> >

100 Hari Serangan Rusia ke Ukraina, Konflik Bersenjata Terburuk di Eropa yang Memilukan

Krisis rusia ukraina | 3 Juni 2022, 22:12 WIB
Nadiya Trubchaninova menangisi peti mati putranya, Vadym, yang dibunuh pada 30 Maret, diduga oleh tentara Rusia di Bucha, Ukraina. Tidak ada yang tahu berapa banyak warga sipil yang tewas dalam 100 hari sejak serangan Rusia ke Ukraina, tetapi satu hal yang pasti: jumlah korban mencapai puluhan ribu. (Sumber: AP Photo/Rodrigo Abd)

Tetapi sejak pertempuran mereda di daerah dekat Kiev dan di tempat lain, dan pasukan Rusia dikerahkan kembali ke timur dan selatan, sekitar 2,2 juta telah kembali ke negara itu, katanya.

Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB IOM memperkirakan, pada 23 Mei ada lebih dari 7,1 juta orang telantar secara internal, yaitu mereka yang meninggalkan rumah mereka tetapi tetap berada di negara itu. Jumlah tersebut turun dari lebih 8 juta dalam hitungan sebelumnya.

Baca Juga: 10 Negara Batasi Ekspor Pangan & Pupuk Akibat Perang Rusia-Ukraina

Ibu-ibu dan lansia menunggu pembagian bantuan makanan oleh Palang Merah Internasional di Bucha, April 2022. Angka dan statistik yang terus bergerak dan kadang-kadang tidak pasti, menjelaskan lebih lanjut tentang kematian, kehancuran, perpindahan, dan kekacauan ekonomi yang ditimbulkan oleh perang saat mencapai tonggak sejarah 100 hari tanpa akhir yang terlihat. (Sumber: AP Photo/Emilio Morenatti)

Wilayah yang Berpindah Tangan

Pejabat Ukraina mengatakan sebelum invasi Februari, Rusia menguasai sekitar 7 persen wilayah Ukraina termasuk Krimea, yang menurut Ukraina dianeksasi Rusia tahun 2014, ditambah wilayah yang dikuasai oleh separatis di Donetsk dan Luhansk. Pada hari Kamis, Zelensky mengatakan pasukan Rusia sekarang menguasai 20 persen dari negara itu.

Sementara garis depan terus bergeser, angka itu berarti tambahan 58.000 kilometer persegi yang kini berada di bawah kendali Rusia dan pasukan Donetsk serta Lugansk, total area yang sedikit lebih besar dari Kroasia atau sedikit lebih kecil dari negara bagian Virginia Barat di AS.

Hantaman Ekonomi bagi Rusia, lagi pun Ukraina

Barat memberlakukan sejumlah sanksi pembalasan terhadap Moskow termasuk di sektor minyak dan gas yang penting, dan Eropa mulai melepaskan diri dari ketergantungannya pada energi Rusia.

Evgeny Gontmakher, direktur akademik Dialog Eropa, menulis dalam sebuah makalah minggu ini bahwa Rusia saat ini menghadapi lebih dari 5.000 sanksi, lebih banyak daripada negara lain mana pun.

Sekitar $300 miliar emas Rusia dan cadangan devisa yang disimpan di Barat telah dibekukan oleh Amerika Serikat dan sekutu Baratnya, tambahnya, dan lalu lintas udara di negara itu turun dari 8,1 juta menjadi 5,2 juta penumpang antara Januari dan Maret.

Selain itu, Sekolah Ekonomi Kiev melaporkan lebih dari 1.000 perusahaan membatasi operasi mereka di Rusia.

Baca Juga: Pengakuan Zelensky: 60 hingga 100 Tentara Ukraina Terbunuh Setiap Hari di Pertempuran Lawan Rusia

Seorang anak melihat keluar jendela bus yang beruap saat warga sipil dievakuasi dari Irpin, di pinggiran Kyiv, Ukraina, 9 Maret 2022. Badan pengungsi PBB UNHCR memperkirakan sekitar 6,8 juta orang telah diusir dari Ukraina di beberapa titik sejak serangan Rusia (Sumber: AP Photo/Vadim Ghirda)

Indeks saham MOEX Rusia jatuh sekitar seperempat sejak sebelum invasi dan turun hampir 40 persen dari awal tahun.

Bank Sentral Rusia pekan lalu mengatakan inflasi tahunan mencapai 17,8 persen di bulan April. 

Ukraina, sementara itu melaporkan mereka menderita pukulan ekonomi yang mengejutkan, 35 persen dari PDB dihancurkan oleh perang.

“Kerugian langsung kami hari ini melebihi $600 miliar dollar AS,” kata Andriy Yermak, kepala kantor Zelensky, baru-baru ini.

Ukraina, produsen pertanian utama, mengatakan tidak dapat mengekspor sekitar 22 juta ton biji-bijian termasuk gandum, menuding mandeknya pengiriman gara-gara blokade Rusia atau penguasaan pelabuhan-pelabuhan utama Ukraina oleh Rusia.

Zelensky minggu ini menuduh Rusia mencuri setidaknya setengah juta ton biji-bijian selama serangan.

Baca Juga: ‘Serangan Gila’ Rusia Pukul Mundur Pasukan Ukraina di Sievierodonetsk, Setengah Kota Dikuasai Rusia

Petani gandum di Mesir. Mesir sedang mencoba meningkatkan produksi gandum dalam negerinya karena perang menekan pasokan gandum internasional, yang diandalkan oleh negara-negara Timur Tengah dan Afrika untuk memberi makan jutaan orang yang hidup dari roti bersubsidi. (Sumber: AP Photo/Amr Nabil, File)

Hantaman Ekonomi bagi Dunia

Dampaknya telah menyapu seluruh dunia, membuat biaya untuk barang-barang pokok meroket di atas inflasi yang padahal sudah berjalan lancar di banyak tempat sebelum serbuan Rusia.

Negara-negara berkembang saat ini sedang dipuntir sangat kuat oleh biaya makanan, bahan bakar dan pembiayaan yang lebih tinggi.

Harga minyak mentah di London dan New York meningkat sebesar 20 sampai 25 persen, mengakibatkan harga yang lebih tinggi di pompa bensin termasuk harga berbagai produk berbasis minyak bumi.

Pasokan gandum terganggu bagi negara-negara Afrika, yang mengimpor 44 persen gandum mereka dari Rusia dan Ukraina pada tahun-tahun sebelum serangan.

Bank Pembangunan Afrika melaporkan kenaikan 45 presen harga kontinental untuk biji-bijian, mempengaruhi segala sesuatu mulai dari couscous Mauritania hingga donat goreng yang dijual di Kongo.

Amin Awad, koordinator krisis PBB di Ukraina, mengatakan 1,4 miliar orang di seluruh dunia terpengaruh oleh kekurangan biji-bijian dan pupuk dari negara itu.

“Korban perang terhadap warga sipil ini tidak dapat diterima. Perang ini tidak memiliki pemenang,” katanya kepada wartawan di Jenewa melalui video dari Kyiv pada hari Jumat.

“Hari ini kami menandai tonggak sejarah yang tragis. Dan kami tahu apa yang paling dibutuhkan: mengakhiri perang ini.”

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Associated Press


TERBARU