> >

Waspadai Peredaran Uang Palsu, Transaksi Digital Jadi Andalan

Perbankan | 16 April 2021, 08:34 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Sumber: Kompas.com/Shutterstock)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Bank Indonesia (BI) mendorong transaksi nontunai melalui perbankan digital (digital banking) maupun uang elektronik, sebab dinilai lebih aman.

Hal tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi peredaran uang palsu.

Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim, Rabu (14/4/2021) yang dilansir dari Kompas.id  menuturkan, tren transaksi digital berpengaruh pada turunnya rasio uang palsu yang ditemukan di tengah masyarakat

Rasio temuan uang palsu sepanjang 2019 dan 2020 secara berturut-turut sebesar 9 lembar di setiap 1 juta lembar dan 5 lembar di setiap 1 juta lembar uang. Per triwulan-I 2021, rasionya 2 lembar di setiap 1 juta lembar uang.

Sejalan dengan itu, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta menuturkan bahwa tren transaksi tanpa tatap muka saat ini menjadi momentum donasi dan berbelanja produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan memanfaatkan QRIS (Standar Kode Respons Cepat).

”Contohnya, asosiasi pedagang pempek di Palembang telah memanfaatkan QRIS. Konsumen dapat membeli pempek secara daring dan membayarnya dengan QRIS,” ujar Filianingsih.  

Tak hanya QRIS, lanjutnya, transaksi nontunai dengan kartu kredit juga dapat menjadi andalan selama Ramadhan-Lebaran 2021. 

Oleh sebab itu, BI menurunkan suku bunga maksimal kartu kredit yang semula 2,25 persen per bulan menjadi 2 persen per bulan.

Denda keterlambatan pembayaran diturunkan, dari 3 persen atau maksimal Rp 150.000 menjadi 1 persen atau maksimal Rp 100.000.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development on Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, terdapat perbedaan pola perputaran uang pada periode Ramadhan-Lebaran 2021.

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU