> >

Hari Ini Iran Gelar Pemilihan Presiden, Apa Saja yang Dipertaruhkan?

Kompas dunia | 18 Juni 2021, 06:14 WIB
Tujuh kandidat yang disetujui oleh Dewan Wali Iran untuk berlaga di pemilihan presiden Iran (dari kiri ke kanan): mantan komandan Garda Revolusioner Iran Mohsen Rezaei, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati, anggota parlemen Alireza Zakani, mantan Wakil Presiden Iran Mohsen Mehralizadeh, Wakil Ketua Parlemen Amir Hossein Ghazizadeh Hashemi, Sekjen Majelis Tinggi Pertahanan Nasional Saeed Jalili dan Hakim Agung Ebrahim Raisi. (Sumber: AP Photo)

TEHERAN, KOMPAS.TV – Hari ini, Jumat (18/6/2021), Iran menggelar pemilihan presiden. Pemilihan ini akan menentukan sosok yang akan memimpin pemerintahan sipil di tengah ketegangan hubungan Republik Islam itu dengan negara-negara Barat terkait kesepakatan nuklirnya bersama kekuatan dunia.

Dirangkum dari Associated Press, berikut hal-hal yang menjadi perhatian dalam pemilihan presiden Iran:

Siapa yang Berlaga?

Dari total 600 kandidat yang mendaftar mencalonkan diri, Dewan Wali Iran hanya meloloskan 7 nama. Pada Kamis (17/6/2021), jumlah itu mengerucut lagi.

Baca Juga: Jelang Pemilihan Presiden, Rakyat Iran Apatis, Berharap Masa Depan Negara Lebih Baik

Menurut hasil polling yang digelar, dari 4 kandidat calon presiden, hakim agung garis keras Ebrahim Raisi tampaknya unggul. Abdolnasser Hemmati, mantan kepala Bank Sentral Iran, tampaknya mewakili kalangan moderat. Mantan komandan Garda Revolusioner Iran Mohsen Rezaei dan anggota parlemen Hossein Ghazizadeh juga berhasil lolos untuk berlaga pada hari ini.  

Ketua Kehakiman Iran Ebrahim Raisi tiba untuk mendaftarkan pencalonannya dalam pemilihan presiden di Kementerian Dalam Negeri Iran di Teheran, Iran, pada 15 Mei 2021. (Sumber: Xinhua/Ahmad Halabisaz)

Berdasarkan tiga debat calon presiden yang digelar, tampaknya laga pemilihan presiden akan didominasi oleh dua nama terunggul. Ini lantaran kandidat lain rata-rata mengkritik menyerang Hemmati karena menjadi bagian dari pemerintahan Presiden Hassan Rouhani yang sekarang menjabat.

Siapa yang Tidak Berlaga?

Rouhani, yang pemerintahannya mencapai kesepakatan nuklir tahun 2015 bersama para kekuatan dunia, sudah tak bisa lagi berlaga karena pembatasan masa jabatan. Dewan Wali, badan pengawas konsitusional Iran yang menetapkan para kandidat, juga melarang sejumlah kandidat lain untuk berlaga tahun ini. Mereka termasuk Ali Larijani, mantan anggota parlemen konservatif yang beberapa tahun belakangan bersekutu dengan Rouhani.

Baca Juga: Dewan Garda Loloskan 7 Nama Bakal Capres Iran, Tak Ada Nama Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad

Mantan presiden garis keras Mahmoud Ahmadinejad juga tak lolos. Ahmadinejad masih menjadi sosok populer berkat kebijakannya yang populis meskipun berseberangan dengan Barat. Sementara Larijani berlapang dada menerima penolakannya bertarung di bursa calon presiden, Ahmadinejad menyerukan para pendukungnya untuk tak memilih.

Sementara itu, perempuan juga masih dilarang untuk ambil bagian dalam bursa calon presiden. Pun mereka yang menyerukan perubahan menyeluruh dalam pemerintahan Iran.

Apa yang Dipertaruhkan?

Presiden Iran mengawasi tangan sipil pemerintahan. Presiden menetapkan kebijakan domestik, yang merupakan hal penting seiring pemberlakuan sanksi-sanksi keras dari Amerika Serikat (AS) setelah Presiden Donald Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran.

Permasalahan ekonomi yang,  antara lain,  diakibatkan oleh sanksi AS ini telah memicu dua kali protes besar-besaran dalam skala nasional di masa pemerintahan Rouhani. Iran juga menghadapi gelombang demi gelombang pandemi Covid-19. Kepresidenan juga menetapkan bagaimana Iran berinteraksi dengan dunia luar.

Baca Juga: Ayatollah Agung Ali Al-Sistani, Sosok Panutan Syiah Di Balik Irak Kini

Namun, bagaimana pun juga, kandidat pemenang presiden bakal berada di bawah pemimpin tertinggi Iran, yang akan mengambil keputusan terakhir atas semua permasalahan negara.

Kekuasaan Apa yang Dimiliki Pemimpin Agung Iran?

Pemimpin agung tertinggi Iran merupakan jantung pemerintahan Iran yang kompleks, yang dibentuk pada tahun 1979 setelah Revolusi Islam. Pemimpin agung atau pemimpin tertinggi juga berperan sebagai panglima tertinggi militer dan Garda Revolusioner, pasukan paramiliter yang juga memiliki akses kepemilikan ekonomi yang luas di Iran.

Sebuah dewan yang terdiri dari 88 ulama terpilih yang dinamakan Majelis Ahli menunjuk pemimpin tertinggi. Majelis Ahli juga dapat melengserkan pemimpin tertinggi, meskipun hal itu tak pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga: Paus Fransiskus dan Ayatollah Al-Sistani

Pemimpin tertinggi Iran saat ini, Ayatollah Ali Khamenei kini berusia 82 tahun, dan sejumlah analis berpendapat, pemilihan presiden kali ini kemungkinan pemilihan terakhir yang diawasinya.

Jadi, Apakah Iran Merupakan Negara Demokrasi?

Iran menggambarkan dirinya sebagai Republik Islam. Negara ini menggelar pemilihan yang telah memilih para perwakilan yang menetapkan berbagai macam hukum dan memerintah atas nama rakyat, meskipun pemimpin tertinggi tetap menjadi pengambil keputusan terakhir atas seluruh permasalahan negara.

Kendati begitu, Dewan Wali melarang sebagian besar sekutu Rouhani dan kaum reformis berlaga dalam pemilihan presiden kali ini. Mereka yang memimpin Gerakan Hijau Iran setelah perselisihan pemilihan kembali Ahmadinejad pada tahun 2009 juga masih berada dalam tahanan rumah. Iran tidak mengizinkan para pengamat internasional memantau pemilihannya, yang diawasi oleh Kementerian Dalam Negeri.

Baca Juga: Iran Bisa Buat Bom Nuklir dalam Hitungan Pekan, Perjanjian Nuklir Iran di Ujung Tanduk

Pasukan keamanan yang berada di bawah pemimpin tertinggi Iran juga secara rutin menangkap dan menggelar persidangan tertutup bagi warga yang memiliki kewarganegaraan ganda, orang asing dan mereka yang terkait dengan Barat.

Iran menggunakan mereka sebagai pion dalam negosiasi-negosiasi internasional. Raisi sang hakim agung menghadapi kritik dunia internasional atas penangkapan-penangkapan itu.

Penulis : Vyara Lestari Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU