> >

PLTP Lebih Ramah Lingkungan, Tapi Terkendala Perekonomian

Advertorial | 13 Oktober 2021, 12:39 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). (Sumber: Kompas/P. Raditya Mahendra Yasa)

“Ada beberapa skenario yang disiapkan pemerintah untuk mendukung pembiayaan operasi panas bumi agar diperoleh angka perekonomian, antara lain pengeboran eksplorasi panas bumi oleh Badan Geologi dengan dana APBN di 20 wilayah kerja panas bumi hingga tahun 2004 dengan kapasitas 683 MW,” jelas Harris.

Harris juga menjelaskan skenario alternatif, pemanfaatan pembiayaan infrastruktur sektor panas bumi dan Geothermal Resource Risk Mitigation (GREM) untuk pendanaan pengembangan panas bumi di Indonesia.

Pengembangan bersama antar-BUMN, seperti PLN dengan PT Geo Dipa Energi dan PT Pertamina Geothermal Energy juga diharapkan dapat menurunkan biaya operasi.

Lebih murah dan ramah lingkungan

Biaya pokok penyediaan (BPP) untuk PLTP yang baru beroperasi memakan dana di atas 10 sen USD per kWh.

Sedangkan, pembangkit yang sudah lama beroperasi seperti PLTP Lahendong di Kota Tomohon, Sulawesi Utara memiliki BPP sebesar 8,6 sen USD per kWh atau setara dengan Rp 1.227 per kWh.

Manajer Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan (UPDK) Minahasa PLN, Andreas Arthur Napitupulu menjelaskan bahwa BPP PLTP area Lahendong kini hanya bersaing dengan salah satu PLTP di Selandia Baru.

Hal tersebut membuktikan efisiensi dan perawatan telah berjalan dengan sangat baik.

“Kami turut mengoptimalkan tenaga kerja serta perawatan yang lebih prediktif. Hal yang paling penting adalah menjalankan tata kelola pembangkit secara konsisten,” jelas Andreas.

BPP yang rendah mendorong  komitmen UPDK Minahasa mengoptimalkan PLTP Lahendong hingga 24 jam sehari.

Pembangkit ini terbukti ramah lingkungan dengan emisi karbon rendah yaitu 75 gram per kWh.

Dibandingkan dengan pembangkit listrik dari sumber energi lainnya seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu SIDRAP, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), PLTP lebih dapat diandalkan dan stabil.

Faktor kapasitas pembangkit jenis ini mencapai 90-95 persen. Selain itu, produksi listrik dari PLTP tidak terpengaruh pergerakan harga komoditas energi primer seperti gas alam, minyak bumi, dan batu bara. Faktor cuaca juga tidak menghambat operasional PLTP.

Penulis : Elva-Rini

Sumber : Kompas TV


TERBARU