> >

Ternyata Seseorang yang Negatif Covid-19 Bisa Menjadi Pengantar Virus, Ini Penjelasan Ahli

Update corona | 17 Juni 2021, 00:44 WIB
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio (Sumber: KOMPASTV/Venny Sinuraya)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Profesor Amin Soebandrio mengingatkan pentingnya isolasi mandiri bagi seseorang yang kontak erat dengan pihak terkonfirmasi positif Covid-19.

Sebab, menurut Prof Amin, seseorang yang kontak erat meski hasil tes negatif Covid-19 masih berpotensi untuk menjadi pengatar virus bagi orang lain. 

Apalagi saat ini varian baru seperti Delta dari India memiliki kecepatan penularan lebih tinggi dibanding varian Alpha asal Inggris dan varian virus corona biasa.

Baca Juga: Waspada Varian Delta, Lonjakan Kasus Covid-19 Terasa di Beberapa Wilayah Indonesia!

Prof Amin menjelaskan tes swab PCR yang paling sensitif untuk mendeteksi virus dalam tubuh memiliki limit deteksi. 

Meski dinyatakan negatif Covid-19, belum tentu seseorang yang kontak erat tidak membawa virus dalam tubuhnya .

"Jadi kalau virus di bawah limit of detection, maka dia (virus) ada di tubuh orang itu, karena belum tedeteksi. Tapi dia (virus) tetap bisa loncat ke orang lain. Kalau seseorang yang diloncati virus kekebalannya tidak bagus, maka virusnya dengan senang hati memperbanyak diri," ujar Amin Soebandrio di program Sapa Indonesia Malam Kompas TV, Rabu (16/6/2021).

Lebih lanjut Amin menjelaskan tingginya kecepatan penularan varian Delta juga membuat seseorang yang sudah mendapat vaksin tidak kebal 100 persen terhadap varian baru.

Baca Juga: Anies Ungkap Jakarta Hadapi Varian Baru Corona yang Lebih Mudah Menyebar

Hal ini dikarenakan virulensi atau kemampuan virus menimbulkan penyakit sudah melebihi kemampuan vaksin dalam melawan virus. 

Ia menjelaskan vaksin yang melindungi tubuh sesorang masih bisa melawan virus dengan jumlah tertentu. 

Namun jika seseorang tersebut terpapar virus dalam jumlah besar atau berkali-kali maka vaksin tidak akan sanggup. 

Baca Juga: Satgas Jemput Paksa Pasien Isolasi Mandiri di Rembang

"Contoh ekstremnya teman-teman yang bekerja di fasilitas kesehatan. Mungkin satu hari terpaparnya kecil. tetapi dia terpaparnya tiap hari. Ini menyebabkan dosis paparannya menjadi tinggi dan mengalahkan kekebalan yang dia miliki. Jadi lama-lama kekebalannya bisa diatasi dengan penyerangnya, karena belum pulih datang serangan besok lagi," ujar Amin.

"Pada masyarakat juga seperti itu. Kalau mereka setiap hari mengabaikan protokol kesehatan atau setiap hari atau dalam beberapa hari dia berada di kendaran umum misalnya atau menghadiri pertemuan secara berturut-turut itu juga meningkatkan risiko," sambung Amin. 

Untuk itu jugalah Prof Amin mengingatkan seseorang yang kontak erat dengan pihak terkonfirmasi positif Covid-19 harus melakukan isolasi mandiri sesuai masa inkubasi virus, walaupun hasil tes menyatakan negatif Covid-19 dan tanpa harus menunggu tes.

"Jadi orang-orang yang kontak erat kan sejak awal sudah diidentifikasi siapa saja dan ini harus diisolasi mandiri. Sebelum dites pun harus diisolasi mandiri kalau dia kontak erat," ujar Prof Amin. 

Baca Juga: Soal Kemampuan Vaksin Terhadap Varian Baru Virus Corona, Begini Penjelasan Satgas Covid-19

Penulis : Johannes Mangihot Editor : Fadhilah

Sumber : Kompas TV


TERBARU