> >

Luhut: Kita Tegas, Posisi Indonesia Sebagai Penyeimbang Kekuatan AS dan China

Politik | 15 Desember 2021, 23:21 WIB
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken, di kantor Kemenko Marves (14/12/2021). (Sumber: Kemenko Marves )

JAKARTA, KOMPAS.TV - Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan menegaskan Indonesia merupakan negara penyeimbang antar dua kekuatan global, China dan Amerika Serikat.

Mantan Menkopolhukam ini juga menyatakan Indonesia tidak berpihak kepada satu kekuatan manapun, baik China maupun AS.

Menurutnya meski kerja sama Indonesia dengan kedua negara tersebut dapat saling menguntungkan, namun posisi Indonesia tetap berada sebagai penyeimbang tanpa berpihak kepada satu kekuatan manapun.

Baca Juga: Bertemu Menlu AS, Luhut Ajak AS Investasi di Hilirisasi Sumber Daya Alam

Termasuk soal konflik AS dan China di Laut China Selatan. Indonesia menyebutnya kawasan tersebut sebagai Laut Natuna Utara. 

Hal tersebut jugalah yang diutarakan Luhut saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken.

"Kalian ribut soal laut China Selatan, kami tidak ada masalah, tidak ada persoalan di situ. Tapi sepanjang menyangkut teritorial, integrity Indonesia, kita tidak pernah diskusi pada siapapun. Jadi firm (tegas) posisi kita," ujar Luhut dalam Webinar Arah Bisnis 2022, Rabu (15/12/2021).

Lebih lanjut Luhut juga menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara besar, negara kaya dan tidak perlu berpihak kepada satu kekuatan.

Baca Juga: Luhut Optimistis Tahun 2022 Pertumbuhan Ekonomi Bisa 5 Persen, Masyarakat Mulai Belanja

Pesan tersebut juga disampaikan saat kunjungannya ke China bertemu Menlu China Wang Yi, saat Luhut mengunjungi Provinsi Zhejiang, China pada 5 Desember 2021.

"Jadi kita posisikan Indonesia sebagai penyeimbang yang kuat. Dan kita bisa mengambil, saya kira, keuntungan untuk ramai-ramai dalam hal ini," ujar Luhut.

Luhut menambahkan dalam pertemuannya dengan Menlu Blinken, ia pun mengatakan Indonesia sudah berubah dari 15-20 tahun yang lalu.

Baca Juga: China Klaim Natuna Utara Miliknya, Minta Indonesia Hentikan Pengeboran Migas

Menurutnya salah besar jika AS tidak memandang Indonesia sebagai sebuah negara yang memiliki posisi penting.

"Saya katakan ke Antony, 'Kalian lupa Indonesia, tidak dihitung Indonesia. Saya pikir tidak bisa, tapi kalau kalian tidak mau hitung (Indonesia) tidak apa-apa. Kami bisa bertahan juga kok'. Jadi seperti itu pesan yang saya sampaikan ke mereka bahwa inilah Indonesia. Beda dengan Indonesia dengan 15-20 tahun yang lalu," ujarnya. 
 

Penulis : Johannes Mangihot Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU