> >

Tradisi Balon Udara saat Lebaran: Sempat Dilarang, Kini Diizinkan Asal Diikat

Tradisi | 30 April 2022, 09:52 WIB
Ilustrasi balon udara. (Sumber: Shutterstock Via Kompas.com)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Berbagai darah di Indonesia merayakan Lebaran dengan tradisinya masing-masing.

Di beberapa daerah, seperti Ponorogo, Pekalongan, Trenggalek, Kulon Progo, Wonosobo, hingga Sumenep, Lebaran identik dengan penerbangan balon udara.

Di Ponorogo sendiri, tradisi menerbangkan balon udara saat Lebaran telah menjadi tradisi turun temurun selama lebih dari 500 tahun.

Mengutip dari akun Twitter BPNB DIY, Sabtu (30/4/2022), tradisi menerbangkan balon udara dulu dikenal sebagai Umbulan.

Tradisi ini diadopsi dari kebiasaan masyarakat Ponorogo yang pada abad ke-15 didominasi oleh pemeluk Buddha.

Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Jakarta-Aceh Capai Rp9,6 Juta, Lion Air Group: Masih Sesuai Ketentuan

Sejarah singkat

Bupati pertama Ponorogo sekaligus pendakwah, Batara Katong, mengubah tradisi tersebut menjadi tradisi yang diterbangkan setiap Lebaran.

Saat itu, balon udara dibuat dengan kertas yang dirangkai dan disambung menggunakan putih kulit telur atau nasi hingga membentuk lingkaran. 

Menerbangkan balon udara bukan hanya sebagai perayaan atau hiburan semata, tetapi bernilai filosofis yang tinggi. 

Saat masyarakat secara bersama-sama melepaskan balon tersebut ke udara menggunakan api, akan ada asap hitam yang membumbung tinggi.

Asap hitam tersebut menjadi wujud dosa manusia yang tak luput dari setiap kehidupan.

Penulis : Fiqih Rahmawati Editor : Gading-Persada

Sumber : Berbagai Sumber


TERBARU