> >

Survei Litbang Kompas: Elektabilitas Golkar Kalahkan Demokrat, Ada Pergeseran Suara Pemilih Anies

Politik | 21 Februari 2023, 07:35 WIB
Elektabilitas Partai Golkar kini naik dan mengalahkan elektabilitas Partai Demokrat. Hal itu terlihat dari hasil survei Litbang Kompas periode Januari 2023. (Sumber: Kompas.id)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Elektabilitas Partai Golkar naik dan mengalahkan elektabilitas Partai Demokrat. Hal itu terlihat dari hasil survei Litbang Kompas periode Januari 2023.

Elektabilitas Partai Demokrat turun 5,3 persen sehingga elektabilitasnya 8,7 persen. Sebaliknya, Golkar naik 1,1 persen, membuat elektabilitasnya menjadi 9 persen.

"Perubahan elektabilitas ini otomatis membuat Golkar menggeser posisi Demokrat yang dalam tiga periode survei pada 2022 selalu berada di peringkat ketiga," tulis Harian Kompas dalam laporannya, Selasa (21/2/2023).

Sementara itu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) kembali menempati posisi teratas dengan elektabilitas 22,9 persen atau naik 1,8 persen dibandingkan dengan survei Oktober 2022.

Peringkat kedua juga masih ditempati Partai Gerindra meski elektabilitasnya menurun 1,9 persen menjadi 14,3 persen.

Baca Juga: Golkar Ungkap Kemungkinan Zainudin Amali Mundur dari Jabatan Menpora

Berdasarkan Survei Litbang Kompas, penurunan elektabilitas Demokrat terjadi karena menurunnya proporsi responden pemilih bakal capres Nasdem yang juga didukung Demokrat, Anies Baswedan, di Demokrat, yakni dari semula 18,9 persen menjadi 11,3 persen.

Sedangkan proporsi responden pemilih Anies di Nasdem yang semula 4,6 persen melonjak jadi 22,6 persen. Hal itu sejalan dengan kenaikan elektabilitas Nasdem yang cukup signifikan atau 3 persen menjadi 7,3 persen.

Selanjutnya, responden yang belum menentukan pilihan 16,8 persen atau meningkat dari 12 persen pada survei Oktober 2022.

Wakil Ketua Umum Golkar Nurul Arifin menilai, naiknya elektabilitas Golkar karena masyarakat mengapresiasi kinerja pemerintah, terutama di sektor ekonomi. Seperti diketahui, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Baca Juga: Jubir Demokrat ke Hasto PDIP: Apa Kabar Harun Masiku?

"Namun, Golkar tak akan berpuas diri. Golkar akan terus berusaha meningkatkan elektabilitas dengan bergerak secara simultan, baik dengan menggencarkan organisasi, komunitas, serta perorangan yang terafiliasi partai, serta melalui semua jenis platform media sosial," kata Nurul dikutip dari Kompas.id.

Selain itu, ke depan, partai akan fokus untuk memikat pemilih yang belum menentukan pilihan.

Koordinator Juru Bicara Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan, turunnya lelektabilitas partainya hanya sementara. Demikian juga dengan lpergeseran suara pemilih Anies dari Demokrat ke Nasdem.

”Bisa saja pemilih kami berpindah ke Nasdem sebagai parpol pertama yang mengusung Anies, tetapi itu hanya sementara hingga kami menentukan sikap. Setelah Demokrat dan Anies kembali bersanding, elektabilitas kami akan naik lagi,” ujar Herzaky.

Di saat yang sama, Demokrat akan terus berupaya untuk mendekatkan diri dan bergerak selaras dengan aspirasi publik.

Baca Juga: Hadiri Kegiatan Pemuda Pancasila di Kaltim, Anies: Kita Ingin Indonesia Lebih Baik

Di antaranya dengan meminta bakal calon anggota legislatif dari Demokrat untuk semakin giat turun ke bawah dan membantu kebutuhan masyarakat. Aktivitas itu diminta ditingkatkan terutama mendekati masa pendaftaran bakal calon anggota legislatif pada awal Mei mendatang.

"Kami sudah lakukan apel siaga nasional kesiapan infrastruktur komunikasi strategis kampanye darat dan udara. Sebab kekuatan serangan di darat harus diiringi dengan narasi di media sosial dari kader organik Demokrat," tutur Herzaky.

Sementara itu elektabilitas parpol di peringkat ke enam hingga sepuluh adalah sebagai berikut, PKB: 6,1 persen, PKS: 4,8 persen.Lalu Perindo: 4,1 persen, PPP: 2,3 persen dan PAN: 1,6 persen.

Survei Litbang Kompas dilakukan melalui wawancara tatap muka dan diselenggarakan Litbang Kompas pada 25 Januari-4 Februari 2023. Sebanyak 1.202 responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 38 provinsi Indonesia. 

Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, margin of error penelitian ± 2,83 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana. Meskipun demikian, kesalahan di luar pemilihan sampel dimungkinkan terjadi.

Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas.id


TERBARU