Kompas TV internasional kompas dunia

Presiden Brasil Jair Bolsonaro Diajukan ke Pengadilan Kriminal Internasional, Dituduh Babat Hutan

Kompas.tv - 12 Oktober 2021, 16:24 WIB
presiden-brasil-jair-bolsonaro-diajukan-ke-pengadilan-kriminal-internasional-dituduh-babat-hutan
Presiden Brasil Jair Bolsonaro diajukan ke pengadilan kriminal internasional di Den Haag atas tuduhan pembabatan hutan di Brasil. Deforestasi yang merajalela secara tidak langsung akan menyebabkan lebih dari 180.000 kematian akibat panas berlebih secara global abad ini, menurut gugatan itu. (Sumber: Florian Plaucheur/France24 via AFP)
Penulis : Edwin Shri Bimo | Editor : Desy Afrianti

PARIS, KOMPAS.TV - Presiden Brasil Jair Bolsonaro hari Selasa, (12/10/2021) diajukan ke pengadilan kriminal internasional ICC di Den Haag atas tuduhan melakukan "kejahatan terhadap kemanusiaan" karena peran dirinya dalam penghancuran hutan hujan Amazon.

Pengaduan ini adalah kasus pertama yang secara eksplisit menghubungkan deforestasi atau pembabatan hutan dengan hilangnya nyawa manusia sebagai akibatnya, seperti dilansir France24 mengutip AFP, Selasa (12/10/2021)

Emisi gas rumah kaca yang meningkatkan suhu bumi akibat dari pembabatan hutan, pembakaran dan pertanian skala industri di Amazon lebih tinggi daripada total emisi tahunan Italia atau Spanyol.

Deforestasi di wilayah Amazon Brasil melepaskan lebih banyak CO2 daripada yang dapat diserap oleh Amazon.

Juru kampanye keadilan lingkungan Austria Allrise mengajukan keluhan resmi di pengadilan yang berbasis di Den Haag Selasa pagi.

Mereka meminta proses hukum terhadap Bolsonaro dan pemerintahannya untuk tindakan "yang berhubungan langsung dengan dampak negatif perubahan iklim di seluruh dunia".

Gugatan tersebut menuduh presiden Brasil itu melancarkan kampanye luas yang mengakibatkan pembunuhan para pembela lingkungan dan membahayakan populasi global melalui emisi yang disebabkan oleh deforestasi, hasil kebijakannya sebagai presiden Brasil.

Pengaduan itu memanfaatkan ilmu atribusi iklim yang berkembang, yang memungkinkan para peneliti untuk membuktikan hubungan antara peristiwa cuaca ekstrem di satu sisi, dan pemanasan global dan degradasi lingkungan, di sisi lain.

Baca Juga: Kepala Suku Pribumi Brasil Ini Kirim Surat ke Macron Minta Tolong Selamatkan Hutan Amazon

Presiden Brasil Jair Bolsonaro diajukan ke pengadilan kriminal internasional di Den Haag atas tuduhan pembabatan hutan di Brasil. Foto tahun 2013 ini menunjukkan traktor sedang bekerja di pertanian gandum, di tanah yang dulunya merupakan hutan hujan Amazon perawan di Brasil. (Sumber: Straits Times )

Tim di belakang pihak yang mengadukan Bolsonaro mengatakan pemerintahan Bolsonaro berusaha untuk "secara sistematis menghapus, mensterilkan, dan mengeluarkan isi perut undang-undang, lembaga, dan individu yang berfungsi untuk melindungi Amazon".

Dikatakan Bolsonaro bertanggung jawab atas sekitar 4.000 kilometer persegi (400.000 hektar) hutan hujan yang hilang setiap tahun, dan Bolsonaro memimpin laju pembabatan hutan yang meningkat hingga 88 persen setiap bulan sejak menjabat pada 1 Januari 2019.

Kantor Bolsonaro tidak menanggapi permintaan komentar dari media.

Tim ahli memperkirakan emisi yang disebabkan oleh kebijakan dan tindakan pembabatan yang merajalela pada pemerintahan Bolsonaro di Brasil  akan menyebabkan lebih dari 180.000 kematian akibat panas berlebih secara global abad ini.

"Dalam beberapa tahun terakhir, ilmu tentang iklim berkembang sangat maju untuk bisa memberikan bukti hubungan kausal spesifik antara emisi gas rumah kaca dan konsekuensi yang muncul secara global sebagai akibatnya," kata Rupert Stuart Smith, dari Universitas Oxford's Sustainable Program Hukum.

Meskipun setidaknya ada tiga pengaduan lain dari kelompok adat terhadap Bolsonaro di ICC sejak 2016, pengaduan kali ini adalah yang pertama yang menyoroti hubungan yang jelas antara hilangnya hutan dan kesehatan manusia secara global.

"Apa yang terjadi di Brasil, yaitu penggundulan hutan massal, kami ingin memahami hubungan sebab akibat dengan iklim global," kata pendiri AllRise Johannes Wesemann kepada AFP seperti dilansir France24.

"Ini persis seperti yang didefinisikan Statuta Roma sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan: perusakan yang disengaja dari lingkungan dan kaum pembela lingkungan."

Baca Juga: Suku-Suku Asli Amazon Desak Perlindungan Hutan Hujan Amazon pada Kongres IUCN September Nanti

Presiden Brasil Jair Bolsonaro diajukan ke pengadilan kriminal internasional di Den Haag atas tuduhan pembabatan hutan di Brasil. (Sumber: Evaristo SA/France24 via AFP)

Inti dari pengaduan itu adalah "bukan untuk berbicara atas nama orang Brasil mana pun, melainkan untuk menunjukkan beban yang dirasakan dunia dari deforestasi atau pembabatan hutan secara massal (di Brasil), " kata Wesemann.

Pengacara pihak yang mengajukan pengaduan ke pengadilan kriminal internasional, Nigel Povoas, yang pernah memimpin penuntutan beberapa penjahat internasional paling terkenal, mengatakan pengaduan itu ditujukan kepada beberapa individu dalam pemerintahan Bolsonaro.

"Kami fokus pada aktor paling senior yang bertanggung jawab," katanya.

"Kami mengatakan sebagai hasil dari kebijakan negara yang mereka kejar, mereka secara sadar membantu dan bersekongkol dengan para pelaku di lapangan untuk melakukan kejahatan seperti pembunuhan, penganiayaan, dan tindakan tidak manusiawi lainnya."

Pengadilan Kriminal Internasional ICC tidak berkewajiban untuk mempertimbangkan pengaduan yang diajukan kepada jaksa oleh individu atau kelompok, dan tidak memberi pernyataan apapun atas pengaduan yang masuk sampai jaksa mengumumkan pengadilan telah memulai pemeriksaan pendahuluan ke dalam masalah tertentu.

Maud Sarlieve, seorang pengacara hak asasi manusia dan kriminal internasional mengatakan jika pengaduan atas presiden Bolsonaro ditindaklanjuti, itu akan mengirim pesan yang jelas kepada individu-individu seperti CEO perusahaan bahan bakar fosil: "Berhati-hatilah."

"Undang-undang sekarang memungkinkan kita untuk mengejar mereka yang dengan kejam dan sadar mengejar kebijakan yang jelas-jelas mengakibatkan kerusakan lingkungan dan berdampak pada penduduk sipil," katanya.




Sumber : Kompas TV/France24 via AFP


BERITA LAINNYA



Close Ads x