> >

100 Hari Serangan Rusia ke Ukraina, Konflik Bersenjata Terburuk di Eropa yang Memilukan

Krisis rusia ukraina | 3 Juni 2022, 22:12 WIB
Nadiya Trubchaninova menangisi peti mati putranya, Vadym, yang dibunuh pada 30 Maret, diduga oleh tentara Rusia di Bucha, Ukraina. Tidak ada yang tahu berapa banyak warga sipil yang tewas dalam 100 hari sejak serangan Rusia ke Ukraina, tetapi satu hal yang pasti: jumlah korban mencapai puluhan ribu. (Sumber: AP Photo/Rodrigo Abd)

JENEWA, KOMPAS.TV — Seratus hari setelah invasi Rusia ke Ukraina, perang telah menggiring dunia hampir setiap hari pada adegan memilukan: mayat sipil di jalan-jalan Bucha, gedung teater yang meledak di Mariupol, kekacauan di stasiun kereta Kramatorsk setelah serangan rudal yang dituding dilakukan Rusia.

Gambar-gambar itu hanya menunjukkan sebagian dari gambaran keseluruhan tentang konflik bersenjata terburuk di Eropa dalam beberapa dekade.

Berikut adalah beberapa angka dan statistik yang terus bergerak dan kadang-kadang tidak pasti. Statistik ini menjelaskan lebih lanjut tentang kematian, kehancuran, perpindahan, dan kekacauan ekonomi yang ditimbulkan oleh perang saat mencapai tonggak sejarah 100 hari tanpa akhir yang terlihat, seperti yang dilaporkan oleh Associated Press, Jumat (3/6/2022)

Baca Juga: 100 Hari Serangan Rusia ke Ukraina, Ini Sederet Titik dalam Garis Waktu Konflik

Korban Manusia

Tidak ada yang benar-benar tahu berapa banyak kombatan atau warga sipil yang tewas, dan klaim korban oleh pejabat pemerintah baik Ukraina maupun Rusia, yang terkadang melebih-lebihkan atau mengecilkan angka mereka karena alasan hubungan masyarakat, dan hampir tidak mungkin diverifikasi.

Pejabat pemerintah, badan-badan PBB dan lain-lain yang melakukan tugas berat menghitung orang mati tidak selalu mendapatkan akses ke tempat-tempat di mana orang terbunuh.

Moskow merilis sedikit informasi tentang korban di antara pasukan dan sekutunya, namun tidak memberikan laporan kematian warga sipil di daerah-daerah di bawah kendalinya.

Di beberapa tempat, seperti kota Mariupol yang telah lama dikepung, yang berpotensi menjadi ladang pembunuhan terbesar dalam perang, pasukan Rusia dituduh berusaha menutupi kematian dan membuang mayat ke kuburan massal, mengaburkan jumlah korban secara keseluruhan.

Dengan semua peringatan itu, “setidaknya puluhan ribu” warga sipil Ukraina telah tewas sejauh ini, klaim Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy hari Kamis (2/6) dalam pidatonya kepada parlemen Luksemburg.

Baca Juga: Orang Kuat Kedua Rusia: AS Perang Lewat Proksi atas Rusia Hingga Orang Ukraina Terakhir

Mayat lelaki dengan tangan terikat di belakang terbaring di Bucha, Ukraina, Minggu, 3 April 2022. Angka dan statistik yang terus bergerak dan kadang-kadang tidak pasti, menjelaskan lebih lanjut tentang kematian, kehancuran, perpindahan, dan kekacauan ekonomi yang ditimbulkan oleh perang saat mencapai tonggak sejarah 100 hari tanpa akhir yang terlihat. (Sumber: AP Photo/Vadim Ghirda)

Di Mariupol saja, para pejabat Ukraina melaporkan lebih dari 21.000 warga sipil tewas. Sievierodonetsk, sebuah kota di wilayah timur Luhansk yang telah menjadi fokus ofensif Rusia, menyebabkan kematian langsung maupun tidak langsung sekitar 1.500 korban, menurut wali kota.

Perkiraan tersebut terdiri dari mereka yang terbunuh oleh serangan pasukan Rusia maupun Ukraina, dan mereka yang menyerah pada efek sekunder seperti kelaparan dan penyakit karena runtuhnya pasokan makanan dan layanan kesehatan.

Zelensky mengatakan minggu ini, 60 hingga 100 tentara Ukraina tewas dalam pertempuran setiap hari, dan sekitar 500 lainnya terluka.

Angka terakhir yang dirilis Rusia untuk pasukannya sendiri terjadi pada 25 Maret, ketika seorang jenderal mengatakan kepada media pemerintah bahwa 1.351 tentara telah tewas dan 3.825 terluka.

