> >

Terus Diguyur Hujan, Produksi Garam dalam Negeri Tak Stabil

Ekonomi dan bisnis | 9 September 2021, 15:41 WIB
Petani garam sedang mengurai serta mengeringkan garam (Sumber: (Humas Kementerian Kelautan dan Perikanan)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Musim kemarau basah sepanjang tahun ini menyebabkan panen garam rakyat kurang optimal. Diprediksi produksi garam nasional turun di tahun ini.

Direktur Jasa Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Miftahul Huda menerangkan, hujan yang masih terus mengguyur sejumlah sentra produksi garam menyebabkan panen garam terhambat.

Panen garam di kondisi normal, berlangsung pada periode Juli-November. Namun, akibat pengaruh cuaca, masa panen garam diperkirakan berlangsung lebih singkat.

“Produksi garam pasti tergantung dari kondisi musim,” kata Huda, Selasa (7/9/2021), seperti dikutip dari Kompas.id.

Menurut data dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyebutkan, produksi garam nasional tahun 2021 diperkirakan 2,1 juta ton. Sedangkan kebutuhan garam nasional diperkirakan 4,67 juta ton.

Tahun 2020, produksi garam nasional tercatat 1,36 juta ton. Adapun total luas lahan produksi garam berkisar 21.000-22.000 hektar.

Baca Juga: PT Garam Bakal Penuhi Garam SNI Agar Industri Dalam Negeri Tak Lagi Impor

Diketahui pemerintah berencana mengimpor 3,07 juta ton garam industri tahun ini. Angka tersebut naik ketimbang tahun lalu yang sebanyak 2,7 juta ton.

Terkait kualitas garam, industri   mensyaratkan garam dengan kadar NaCl 97-98 persen, sedangkan garam rakyat rata-rata berkadar NaCl di bawah 97 persen.

Secara terpisah, Ketua Himpunan Petani Garam  Jawa Timur Mohammad Hasan mengemukakan, faktor cuaca yang kurang stabil memengaruhi  produksi garam rakyat.

Hasan memperkirakan produksi garam  tahun ini bisa turun hingga 25 persen atau menjadi 1,7 juta ton akibat terpengaruh cuaca. ”Cuaca kemarau basah akan menyebabkan terjadi penurunan produktivitas garam,” ujarnya. 

Di samping itu, hasan juga menyampaikan masih ada stok garam nasional yang belum terserap sekitar  600.000 ton. Dengan demikian, produksi garam yang turun pada tahun ini diprediksi masih cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi garam nasional.

Sebelumnya, pada Senin (6/9), anggota Komisi IV DPR  dari Fraksi PAN Slamet Ariyadi, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan menyoroti permasalahan klasik yang terus berulang pada usaha garam rakyat, yakni harga garam yang tidak stabil.

Ia meminta pemerintah memastikan pencapaian target produksi diimbangi dengan peningkatan kualitas garam agar harga jualnya lebih stabil.

Di sisi lain, KKP diminta berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mengantisipasi keran impor garam pada 2022. Upaya pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19, termasuk petambak garam, jangan sampai terlibas akibat dibukanya keran impor garam.

Baca Juga: Pemerintah Diharapkan Menghentikan Kuota Impor Garam Bagi Industri Aneka Pangan

 

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV/Kompas.id


TERBARU