> >

Pembunuhan 115 Warga Gaza Saat Konvoi Bantuan Jadi Tanda Kebijakan Israel Bikin Mati Kelaparan

Kompas dunia | 3 Maret 2024, 01:05 WIB
Kekacauan hasil tembakan berat Israel yang membunuh 115 warga Palestina saat berusaha mendapatkan karung tepung dari konvoi bantuan, mencerminkan keputusasaan ratusan ribu orang yang berjuang bertahan hidup di tengah kehancuran di Gaza utara setelah hampir lima bulan pertempuran antara Israel dan Hamas. (Sumber: Anadolu)

RAFAH, KOMPAS.TV - Kekacauan hasil tembakan berat Israel yang membunuh 115 warga Palestina saat berusaha mendapatkan karung tepung dari konvoi bantuan, mencerminkan keputusasaan ratusan ribu orang yang berjuang bertahan hidup di tengah kehancuran di Gaza utara setelah hampir lima bulan pertempuran antara Israel dan Hamas.

Warga menyatakan mereka terpaksa menggeledah tumpukan puing dan sampah untuk mencari makanan bagi anak-anak mereka, yang hanya bisa makan satu kali sehari.

Banyak keluarga bahkan sudah mulai mencampur makanan hewan dan burung dengan biji-bijian untuk membuat roti. Pejabat bantuan internasional menyatakan mereka menghadapi bencana kelaparan.

“Kami mati kelaparan,” ungkap Soad Abu Hussein, seorang janda dan ibu lima anak yang tinggal di sebuah sekolah di kamp pengungsi Jabaliya, Sabtu lalu.

Gaza utara menjadi sasaran utama konflik yang dimulai saat Hamas melancarkan serangan ke selatan Israel pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menyandera sekitar 250 orang.

Serangan darat, laut, dan udara Israel menghancurkan sebagian besar wilayah yang padat penduduk menjadi reruntuhan. Meski militer memberi instruksi pada warga Palestina untuk pindah ke selatan, diperkirakan sebanyak 300.000 orang memilih untuk tetap tinggal.

Kira-kira satu dari enam anak di bawah usia 2 tahun di utara mengalami malnutrisi akut dan kelaparan, "tingkat malnutrisi anak yang paling parah di dunia," ungkap Carl Skau, wakil direktur eksekutif Program Pangan Dunia WFP pekan ini. "Jika tidak ada perubahan, kelaparan akan segera terjadi di utara Gaza."

Keadaan ini menimbulkan keputusasaan di kalangan penduduk, sehingga mereka menyerbu truk pengirim bantuan makanan dan merebut apa yang bisa mereka dapatkan. Skau mengatakan, tindakan ini memaksa Program Pangan Dunia WFP untuk menunda pengiriman bantuan ke utara.

"Runtuhnya ketertiban sipil, didorong oleh keputusasaan semata-mata, menghalangi distribusi bantuan yang aman - dan kami memiliki kewajiban untuk melindungi staf kami," ujarnya.

Dalam kekerasan Kamis lalu, ratusan warga Gaza mendatangi kelompok 30 truk yang membawa bantuan ke Utara pada dini hari. Palestina menyatakan pasukan Israel di sekitarnya menembak ke arah kerumunan.

Baca Juga: Israel Akui Menembak Mati Lebih 100 Warga Gaza di Konvoi Bantuan, Berkilah Membela Diri

Warga Palestina yang terluka dalam serangan Israel saat menunggu bantuan kemanusiaan di pantai Kota Gaza dirawat di Rumah Sakit Shifa pada Kamis, 29 Februari 2024. (Sumber: AP Photo)

Israel berdalih mereka menembakkan tembakan peringatan ke arah kerumunan dan bersikeras banyak yang tewas terinjak-injak dalam kerumunan. Dokter di rumah sakit Gaza dan tim PBB yang mengunjungi rumah sakit di sana menyatakan banyak yang mati dan terluka karena ditembak dari belakang.

Ahmed Abdel Karim, yang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Kamal Adwan karena luka tembak di kakinya, mengatakan bahwa dia sudah menunggu selama dua hari di area tersebut sebelum konvoi pada hari Kamis datang.

"Semua orang menyerang dan maju ke truk-truk ini. Karena jumlahnya besar, saya tidak bisa mendapatkan tepung," katanya. Lalu dia ditembak oleh pasukan Israel, katanya.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Associated Press


TERBARU