> >

Sejarah Berulang bagi Gareth Southgate, Pertama sebagai Tragedi, kemudian Jadi Kutukan

Serba serbi | 12 Juli 2021, 17:09 WIB
Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, gagal membawa timnya juara Euro 2020 setelah kalah adu penalti lawan Italia di Stadion Wembley, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. (Sumber: Carl Recine/Pool Photo via AP)

Secara teori, keputusan itu ditempuh Southgate demi menambah amunisi penendang penalti. Tapi apa yang bisa diharapkan dari pemain yang cuma turun sekian menit dan belum terkontaminasi atmosfer pertandingan?

Satu lagi, dan ini yang paling ajaib: Southgate menjadikan Bukayo Saka, remaja 19 tahun yang sangat minim pengalaman di partai puncak, menjadi algojo terakhir Inggris. Southgate seperti lupa ada Jack Grealish dan Raheem Sterling yang lebih berpengalaman.

Hasilnya kemudian kita tahu: semua algojo pilihan Southgate gagal menunaikan tugasnya. Jika ini semua belum terasa buruk, bayangkanlah betapa pedih yang dirasakan Rashford, Sancho, dan Saka karena jadi bulan-bulanan netizen rasis yang menyerang mereka di media sosial usai laga tersebut.

Dalam Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte yang terbit pada 1852, Karl Marx pernah menulis: History repeats, first as tragedy, then as farce. Sejarah berulang, pertama sebagai tragedi, kemudian sebagai lelucon.

Southgate, suka atau tidak, seperti menggenapi apa yang ditulis Marx tersebut.

Sekarang mari membayangkan jika Southgate adalah seorang time traveler yang dapat berkelana ke masa lampau, apakah ia mampu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya? 

Jawabannya: tidak.

Ada salah satu konsep menarik dalam terminologi paradoks waktu: Predestination Paradox. Inti dari paradoks tersebut kurang lebih menjelaskan betapa segala sesuatu sesungguhnya telah ditakdirkan (predestined) oleh sejarah dan tak dapat diubah. Predestination Paradox didesain untuk menciptakan kejadian yang sama persis sebagaimana seharusnya. 

Melalui penjelasan itu, maka Southgate tak ubahnya Sisifus, manusia setengah dewa yang dihukum Zeus harus mengangkut batu berat ke puncak gunung. Namun, tiap kali sampai di atas, batu itu akan berguling kembali ke bawah, maka Sisifus pun harus turun untuk mengangkutnya lagi, dan lagi, dan lagi.

Dan itulah sebetulnya hukuman bagi Sisifus: mengulangi kegagalan yang sama terus menerus, entah sampai kapan. 

Pertanyaannya sekarang, Tuan Southgate, jika benar seperti itu hukuman Sisifus, bukankah berarti sejarah berulang sebagai tragedi, lalu jadi kutukan?

Penulis : Eddward S Kennedy Editor : Fadhilah

Sumber : Kompas TV


TERBARU