> >

Sejarah Berulang bagi Gareth Southgate, Pertama sebagai Tragedi, kemudian Jadi Kutukan

Serba serbi | 12 Juli 2021, 17:09 WIB
Pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, gagal membawa timnya juara Euro 2020 setelah kalah adu penalti lawan Italia di Stadion Wembley, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. (Sumber: Carl Recine/Pool Photo via AP)

KOMPAS.TV - Euro 1996. Di hadapan ribuan suporter Inggris yang menyesaki Wembley, Gareth Southgate menjadi satu-satunya pemain Inggris yang gagal mengeksekusi penalti kala berhadapan dengan Jerman di partai semifinal. 

Dalam momen adu penalti tersebut, Andreas Koepke, kiper Jerman, sebetulnya selalu gagal membaca arah tendangan para algojo The Three Lions. Sebaliknya, kiper Inggris, David Seaman, justru nyaris dua kali menepis tendangan pemain Der Panzer.

Lalu momen itu pun tiba. Usai Stefan Kuntz berhasil menyarangkan bola ke gawang Seaman, kini giliran Southgate yang maju sebagai eksekutor penentu untuk Inggris. Tak lama setelah menaruh bola di titik putih, ia langsung menyepak bola dengan datar ke arah kiri. Tapi sepakan itu terlalu lemah dan kurang ke pojok, maka mudah belaka bagi Koepke untuk menepisnya. 

Jerman kini di ambang kemenangan. Andreas Moeller, yang kala itu adalah superstar di Borussia Dortmund, menjadi eksekutor terakhir. Tanpa basa-basi ia menyepak bola keras-keras ke arah tengah. Kali ini Seaman tertipu karena justru bergerak ke arah kiri. 

Moeller merayakan keberhasilannya dengan selebrasi penuh kejemawaan: berlari ke arah suporter Inggris dan berkacak pinggang di hadapan mereka.

Hari itu Moeller bak jadi Superman dan Southgate tak ubahnya seorang pesakitan yang menunggu cemoohan.

Jerman kemudian menjadi juara di turnamen Euro 1996 tersebut usai mengalahkan Cekoslowakia 2-1 di partai final dalam babak perpanjangan waktu. Oliver Bierhoff menjadi pahlawan Der Panzer lewat dua gol, sementara sebiji gol Ceko dicetak Patrik Berger.

Kegagalan mengeksekusi penalti tersebut begitu menyayat hati Southgate. Ia bahkan harus pergi menyepi ke suatu tempat yang berjarak 12 ribu kilometer jauhnya dari London bersama sang istri, Alisson. Tempat itu bernama Bali. Di sanalah, di sebuah hotel terpencil di antara gunung dan danau, ia mengisolir diri demi menyembuhkan trauma kegagalannya. 

Selanjutnya 25 tahun berselang setelah momen nahas tersebut, Southgate ditakdirkan mengalami kegagalannya kembali. Kian ironis karena lokasinya juga di stadion yang sama: Wembley.

Kali ini keputusan anehnya yang menyebabkan Inggris gagal menjadi juara usai kalah adu penalti dari Italia. Menjelang laga berakhir, Southgate memasukkan Marcus Rashford dan Jadon Sancho, menggantikan Jordan Henderson dan Kyle Walker.

Secara teori, keputusan itu ditempuh Southgate demi menambah amunisi penendang penalti. Tapi apa yang bisa diharapkan dari pemain yang cuma turun sekian menit dan belum terkontaminasi atmosfer pertandingan?

Satu lagi, dan ini yang paling ajaib: Southgate menjadikan Bukayo Saka, remaja 19 tahun yang sangat minim pengalaman di partai puncak, menjadi algojo terakhir Inggris. Southgate seperti lupa ada Jack Grealish dan Raheem Sterling yang lebih berpengalaman.

Hasilnya kemudian kita tahu: semua algojo pilihan Southgate gagal menunaikan tugasnya. Jika ini semua belum terasa buruk, bayangkanlah betapa pedih yang dirasakan Rashford, Sancho, dan Saka karena jadi bulan-bulanan netizen rasis yang menyerang mereka di media sosial usai laga tersebut.

Dalam Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte yang terbit pada 1852, Karl Marx pernah menulis: History repeats, first as tragedy, then as farce. Sejarah berulang, pertama sebagai tragedi, kemudian sebagai lelucon.

Southgate, suka atau tidak, seperti menggenapi apa yang ditulis Marx tersebut.

Sekarang mari membayangkan jika Southgate adalah seorang time traveler yang dapat berkelana ke masa lampau, apakah ia mampu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya? 

Jawabannya: tidak.

Ada salah satu konsep menarik dalam terminologi paradoks waktu: Predestination Paradox. Inti dari paradoks tersebut kurang lebih menjelaskan betapa segala sesuatu sesungguhnya telah ditakdirkan (predestined) oleh sejarah dan tak dapat diubah. Predestination Paradox didesain untuk menciptakan kejadian yang sama persis sebagaimana seharusnya. 

Melalui penjelasan itu, maka Southgate tak ubahnya Sisifus, manusia setengah dewa yang dihukum Zeus harus mengangkut batu berat ke puncak gunung. Namun, tiap kali sampai di atas, batu itu akan berguling kembali ke bawah, maka Sisifus pun harus turun untuk mengangkutnya lagi, dan lagi, dan lagi.

Dan itulah sebetulnya hukuman bagi Sisifus: mengulangi kegagalan yang sama terus menerus, entah sampai kapan. 

Pertanyaannya sekarang, Tuan Southgate, jika benar seperti itu hukuman Sisifus, bukankah berarti sejarah berulang sebagai tragedi, lalu jadi kutukan?

Penulis : Eddward S Kennedy Editor : Fadhilah

Sumber : Kompas TV


TERBARU