Pengamat Ukraina dan Barat mengatakan jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi: Zelenskyy mengatakan pada hari Kamis lebih dari 30.000 prajurit Rusia tewas, “lebih banyak dari kerugian Uni Soviet dalam 10 tahun perang di Afghanistan”. Pada akhir April, pemerintah Inggris memperkirakan kerugian Rusia mencapai 15.000 tentara tewas.

Berbicara dengan syarat anonim hari Rabu untuk membahas masalah intelijen, seorang pejabat Barat mengatakan, "Rusia masih mengalami korban, tetapi ... dalam jumlah yang lebih kecil." Pejabat itu memperkirakan sekitar 40.000 tentara Rusia terluka.

Di daerah kantong separatis yang didukung Moskow di Ukraina timur, pihak berwenang melaporkan lebih dari 1.300 personil hilang dan hampir 7.500 terluka di wilayah Donetsk, bersama dengan 477 warga sipil tewas dan hampir 2.400 terluka; ditambah 29 warga sipil tewas dan 60 terluka di Luhansk.

Baca Juga: Ukraina Akui 20 Persen Wilayahnya Dikuasai Rusia, Minta Bantuan Parlemen Luksemburg

Jasad tentara Rusia yang tewas di Ukraina pada masa awal serangan. Angka dan statistik yang terus bergerak dan kadang-kadang tidak pasti, menjelaskan lebih lanjut tentang kematian, kehancuran, perpindahan, dan kekacauan ekonomi yang ditimbulkan oleh perang saat mencapai tonggak sejarah 100 hari tanpa akhir yang terlihat. (Sumber: AP Photo/Vadim Ghirda)

Kehancuran Harta Benda Publik maupun Pribadi

Penembakan tanpa henti, pengeboman, dan serangan udara membuat banyak wilayah kota menjadi puing-puing.

Komisi hak asasi manusia parlemen Ukraina menuding militer Rusia menghancurkan hampir 38.000 bangunan tempat tinggal, membuat sekitar 220.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Hampir 1.900 fasilitas pendidikan dari taman kanak-kanak hingga sekolah dasar hingga universitas rusak, termasuk 180 hancur total, seperti diklaim Ukraina.

Kerugian infrastruktur lainnya termasuk 300 mobil dan 50 jembatan rel, 500 pabrik dan sekitar 500 rumah sakit yang rusak, menurut pejabat Ukraina.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO menghitung 296 serangan terhadap rumah sakit, ambulans dan pekerja medis di Ukraina tahun ini.

Pulang ke rumah

Badan pengungsi PBB UNHCR memperkirakan sekitar 6,8 juta orang pergi keluar dari Ukraina di beberapa titik selama konflik.

Tetapi sejak pertempuran mereda di daerah dekat Kiev dan di tempat lain, dan pasukan Rusia dikerahkan kembali ke timur dan selatan, sekitar 2,2 juta telah kembali ke negara itu, katanya.

Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB IOM memperkirakan, pada 23 Mei ada lebih dari 7,1 juta orang telantar secara internal, yaitu mereka yang meninggalkan rumah mereka tetapi tetap berada di negara itu. Jumlah tersebut turun dari lebih 8 juta dalam hitungan sebelumnya.

Baca Juga: 10 Negara Batasi Ekspor Pangan & Pupuk Akibat Perang Rusia-Ukraina

Ibu-ibu dan lansia menunggu pembagian bantuan makanan oleh Palang Merah Internasional di Bucha, April 2022. Angka dan statistik yang terus bergerak dan kadang-kadang tidak pasti, menjelaskan lebih lanjut tentang kematian, kehancuran, perpindahan, dan kekacauan ekonomi yang ditimbulkan oleh perang saat mencapai tonggak sejarah 100 hari tanpa akhir yang terlihat. (Sumber: AP Photo/Emilio Morenatti)

Wilayah yang Berpindah Tangan

Pejabat Ukraina mengatakan sebelum invasi Februari, Rusia menguasai sekitar 7 persen wilayah Ukraina termasuk Krimea, yang menurut Ukraina dianeksasi Rusia tahun 2014, ditambah wilayah yang dikuasai oleh separatis di Donetsk dan Luhansk. Pada hari Kamis, Zelensky mengatakan pasukan Rusia sekarang menguasai 20 persen dari negara itu.

Sementara garis depan terus bergeser, angka itu berarti tambahan 58.000 kilometer persegi yang kini berada di bawah kendali Rusia dan pasukan Donetsk serta Lugansk, total area yang sedikit lebih besar dari Kroasia atau sedikit lebih kecil dari negara bagian Virginia Barat di AS.

