> >

5 Peristiwa Penting 16 Agustus: Peristiwa Rengasdengklok, Momen Sejarah Sehari Jelang Kemerdekaan

Discography | 16 Agustus 2021, 05:20 WIB
Monumen kebulatan tekad di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. (Sumber: KOMPAS.COM/JONATHAN ADRIAN)

SOLO, KOMPAS.TV- Bulan Agustus menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia.

Bulan dimana Republik Indonesia meraih kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Namun, sehari jelang kemerdekaan, ada satu momen penting dan bersejarah yakni Peristiwa Rengasdengklok. 

Peristiwa pada 16 Agustus khususnya tahun 1945 menjadi salah satu peristiwa penting lainnya di tanggal 16 Agustus yang terjadi baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Baca Juga: 5 Peristiwa Penting pada 15 Agustus: Kosongnya Kekuasaan di Indonesia saat Jepang Menyerah ke Sekutu

Berikut ini Kompas TV sarikan dari berbagai sumber, 5 peristiwa penting pada 16 Agustus:

1. Peristiwa Rengasdengklok

Bung Hatta (berdiri) ketika menjelaskan lagi pendapatnya tentang saat-saat menjelang Proklamasi Kemerdekaan di rumah bekas penculiknya, Singgih (baju batik hitam). Tampak dari kiri kekanan: GPH Djatikusumo, D. Matullesy SH, Singgih, Mayjen (Purn) Sungkono, Bung Hatta, dan bekas tamtama PETA Hamdhani, yang membantu Singgih dalam penculikan Soekarno Hatta ke Rengasdengklok. (Sumber: Kompas/JB Suratno)

Momen penting pada 16 Agustus tentunya Peristiwa Rengasdengklok. 

Terjadi pada 145, ini merupakan peristiwa penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda antara lain Soekarni, Wikana, Aiditdan Chaerul Saleh dari perkumpulan 'Menteng 31' terhadap Soekarno-Hatta.

Peristiwa ini terjadi tepatnya pada pukul 03.00. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Hingga terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan terutama setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik.

Menghadapi desakan itu, Soekarno- Hatta tetap dalam pendiriannya.

Sementara di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. 

Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut. 

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945di lapangan IKADA (yang sekarang telah menjadi lapangan Monas) atau di rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur 56.

Dipilih rumah Bung Karno karena di lapangan IKADA sudah tersebar bahwa ada sebuah acara yang akan diselenggarakan, sehingga tentara-tentara Jepang sudah berjaga-jaga.

Untuk menghindari kericuhan, antara penonton-penonton saat terjadi pembacaan teks proklamasi, dipilihlah rumah Soekarno di jalan Pegangsaan Timur No.56. Teks Proklamasi disusun di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong.

Bendera Merah Putih pun sudah dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Kamis tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta.

Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana dan Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. 

Achmad Soebardjo lalu mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. 

Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.

Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.

Baca Juga: 5 Peristiwa Penting pada 12 Agustus, Salah Satunya Fosil Tyrannosaurus Rex Ditemukan

2. Mulai Berlakunya EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) 

Baliho berisi ajakan mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia terpasang di tepi Jalan Poros Palopo - Makassar, Parepare, Sulawesi Selatan, Kamis (28/12/2017). (Sumber: KOMPAS/WAWAN H PRABOWO )

Masih ingat dengan EYD? Ya, EYD atau dikenal juga dengan Ejaan Yang Disempurnakan akhirnya mulai berlaku pada 16 Agustus 1972.

Ejaan ini mulai diberlakukan saat itu hingga 2015 menggantikan ejaan pendahulunya yakni ejaan Soewandi.

Sebelum EYD, lembaga bahasa dan kesusastraan atau saat ini disebut pusat bahasa, mengeluarkan ejaan baru pada 1967 atas dasar surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no.062/67 pada tanggal 19 September 1967.

Kemudian pada 23 Mei 1972 sebuah pernyataan bersama ditandatangani antara Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan Mendikbud Indonesia kala itu Mashuri.

Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan EYD.

Pada 16 Agustus 1972 berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin dan bahasa Indonesia.

Pada waktu pidato kenegaraan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke XXVII, diresmikanlah pemakaian ejaan baru untuk bahasa Indonesia.

Dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972, ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

Baca Juga: 5 Peristiwa Penting pada 9 Agustus: setelah Hiroshima, Giliran Nagasaki Diguncang Bom Atom AS

3. Meninggalnya Elvis Presley

Elvis Presley berjabat tangan dengan mantan Presiden AS, Richard Nixon di Gedung Putih pada 21 Desember 1971. (Sumber: AFP/HO via Kompas.com)

Tahun 16 Agustus 1977, Elvis Aaron Presley meninggal dunia. 

Penyanyi dengan nama yang lebih dikenal yakni Elvis Presley itu wafat di usia 42 tahun di Memphis, Tennessee, Amerika Serikat (AS). 

Lahir di Tupelo, Mississippi, AS, pada 8 Januari 1935, Elvis tak hanya seorang penyanyi sekaligus penulis lagu, tapi juga aktor peran. 

Ia dianggap sebagai salah satu ikon kebudayaan paling berpengaruh pada abad ke-20.

Elvis Presley juga sering disebut dengan sebutan 'King of Rock and Roll' atau singkatnya 'The King'. 

Baca Juga: 5 Peristiwa Penting pada 9 Agustus: setelah Hiroshima, Giliran Nagasaki Diguncang Bom Atom AS

4. Aktor Eddy Sud Tutup Usia

Eddy Sud (kanan) bersama grup Kwartet Djaja terdiri dari Iskak, Bing Slamet dan Ateng. (Sumber: Kompas.id)

Dunia film Indonesia berduka setelah pada 16 Agustus 2005, Eddy Sudihardjo atau lebih dikenal dengan nama Eddy Sud tutup usia.

Pria kelahiran Desa Sayangan, Gondang Winangun, Klaten, Jawa Tengah, 20 Agustus 1937 itu meninggal di usia 67 tahun.

Eddy Sud merupakan seorang pelawak Indonesia yang terkenal pada tahun 1960-an. 

Ia merupakan perintis acara Aneka Ria Safari yang ditayangkan oleh stasiun TVRI pada dekade 1980-an.

Baca Juga: 5 Peristiwa Penting pada 6 Agustus: Amerika Serikat Jatuhkan Bom Atom di Nagasaki dan Hiroshima

5. Akhirnya, Pemerintah Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia

Mantan Menteri Luar Negeri Belanda untuk Indonesia Bernard Rudolf Bot (kiri) bersama perwakilan Kedubes Indonesia untuk Belanda saat acara Linggajati Award (Sumber: indonesia-nederland.org)

Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, namun tak serta merta juga Belanda yang lebih dari 3,5 abad menjajah Tanah Air langsung mengakui kemerdekaan Indonesia. 

Pengakuan pemerintah Belanda terhadap Indonesia yang merdeka baru dilakukan mereka pada 16 Agustus 2005.

Hal ini setelah Menteri Luar Negeri Belanda untuk Indonesia Bernard Rudolf Bot mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Bernard tercatat sebagai anggota kabinet Belanda pertama yang menghadiri perayaan kemerdekaan Indonesia sejak 1946.

Bernard yang berpidato dalam upacara peringatan berakhirnya pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada 15 Agustus 2006 dengan disaksikan oleh Ratu Beatrix mengatakan, kehadirannya di upacara hari ulang tahun kemerdekaan ke-61 RI yang dapat dilihat sebagai penerimaan politik dan moral Belanda bahwa Indonesia merdeka. 

Sebelumnya, usai Soekarno mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda ingin kembali menguasai Indonesia

Belanda secara resmi tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Alasan mengapa Belanda tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia, karena Belanda menganggap kemerdekaan Indonesia baru terjadi pada 27 Agustus 1949. 

Pada tanggal itu, terjadi penyerahan kedaulatan yang ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam.

Selain itu, Belanda juga akan dianggap mengakui tindakan Agresi Militer pada 1945 - 1949 sebagai tindakan tindakan ilegal, bukan peperangan. 

Baca Juga: 5 Peristiwa Penting 3 Agustus, Salah Satunya Presiden RI ke-2 Soeharto Jadi Tersangka Dugaan Korupsi

Penulis : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV/Berbagai sumber


TERBARU