> >

Riset SIPRI: Jumlah Senjata Nuklir Dunia akan Melonjak (I)

Kompas dunia | 14 Juni 2022, 07:48 WIB
Peluncuran peluru kendali Hwasong-15 oleh Korea Utara pada 2017. Korea Utara merupakan salah satu dari segelintir negara yang memiliki senjata nuklir dan peluru kendali canggih, termasuk Hwasong-15 yang digadang bisa mencapai titik manapun di Amerika Serikat (Sumber: AP Photo/KCNA)

STOCKHOLM, KOMPAS.TV - Jumlah senjata nuklir global diprediksi melonjak dalam 10 tahun ke depan. Peringatan itu merupakan hasil utama penelitian Stockholm International Peace Reaserch (SIPRI) yang dirilis pada Senin (13/6/2022).

Sebelumnya, angka nuklir dunia telah turun lebih dari 70.000 hulu ledak sejak 1986, ketika Amerika Serikat dan Rusia mengakhiri Perang Dingin.

Penurunan juga terjadi pada awal 2022 di mana SIPRI memperkirakan total terdapat 12.705 hulu ledak di seluruh dunia. Jumlah itu berkurang 357 dari tahun 2021.

Akan tetapi, era pengurangan nuklir diprediksi berakhir selepas meletusnya perang Rusia-Ukraina. Hal itu dijelaskan oleh Hans Keistensen, Senior Asosiasi Program Senjata Pemusnah Massal SIPRI sekaligus Direktur Proyek Informasi Nuklir Federasi Ilmuwan Amerika (FAS).

"Ada indikasi yang jelas bahwa pengurangan senjata nuklir dunia sejak akhir Perang Dingin, kini telah berakhir," kata Hans Kristensen.

Baca Juga: Kisah Remaja yang Bantu Ukraina Mengintai Tentara Rusia

Wilfred Wan, Direktur Program Senjata Pemusnah Massal SIPRI menjelaskan rotorika nuklir sebagai strategi militer dianggap memperkuat kemungkinan lonjakan senjata nuklir.

"Semua negara bersenjata nuklir meningkatkan persenjataan mereka dan sebagian besar mempertajam retorika peran senjata nuklir dalam strategi militer mereka," ungkap Wan.

"Ini adalah tren yang sangat mengkhawatirkan," lanjutnya.

Diketahui pada 2022 terdapat sembilan negara dengan kekuatan nuklir dunia: Amerika Serikat, Rusia, Cina, Prancis, India, Israel, Pakistan dan Korea Utara serta Inggris. Mayoritas dari total nuklir dunia dimiliki oleh Amerika Serikat dan Rusia.

Penulis : Rofi Ali Majid Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV/SIPRI


TERBARU