Hantaman Ekonomi bagi Rusia, lagi pun Ukraina

Barat memberlakukan sejumlah sanksi pembalasan terhadap Moskow termasuk di sektor minyak dan gas yang penting, dan Eropa mulai melepaskan diri dari ketergantungannya pada energi Rusia.

Evgeny Gontmakher, direktur akademik Dialog Eropa, menulis dalam sebuah makalah minggu ini bahwa Rusia saat ini menghadapi lebih dari 5.000 sanksi, lebih banyak daripada negara lain mana pun.

Sekitar $300 miliar emas Rusia dan cadangan devisa yang disimpan di Barat telah dibekukan oleh Amerika Serikat dan sekutu Baratnya, tambahnya, dan lalu lintas udara di negara itu turun dari 8,1 juta menjadi 5,2 juta penumpang antara Januari dan Maret.

Selain itu, Sekolah Ekonomi Kiev melaporkan lebih dari 1.000 perusahaan membatasi operasi mereka di Rusia.

Baca Juga: Pengakuan Zelensky: 60 hingga 100 Tentara Ukraina Terbunuh Setiap Hari di Pertempuran Lawan Rusia

Seorang anak melihat keluar jendela bus yang beruap saat warga sipil dievakuasi dari Irpin, di pinggiran Kyiv, Ukraina, 9 Maret 2022. Badan pengungsi PBB UNHCR memperkirakan sekitar 6,8 juta orang telah diusir dari Ukraina di beberapa titik sejak serangan Rusia (Sumber: AP Photo/Vadim Ghirda)

Indeks saham MOEX Rusia jatuh sekitar seperempat sejak sebelum invasi dan turun hampir 40 persen dari awal tahun.

Bank Sentral Rusia pekan lalu mengatakan inflasi tahunan mencapai 17,8 persen di bulan April. 

Ukraina, sementara itu melaporkan mereka menderita pukulan ekonomi yang mengejutkan, 35 persen dari PDB dihancurkan oleh perang.

“Kerugian langsung kami hari ini melebihi $600 miliar dollar AS,” kata Andriy Yermak, kepala kantor Zelensky, baru-baru ini.

Ukraina, produsen pertanian utama, mengatakan tidak dapat mengekspor sekitar 22 juta ton biji-bijian termasuk gandum, menuding mandeknya pengiriman gara-gara blokade Rusia atau penguasaan pelabuhan-pelabuhan utama Ukraina oleh Rusia.

Zelensky minggu ini menuduh Rusia mencuri setidaknya setengah juta ton biji-bijian selama serangan.

Baca Juga: ‘Serangan Gila’ Rusia Pukul Mundur Pasukan Ukraina di Sievierodonetsk, Setengah Kota Dikuasai Rusia

Petani gandum di Mesir. Mesir sedang mencoba meningkatkan produksi gandum dalam negerinya karena perang menekan pasokan gandum internasional, yang diandalkan oleh negara-negara Timur Tengah dan Afrika untuk memberi makan jutaan orang yang hidup dari roti bersubsidi. (Sumber: AP Photo/Amr Nabil, File)

Hantaman Ekonomi bagi Dunia

Dampaknya telah menyapu seluruh dunia, membuat biaya untuk barang-barang pokok meroket di atas inflasi yang padahal sudah berjalan lancar di banyak tempat sebelum serbuan Rusia.

Negara-negara berkembang saat ini sedang dipuntir sangat kuat oleh biaya makanan, bahan bakar dan pembiayaan yang lebih tinggi.

Harga minyak mentah di London dan New York meningkat sebesar 20 sampai 25 persen, mengakibatkan harga yang lebih tinggi di pompa bensin termasuk harga berbagai produk berbasis minyak bumi.

Pasokan gandum terganggu bagi negara-negara Afrika, yang mengimpor 44 persen gandum mereka dari Rusia dan Ukraina pada tahun-tahun sebelum serangan.

Bank Pembangunan Afrika melaporkan kenaikan 45 presen harga kontinental untuk biji-bijian, mempengaruhi segala sesuatu mulai dari couscous Mauritania hingga donat goreng yang dijual di Kongo.

Amin Awad, koordinator krisis PBB di Ukraina, mengatakan 1,4 miliar orang di seluruh dunia terpengaruh oleh kekurangan biji-bijian dan pupuk dari negara itu.

“Korban perang terhadap warga sipil ini tidak dapat diterima. Perang ini tidak memiliki pemenang,” katanya kepada wartawan di Jenewa melalui video dari Kyiv pada hari Jumat.

“Hari ini kami menandai tonggak sejarah yang tragis. Dan kami tahu apa yang paling dibutuhkan: mengakhiri perang ini.”

 

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Associated Press


TERBARU