> >

Bunker Nuklir Iran Disebut Terlalu Dalam untuk Ditembus Bom Termutakhir AS, Washington Ketar-ketir

Kompas dunia | 23 Mei 2023, 02:05 WIB
Fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Natanz. Dengan Iran kini memproduksi uranium dengan kadar mendekati senjata nuklir setelah runtuhnya perjanjian nuklir dengan negara-negara adidaya, instalasi ini menghambat upaya Barat untuk menghentikan Iran agar tidak mengembangkan bom nuklir karena diplomasi terkait program nuklirnya masih terhenti. (Sumber: AP Photo)

DUBAI, KOMPAS.TV - Dekat puncak Pegunungan Zagros di Iran tengah, para pekerja sedang membangun fasilitas nuklir yang sangat dalam di bawah tanah sehingga kemungkinan berada di luar jangkauan senjata terakhir Amerika Serikat (AS) yang dirancang untuk menghancurkan situs serupa.  

Demikian penilaian para ahli dan gambar satelit yang dianalisis oleh The Associated Press, Senin (22/5/2023).

Foto-foto dan video dari Planet Labs PBC menunjukkan Iran telah menggali terowongan di gunung dekat situs nuklir Natanz, yang telah beberapa kali diserang sabotase dalam konflik antara Teheran dengan Barat terkait program nuklirnya.

Seiring Iran yang kini memproduksi uranium dengan kadar mendekati senjata nuklir setelah runtuhnya perjanjian nuklir dengan negara-negara adidaya, instalasi ini menghambat upaya Barat untuk menghentikan Iran agar tidak mengembangkan bom nuklir. Pasalnya, diplomasi terkait program nuklir Iran masih mandek.

Penyelesaian fasilitas seperti ini "akan menjadi situasi yang mengerikan yang berisiko memicu eskalasi baru," kata Kelsey Davenport, direktur kebijakan nonproliferasi di Arms Control Association yang berbasis di Washington.

"Mengingat betapa dekatnya Iran dengan bom (nuklir), Iran punya sedikit ruang untuk meningkatkan programnya tanpa menabrak garis merah AS dan Israel. Jadi pada saat ini, eskalasi lebih lanjut meningkatkan risiko konflik."

Pembangunan di situs Natanz ini dilakukan lima tahun setelah Presiden Donald Trump secara sepihak menarik AS keluar dari perjanjian nuklir Iran. Trump berpendapat, perjanjian tersebut tidak membahas program rudal balistik Iran, maupun dukungannya terhadap milisi di Timur Tengah.

Namun, perjanjian itu secara ketat membatasi pengayaan uranium Iran hingga tingkat kekayaan 3,67%, hanya cukup untuk memasok pembangkit listrik sipil, dan membatasi stoknya hingga sekitar 300 kilogram (660 pon).

Sejak perjanjian nuklir itu runtuh, Iran mengatakan mereka memperkaya uranium hingga 60%, meskipun para inspektur baru-baru ini menemukan partikel uranium dari Iran yang memiliki tingkat kekayaan 83,7%. Ini hanya beberapa langkah pendek lagi sebelum mencapai ambang batas 90% uranium untuk senjata.

Baca Juga: Bertemu Penasihat Joe Biden, Menhan Israel Tegaskan Penolakan atas Perjanjian Nuklir Iran

Fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Natanz. Dengan Iran kini memproduksi uranium dengan kadar mendekati senjata nuklir setelah runtuhnya perjanjian nuklir dengan negara-negara adidaya, instalasi ini menghambat upaya Barat untuk menghentikan Iran agar tidak mengembangkan bom nuklir karena diplomasi terkait program nuklirnya masih terhenti. (Sumber: AP Photo)

Pada bulan Februari, para inspektur internasional memperkirakan stok uranium Iran meningkat lebih dari 10 kali lipat dari kesepakatan era Obama, dengan uranium yang cukup untuk membuat "beberapa" bom nuklir, menurut Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Presiden Joe Biden dan Perdana Menteri Israel telah menyatakan mereka tidak akan membiarkan Iran membangun senjata nuklir. "Kami percaya diplomasi adalah cara terbaik untuk mencapai tujuan itu, tetapi Presiden juga jelas, kami tidak menghilangkan pilihan apa pun dari atas meja," kata Gedung Putih dalam pernyataan yang dikirimkan kepada AP.

Republik Islam Iran membantah mereka ingin memiliki senjata nuklir, meskipun pejabat di Teheran kini secara terbuka membahas kemampuan mereka untuk mengembangkannya.

Misi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai tanggapan atas pertanyaan dari AP mengenai pembangunan tersebut, mengatakan, "Kegiatan nuklir damai Iran transparan dan di bawah pengawasan IAEA." Namun, Iran dituding membatasi akses bagi inspektur internasional itu selama bertahun-tahun.

Iran mengatakan pembangunan baru ini akan menggantikan pusat manufaktur sentrifugal di atas tanah di Natanz yang terkena ledakan dan kebakaran pada Juli 2020. Teheran menuding Israel pelaku kejadian tersebut, yang selama ini dicurigai terlibat dalam kampanye sabotase terhadap program Iran.

Teheran belum mengakui rencana lain untuk fasilitas ini, meskipun mereka harus mengumumkan situs tersebut kepada IAEA jika mereka berencana untuk memperkenalkan uranium ke dalamnya. IAEA yang berbasis di Wina tidak memberikan tanggapan terkait fasilitas bawah tanah baru ini.

Proyek baru ini sedang dibangun di sebelah Natanz, sekitar 225 kilometer di selatan Teheran. Natanz menjadi perhatian internasional sejak keberadaannya diketahui dua dekade yang lalu.

Dilindungi oleh rudal anti-pesawat, pagar, dan Pasukan Garda Revolusi paramiliter Iran, fasilitas ini membentang di atas area seluas 2,7 kilometer persegi di gurun yang gersang.

Baca Juga: Panas! Menteri Israel Ungkap Peluang Serang Pusat Nuklir Iran Beberapa Tahun Lagi

Foto tangkapan layar pada 17 April 2021 ini menunjukkan barisan mesin sentrifugal yang rusak akibat serangan sabotase di Fasilitas Pengayaan Uranium Natanz Iran. (Sumber: IRIB via AP, File)

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Associated Press


TERBARU