> >

Australia Umumkan Rencana Buka Perbatasan Mulai November

Kompas dunia | 1 Oktober 2021, 21:37 WIB
Perdana Menteri Australia Scott Morrison dalam konferensi pers membahas pembatasan perjalanan di Canberra, Australia, Jumat (1/10/2021). (Sumber: Lukas Coch/AAP Image via AP)

CANBERRA, KOMPAS.TV – Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada Jumat (1/10/2021) mengumumkan rencana untuk membuka kembali perbatasan negara bagi warga yang sudah divaksin secara lengkap. Rencana ini merupakan pergeseran dari strategi nol Covid-19 ke model hidup berdampingan dengan virus itu.

Melansir CNN, rencana yang akan berlaku mulai November ini diumumkan setelah Australia menutup perbatasannya bagi dunia selama lebih dari 18 bulan sebagai respons atas pandemi Covid-19.

Selama masa itu, Australia memberlakukan kuota kedatangan internasionalnya, hingga menyebabkan ribuan warganya terlantar di luar negeri. Mereka yang bisa datang ke Australia pun harus menjalani karantina selama 14 hari di hotel.

Kini, 55 persen populasi negeri kangguru itu telah divaksin secara lengkap dan tingkat vaksinasi dosis pertama mendekati 80 persen.

“Pemerintah telah mematangkan rencana agar keluarga-keluarga Australia dapat bersatu kembali, para pekerja Australia dapat melakukan perjalanan masuk dan keluar negeri, dan kita bisa bekerja menyambut turis kembali ke pesisir kita,” ujar Morrison.

Baca Juga: Menlu Prancis Tuding Australia Berbohong soal Kontrak Kapal Selam

“Banyak negara di dunia kini telah membuka kembali pintu perjalanan internasional, dan akan tiba waktunya bagi Australia untuk mengambil langkah selanjutnya,” imbuhnya.

Morrison menyebut, warga Australia dan penduduk permanen akan diizinkan menjalani karantina di rumah. Jumlah orang yang diizinkan masuk ke Australia juga tak dibatasi, dan mereka hanya akan menjalani karantina selama 7 hari.

Rencana itu merupakan antisipasi penyelesaian uji coba karantina rumah di dua negara bagian.

“Untuk membuka kembali secara aman, pertama kita butuh pilot karantina rumah di New South Wales dan Australia Selatan untuk menyimpulkan dan sukses agar mereka dapat berperan dalam skala besar.

Baca Juga: PM Australia Hubungi Jokowi, Tenangkan Indonesia soal Kapal Selam Nuklir

Mereka yang belum divaksinasi dengan vaksin yang disetujui, diwajibkan menjalani karantina selama 14 hari di fasilitas pemerintah. Vaksin yang disetujui pemerintah Australia yakni Pfizer, AstraZeneca, Moderna dan Johnson and Johnson. Per Jumat, Morrison menyatakan menambahkan Sinovac buatan China dan Covishield produksi India ke dalam daftar vaksin yang diakui Australia.

“Warga negara Australia dan penduduk tetap yang tidak dapat divaksinasi, misalnya jika mereka berusia di bawah 12 tahun atau memiliki kondisi medis tertentu, akan dianggap telah divaksinasi untuk tujuan perjalanan mereka,” tambah pernyataan pemerintah.

Pembatasan ketat Australia, ditambah aturan setempat termasuk lockdown, telah membantu negara itu mengendalikan penyebaran Covid-19 di dalam negeri. Hingga kini, berdasarkan data dari Johns Hopkins University, Australia telah melaporkan lebih dari 107.000 kasus terkonfirmasi dan 1.311 kematian.

Akibat pembatasan ketat pemerintah, ribuan warga Australia terlantar di luar negeri dan tak bisa pulang. Banyak warga yang frustasi dan merasa diabaikan pemerintah Australia. Pada Desember tahun lalu, sekitar 39.000 warga Australia tak dapat pulang untuk merayakan Natal di rumah.

Baca Juga: Usai Kehilangan Kontrak Kapal Selam Australia, Prancis Jual Kapal Perang ke Yunani

Namun, meski pembukaan kembali perbatasan membuat mereka dapat kembali pulang, Morrison tak menyebut secara spesifik kapan para pelancong luar negeri dapat mengunjungi Australia.

“Kami akan bekerja agar perjalanan bebas karantina sepenuhnya dapat tercapai, terutama untuk negara tertentu seperti Selandia Baru, saat aman untuk melakukannya,” pungkas Morrison.

 

Penulis : Vyara Lestari Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : CNN


TERBARU