> >

Unta Padati Area Wisata Jalur Sutra Lanzhou, China Pasang Lampu Lalu Lintas

Kompas dunia | 20 Februari 2024, 23:50 WIB
Para wisatawan menunggangi unta di Jalur Sutra kuno di Mingsha Mountain dan wisata Mata Air Yueya di Lanzhou, China. (Sumber: China Daily)

LANZHOU, KOMPAS.TV - Barisan unta berdiri di hadapan matahari yang tenggelam di atas bukit pasir yang tertutup salju, lonceng mereka membangkitkan keagungan Jalan Sutra kuno ketika bergaung di padang pasir.

Namun, alasan unta-unta itu berhenti, memiliki sentuhan modern yang jelas, yaitu lampu lalu lintas khusus unta. 

Terdapat dua belas lampu lalu lintas khusus unta di Mingsha Mountain dan wisata Mata Air Yueya, yang dikelilingi bukit pasir, di Provinsi Gansu di bagian barat laut China.

Lampu lalu lintas unik ini awalnya dirancang untuk mengurangi kemacetan di padang pasir. Pada 2023, lampu-lampu lalu lintas itu mendapatkan perhatian media dan kini menjadi objek wisata populer.

Wakil manajer umum, Wang Youxia, dari perusahaan yang bertanggung jawab atas operasional tempat wisata tersebut mengatakan lebih dari 3,7 juta wisatawan berkunjung pada 2023. Sebanyak 42 persen dari mereka memilih naik unta.

Sejak Desember 2023, jumlah pengunjung meningkat 22,6 persen dari periode yang sama pada tahun 2019, sebelum pandemi Covid-19.

Peningkatan signifikan dalam kedatangan wisatawan telah menghasilkan pendapatan yang signifikan bagi para penggembala unta lokal. Salah satunya, Zhao Wenlong.

Zhao, 42 tahun, adalah peternak unta berpengalaman dari desa Mata Air Yueya. Ia memiliki 21 unta.

Baca Juga: Ini Dia Unta Tercantik di Dunia Bernama Massakata, Pemenang Kontes Kecantikan Unta di Arab Saudi

Pada era 1990-an, sebelum area wisata Mata Air Yueya di Lanzhou, China, berdiri, hanya sedikit petani di desa tersebut yang terlibat dalam peternakan unta. (Sumber: China Daily)

Pada era 1990-an, sebelum area wisata berdiri, hanya sedikit petani di desa tersebut yang terlibat dalam peternakan unta. Penduduk setempat dulu mengandalkan budidaya aprikot sebagai sumber penghasilan utama mereka.

Namun, kedekatan desa itu dengan padang pasir berarti lahan pertanian seringkali diserbu badai pasir, menyebabkan hasil panen buruk dan penghasilan turun.

“Desa kami sangat miskin sehingga hampir tidak ada gadis yang bersedia menikahi pemuda dari sini,” kata kepala desa Qin Zuotao.

Perkembangan pariwisata yang pesat telah menimbulkan harapan akan kemakmuran, dan warga desa mulai mencoba peruntungan dalam bisnis berjalan-jalan dengan unta di tempat wisata tersebut.

Aktivitas wisatawan awalnya hanya berpose di atas punggung unta, tetapi secara bertahap, meningkat menjadi berjalan-jalan singkat dengan naik unta. Sekarang para wisatawan dapat melakukan perjalanan di atas unta selama satu jam di padang pasir.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : China Daily


TERBARU