> >

Khawatir Tawuran dan Keselamatan saat Street Race di Ancol, Warga Protes ke Kapolda

Peristiwa | 16 Januari 2022, 10:13 WIB
Anggota Karang taruna Pademangan Barat memasang poster mengenai keluhan mereka di lokasi street race. (Sumber: Karang Taruna Pademangan Barat)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Warga Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, mengkhawatirkan keselamatan mereka terkait adanya balapan atau street race yang difasilitasi Polda Metro Jaya di kawasan Ancol.

Melalui Karang Taruna Pademangan Barat, warga mengirimkan surat kepada Kapolda Metro Jaya untuk berdialog terkait hal tersebut.

"Yang dikeluhkan masyarakat dan tokoh-tokoh di wilayah Pademangan, khususnya warga di Pademangan Barat ini, mempertanyakan Kapolda, konsepnya seperti apa, keselamatan warga kami seperti apa dengan datangnya pembalap-pembalap dari mana saja," kata Ketua Karang Taruna Kelurahan Pademangan Barat, Ahdi Takur, Sabtu (15/1/2022).

Pihaknya telah mengirim surat kepada Kapolda Metro Jaya pada 14 Januari 2021. Namun, belum ada tanggapan apa pun hingga kini.

Baca Juga: Balap Liar atau Street Race Digelar di Ancol Hari Ini, Peserta Capai 350 Pembalap

Beberapa poin yang dikeluhkan dalam surat tersebut adalah soal terganggunya warga dengan kebisingan dan keramaian, ajang street race menjadi contoh tontonan membahayakan tidak baik bagi putra-putri warga.

Menurutnya, tidak ada sosialisasi kepada warga sekitar atas pelaksanaan balapan atau street race yang difasilitasi Polda Metro Jaya tersebut.

Ahdi menambahkan, munculnya perkumpulan orang-orang yang rentan menyebabkan tawuran menjadi kekhawatiran warga.

Terlebih, kata dia, di wilayahnya rawan gengster hingga kecelakaan.

"Jadi kami bukan minta dilibatkan, tapi tidak mengetahui konsepnya Kapolda ini, jadi kami mempertanyakan," kata dia.

Menurut dia, pihaknya tidak keberatan dengan pelaksanaan street race tersebut, bahkan mendukung. Mereka hanya meminta Kapolda memublikasikan maksud dan konsep acara tersebut.

"Kami tidak keberatan adanya ini, kami mendukung, cuma kami minta konsepnya dipublikasikan ke masyarakat kami bahwa warga ini tidak tahu apa-apa," kata Ahdi.

"Jangan sampai jadi contoh tidak baik bagi putra-putri kami di wilayah karena langsung berdekatan dengan masyarakat, 200 meter dampaknya. Motor tiap pagi-malam, prang preng prang preng, kami tidur tidak nyaman," sambung dia.

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Fadhilah

Sumber : Kompas.com


TERBARU