara rutin untuk mengawal kawasan Natuna akan terus dilakukan oleh TNI.
Senada dengan hal itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, meyakini kapal China mulai meninggalkan wilayah Natuna Utara, berdasarkan informasi dari Badan Keamanan Laut.

Bakamla melaporkan Kapal China terdeteksi melakukan pergerakan, keluar dari wilayah Natuna Utara.
Tak hanya membuat tensi hubungan Indonesia - China sempat tegang. Nelayan Indonesia di perairan Natuna, juga mengeluhkan keberadaan kapal China yang kerap kali mencuri ikan dengan pukat, hingga sumber daya laut di Indonesia benurun.

Nelayan juga mengeluhkan alat yang kerap kali rusak, ketika kapal asing masuk ke Perairan Indonesia, serta mengurangi hasil pencarian nelayan lokal.
 

Penulis : Dea-Davina

Sumber : Kompas TV


TERBARU