> >

Gelombang Kedua Covid-19, Sungai Gangga di India Berubah Warna Jadi Hijau

Kompas dunia | 29 Mei 2021, 06:10 WIB
Selama beberapa hari belakangan, air sungai Gangga di Varanasi, negara bagian Uttar Pradesh di India berubah warna jadi hijau. (Sumber: India Today)

VARANASI, KOMPAS.TV – Selama lockdown Covid-19 pada bulan April dan Mei tahun lalu, sejumlah tempat di India, juga dunia, menjadi lebih bersih dan hijau karena pergerakan manusia dan polusi berkurang. Sungai Gangga pun, karena berkurangnya polusi, menjadi lebih bersih.

Namun, ketika tsunami Covid-19 menghantam India, Sungai Gangga kembali berubah.

Melansir India Today, Kamis (27/5/2021), di Varanasi di negara bagian Uttar Pradesh, sejumlah warga setempat di menyaksikan perubahan warna Sungai Gangga menjadi hijau.

Selama beberapa hari, perubahan warna sungai yang dianggap suci ini menjadi keprihatinan utama bagi warga Varanasi.

Baca Juga: Penguburan Mayat di Tepi Sungai Gangga Dilarang, meski Tak Terkait dengan Covid-19

Menurut para ilmuwan, air sungai dapat menjadi beracun dan harus dicek jika warna hijau itu terus bertahan.

“Gangga biasanya berubah warna menjadi hijau terang selama musim penghujan karena banyaknya lumut dari kolam dan danau. Biasanya warnanya berubah hanya di beberapa tempat. Tapi kali ini, perubahan warnanya lebih besar dan bisa dilihat dari mana-mana,” tutur Lavkush Sahni, seorang warga Varanasi.

“Baunya tidak enak dan orang-orang menderita.” tambah dia.

Menurut BD Tripathi, Ketua Pusat Penelitian Gangga Malviya di Universitas Hindu Benaras, penampakan Sungai Gangga yang berubah menghijau bisa jadi disebabkan oleh ganggang atau algae microcystis.

Baca Juga: Hampir 2.000 Jenazah Telah Diangkat Kembali dari Sungai Gangga

“Mereka bisa ditemukan di air yang mengalir. Biasanya tidak terlihat di Gangga. Tapi di manapun air berhenti mengalir dan kondisi untuk nutrisi tercipta, microcystis mulai tumbuh. Keistimewaan algae ini adalah ia hanya tumbuh di perairan kolam dan kanal,” kata Tripathi.

Algae yang ada di Gangga kemungkinan berasal dari kolam-kolam dan sungai-sungai kecil di sekitarnya. Jika aliran air menguat, algae akan hanyut terbawa. Tapi jika aliran airnya tetap seperti ini, mereka akan melepaskan mikrosistin neurotoksin. Ini akan menjadi ancaman bagi kehidupan di air,” paparnya menambahkan.  

Ilmuwan polusi lingkungan Dr Kripa Ram mengatakan, algae yang terlihat di Sungai Gangga disebabkan karena peningkatan nutrisi di air. Ia juga menyebut hujan sebagai salah satu faktor perubahan warna di Sungai Gangga.

Baca Juga: Pemerintah India Benarkan Ratusan Jasad yang Terdampar di Tepi Sungai Gangga adalah Korban Covid-19

“Karena hujan, algae-algae ini mengalir ke sungai dari tanah-tanah yang subur. Setelah memperoleh nutrisi yang cukup, mereka memulai proses fotosintesa. Jika air berhenti mengalir dalam waktu cukup lama, maka hanya sinar matahari yang dapat menembus ke dalam dan memungkinkan terjadinya fotosintesa. Fosfat, sulfur dan nitrat adalah nutrisi-nutrisi yang membantu algae bertumbuh. Nutrisi-nutrisi ini juga bisa berasal dari tanah pertanian dan limbah pembuangan,” terang Kripa Ram.

Kendati merupakan fenomena yang biasa terjadi, namun Kripa Ram memperingatkan bahaya yang mengancam di Sungai Gangga.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini merupakan proses natural dan secara umum terjadi antara Maret dan Mei. Tapi, airnya berubah jadi beracun. Berendam atau mandi di dalamnya dapat menyebabkan penyakit kulit dan meminumnya bisa merusakkan hati,” pungkasnya. 

Penulis : Vyara Lestari Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU