> >

Saksi Kericuhan Stadion Kanjuruhan Sayangkan Penembakan Gas Air Mata ke Arah Tribun

Peristiwa | 2 Oktober 2022, 18:41 WIB
Korban selamat dari peristiwa kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Doni, menyayangkan penggunakan gas air mata oleh aparat kepolisian pada Sabtu (1/10). (Sumber: Tangkapan layar KOMPAS TV)

Ia mengaku tak dapat memastikan apakah kakak dan iparnya masih hidup saat itu.

“Saya kipasi aja,” kata Doni menceritakan kebingungannya kala itu.

Selain itu, ia mengatakan, melihat pihak keamanan membantu korban di sekitar pintu keluar Stadion Kanjuruhan.

“Ada polisi yang memberi air, melihat jenazah mas dan mbak saya itu ngasih minyak itu ada,” ujarnya.

Akan tetapi ia mengaku kesulitan menemukan pihak medis.

“Mungkin sama-sama sibuk, jadi saya enggak nemu, kalau keamanan ada,” terangnya.

Doni, yang saat kejadian kewalahan karena berusaha mencari pertolongan untuk kakaknya serta menjaga anak dan keponakannya, lantas melapor ke pihak berwenang.

"Kami lapor ke polisi cari medis, waktu itu sibuk semua," ungkapnya.

Kemudian, ia mendengar teriakan orang yang mengatakan bahwa pihak medis berada di pintu masuk VIP.

Baca Juga: Cerita Adeva Lihat Sepupunya Tewas dalam Kericuhan Kanjuruhan: Kami Boncengan dari Blitar

Ia pun meminta tolong kepada pihak keamanan yang berjaga, polisi maupun tentara yang ada di lokasi, untuk mengangkat dua kakaknya itu ke ruang medis.

"Waktu saya ke sana ada polisi dan tentara juga, saya minta tolong untuk memindahkan karena saya enggak kuat," ujarnya.

Doni lantas meminta tolong temannya untuk mengantar anak dan keponakannya pulang. 

Satu teman lainnya membantu Doni memantau kakaknya yang dibawa ke ruang medis.

"Saya masuk ke ruang medis, posisi itu sudah di musala kalau enggak salah. Teman saya mengabarkan kakak saya sudah meninggal dua-duanya," ujar Doni.

Doni mengaku menunggu ambulans lebih dari satu jam di ruangan medis. Tapi kemudian pihak keamanan mengimbau agar jenazah yang sudah teridentifikasi dibawa ke rumah sakit.

"Tentara bilang, yang sudah ada data saudara atau teman, ikut ke truknya tentara. Mau dibawa ke RSUD, mau divisum katanya," jelas Doni.

Sesampainya di rumah sakit, Doni melihat jenazah kakaknya bersama jenazah lain diletakkan berjejeran di area parkir karena kondisi rumah sakit yang penuh.

"Karena rumah sakitnya penuh, ditaruh di depan parkiran gitu jejer-jejer," ujarnya. 

"Terus dari pihak rumah sakit keluar mendata nama, alamat, umur," imbuhnya.

Setelah dicatat pihak rumah sakit, Doni mengaku menunggu tanpa kepastian hingga tiga jam lamanya. 

Ia pun berinisiatif untuk menelfon keluarga dan tetangganya untuk mengirimkan ambulans.

"Akhirnya saya telfon ke keluarga dan tetangga saya untuk membawa ambulans, karena saya dari awal sudah pesan nggak datang-datang," jelasnya.

Ia mengatakan dua jenazah dibawa mobil ambulans dan tiba di rumah duka pada Minggu (2/10) sekitar waktu subuh.

"Saya sampai ke rumah subuh, dua-duanya satu ambulans," ujar Doni.

Jenazah Yulianton dan istrinya, Devi, pun dimakamkan hari ini, Minggu (2/10/2022) pukul 09.00 WIB.

Mereka meninggalkan satu anak berusia sekitar sebelas tahun yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 5, MA.

Doni mengatakan kondisi MA masih trauma karena melihat kedua orangtuanya terinjak-injak saat berusaha menuju pintu keluar.

"Anaknya Mas Anton (M Yulianton) masih trauma, saya tanya 'tahu bapak ibu jatuh diinjak-injak?' dia mengangguk, tahu," ungkapnya.

Baca Juga: Pasutri Tewas dalam Kericuhan Stadion Kanjuruhan, Anak Trauma Melihat Orang Tuanya Terinjak-Injak

Ia pun berharap adanya perbaikan agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Ia menilai sepak bola sebagai hiburan rakyat. Ia juga mengaku sudah beberapa kali membawa anak menonton sepak bola.

Penulis : Nadia Intan Fajarlie Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU