> >

Meneladani Kisah Jenderal Hoegeng: Jawaban untuk Kondisi Kepolisian Masa Kini?

Sosok | 14 Oktober 2021, 21:50 WIB
Kepala Polri (1968-1971) Jenderal (Pol) Hoegeng Imam Santoso. (Sumber: Kompas.id/Istimewa)

Setelah menjabat sebagai Kapolri, Hoegeng tak lantas mengakhiri pencapaiannya, namun justru membuka lebih banyak cita-cita lagi.

"Ketika akhirnya saya menjadi Kapolri pada 1968, saya punya banyak cita-cita (lagi)," ungkap Hoegeng, masih dalam buku Memoar: Senarai Kiprah Sejarah.

"Seperti orang lain pada umumnya, saya menaruh banyak harapan terhadap Orde Baru, karena menjanjikan koreksi total terhadap kesalahan Orde Lama," imbuhnya.

Meski begitu, Hoegeng mengakui bahwa tantangan dan harapan yang dihadapinya bertransformasi jauh lebih besar semasa mejalani kewajiban sebagai Kapolri.

"Tidak mudah menjadi polisi yang baik. Persoalan yang dihadapi polisi dari masa ke masa adalah soal citra. Dari sebutan prit jigo sampai citra tukang pukul tahanan."

Contohnya, Hoegeng sempat dibuat kewalahan saat berusaha menghilangkan kebiasaan prit jigo, yakni sebutan bagi polisi yang suka "damai" terhadap pelanggar lalu lintas.

Kedua, peraturan memakai helm yang diprakarsai oleh Hoegeng juga pernah dimanfaatkan oleh oknum polisi yang mengambil keuntungan dengan berbinis pelindung kepala itu.

Selain kedua gebrakan tersebut, ada pula kasus-kasus besar yang tak luput dari tangan dingin Hoegeng, seperti kasus penyelundupan tekstil ke Kostrad, kasus penyelundupan mobil mewah untuk pejabat oleh Robby Tjahyadi.

Hingga yang paling menggemparkan saat itu adalah kasus Sum Kuning, yaitu kasus pemerkosaan yang menimpa seorang penjual telur ayam berusia 18 tahun bernama Sumarijem.

Untuk memecahkan kasus Sum Kuning, Hoegeng pun langsung memanggil Komandan Polisi Yogyakarta AKBP Indrajoto dan Kapolda Jawa Tengah Kombes Suswono.

Pada Januari 1971, dibentuklah Tim Pemeriksa Sum Kuning yang bertugas mencari fakta-fakta terkait kasus tersebut.

Sayangnya, kasus Sum Kuning itu menjadi dedikasi terakhir Hoegeng sebagai polisi, karena ia kemudian memutuskan pensiun sebagai Kapolri setelah 10 terduga pemerkosa Sumarijem bersikeras tidak mengakui perbuatannya.

Akhirnya, pada 2 Oktober 1971, Hoegeng resmi mundur sebagai Kapolri dengan kesadaran bahwa ada kekuatan besar yang berusaha menghilangkan kasus Sum Kuning.

Baca Juga: Tagar #PercumaLaporPolisi yang Viral karena Kasus Luwu Timur, Harus Jadi Momentum Pembenahan Polisi

Hidup Sederhana

Semasa hidup, Jenderal Hoegeng beserta keluarganya tak pernah lepas dari kehidupan sederhana, bahkan setelah menjadi Kapolri sekali pun.

Ada satu masa, ketika tren bermain golf menyerang para pejabat negara, namun Hoegeng sama sekali tak tertarik untuk mengikutinya.

Alasannya sederhana, bagi Hoegeng, peralatan dan perlengkapan bermain golf itu terlalu mahal harganya dan ia tak ada cukup uang untuk membelinya.

Namun, keluhan justru datang dari seorang menteri yang hendak mengajak Hoegeng bermain "olahraga kalangan atas" itu, bahkan ia pun menawarinya stik golf.

Baca Juga: Kuasa Hukum Minta Mabes Polri Buka Gelar Perkara Khusus Kasus Pemerkosaan Anak di Luwu Timur

Dari kisah Jenderal Hoegeng di atas, para polisi era seakrang seharusnya bisa mengambil setidaknya satu nilai yang patut untuk diteladani.

Mengingat, hingga hari ini yang bertepatan dengan 100 tahun sejak kelahiran Jenderal Hoegeng di Pekalongan, Jawa Tengah, belum ada lagi sosok polisi yang betul-betul mengayomi masyarakat seperti beliau.

Terlebih, baru-baru ini banyak cerminan yang menunjukkan perangai aparat penegak hukum yang berkebalikan dengan dedikasi dan integritas Jenderal Hoegeng.

Mulai dari kasus pemerkosaan anak di Luwu Timur yang proses penyelidikannya sempat berhenti, serta yang teranyar yakni aksi polisi membanting seorang mahasiswa di Tangerang.

Dengan melihat dua kasus itu saja, dapat dibayangkan bagaimana pandangan masyarakat ke depannya terhadap polisi, jika tidak ada perubahan menuju lebih baik.

 

Penulis : Aryo Sumbogo Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU