> >

Ternyata Ini Biang Kerok Badai PHK Startup: Bunga Acuan, Inflasi, dan Perang Rusia-Ukraina

Ekonomi dan bisnis | 7 Desember 2022, 07:06 WIB
Founding Partner AC Ventures Pandu Sjahrir menyebut faktor pertama yang sebabkan PHK di startup adalah dari sisi eksternal, seperti kenaikan suku bunga oleh bank sentral global, inflasi, dan perang Rusia-Ukraina. (Sumber: Kompas.tv/Ant)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Founding Partner AC Ventures Pandu Sjahrir menyatakan, faktor pertama yang menyebabkan muncul 'badai' PHK startup di Indonesia dan negara lain adalah dari sisi eksternal. 

Seperti kenaikan suku bunga oleh bank sentral global, inflasi, dan perang Rusia-Ukraina.

"Ada faktor perang di awal 2022 dan terjadi kenaikan suku bunga untuk penanganan inflasi. Kenaikan suku bunga ini mempengaruhi cost of capital yang terjadi di pasar," kata Pandu seperti dikutip dari Antara, Selasa (6/12/2022). 

Selanjutnya adalah ekspektasi yang tinggi dari investor setelah melihat siklus bisnis yang terjadi dengan sangat cepat bagi perusahaan. Khususnya sektor teknologi ketika momentum pandemi Covid-19.

"Ini bisnis cycle yang amat cepat. Saat tahun 2020 terjadi pandemi, suku bunga menurun, pemerintah membantu dan banyak tumbuh perusahaan teknologi karena banyak shifting dari offline to online. Dan banyak perusahaan teknologi berkembang lebih cepat dari yang diharapkan selama 2020 sampai 2021," jelas keponakan Luhut Binsar Pandjaitan ini. 

Baca Juga: PPKM Diperpanjang hingga 9 Januari 2023, yang Mau Liburan Nataru Simak Aturannya

Pandu pun membantah kalau besarnya gaji talenta digital startup sebagai biang kerok terjadinya 'badai' PHK, karena sumber daya manusia (SDM) bukan menjadi pengeluaran terbesar perusahaan startup.

Menurut Pandu, besarnya gaji yang diberikan itu adalah sebuah tren untuk mendapat talenta terbaik beberapa tahun lalu, dan tahun ini sudah semakin menurun.

Kemudian faktor ketiga terjadinya badai PHK adalah karena beberapa tahun lalu perusahaan banyak melakukan bakar uang sebagai strategi mendapatkan pasar yang besar.

"Anggaran perusahaan terbesar bukan di sumber daya manusia. Banyak perusahaan kini refocus pada bisnis mereka dan dan mengurangi burning cost, entah itu di marketing cost, business processing cost, semuanya itu dikurangi secara signifikan," ujar Pandu yang juga merupakan bos perusahaan motor listrik, Electrum

Baca Juga: Sempat Dapat Investasi dari Jeff Bezos, Startup Ula PHK 134 Karyawan

Lebih lanjut, ungkap Pandu, tahun 2023 akan mengubah bentuk startup setelah 'badai' PHK tersebut.

Menurut dia, PHK telah mengajarkan perusahaan untuk kembali pada fokus bisnis mereka dan mengutamakan mengejar profit alih-alih mengejar pasar yang luas (market share).

"Saya optimistis pada 2023 karena banyak reshaping dari sisi industri. Mungkin akan ada yang merger, konsolidasi, dan pemenang dari ini akan jadi ultimate winner 5-10 tahun ke depan. Dan untuk perusahaan startup baru kemungkinan kualitas di 2023 bisa sangat bagus," tutur Pandu. 

"Karena kualitas founder sudah berpikir bukan market share tapi cari solusi yang pas dengan capital yang tidak terlalu besar," pungkasnya. 

Deretan startup yang lakukan PHK

Sebelumnya, Pendiri startup Ruangguru, Belva Devara dan Iman Usman mengakui jika faktor kondisi global jadi salah satu penyebab PHK yang mereka lakukan.

Dalam pernyataan bersama, Ruangguru menjelaskan masalah perusahaan itu dimulai saat rekrutmen besar-besaran sejak awal pandemi Covid-19 di tahun 2020. 

Baca Juga: Erick Thohir: Utang Garuda Turun 50 Persen Setelah Direstrukturisasi

Penulis : Dina Karina Editor : Gading-Persada

Sumber : Antara, Kompas TV


TERBARU