> >

Kuartal III Ekonomi Diprediksi Minus 2, Sri Mulyani: Jika Resesi Tak Berarti Kondisi Gawat

Ekonomi dan bisnis | 7 September 2020, 21:54 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/7/2017). Sri Mulyani Sebut Jika Kuartal III Resesi Bukan Berarti Kondisi Gawat. (Sumber: KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Indonesia kemungkinan akan mengalai resesi pada kuartal III 2020 ini. Hal itu diakui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III tahun ini akan berada di kisaran minus 2 persen hingga 0 persen.

Artinya, bila perekomian RI kembali masuk di zona negatif, maka perekonomian RI bakal masuk ke dalam definisi resesi secara teknsi, yakni pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

Sebab pada kuartal II yang lalu, perekonomian RI terkontraksi cukup dalam, yakni sebesar -5,32 persen.

Baca Juga: Pandemi Corona terus Berlanjut, Indonesia Harus Siap Hadapi Resesi!

"Meski belanja pemerintah diakselerasi, konsumsi dan investasi belum masuk zona positif, karena aktivitas masyarakat sama sekali belum normal. Kalau kalau itu terjadi, secara teknis kuartal III ini kita masuk zona negatif, maka resesi terjadi," ujar Sri Mulyani usai melakukan rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Senin (7/9/2020), dikutip dari Kompas.com.

Meski demikian, Bendahara Negara itu melanjutkan, hal itu tidak berarti kondisinya gawat atau sangat buruk.

"Tidak berarti kondisinya sangat buruk, karena kita melihat kalau kontraksi lebih kecil, dan akan terjadi pemulihan di bidang konsumsi, investasi melalui dukungan belanja pemerintah," terang Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan, pemerintah saat ini tengah berupaya untuk mempercepat belanja agar pemulihan tak hanya terjadi di bidang konsumsi dan investasi, namun juga kinerja ekspor Indonesia.

Sebab, pada Juli hingga Agustus ini terjadi perbaikan kinerja perekonomian di bidang ekspor.

Penulis : fadhilah

Sumber : Kompas TV


TERBARU