> >

Penjelasan Rais Aam PBNU tentang Rebo Wekasan yang Dikenal Mitos Hari Paling Sial

Beranda islami | 20 September 2022, 11:07 WIB
Ilustrasi ibadah salat. Akan ada Rebo wekasan, begini penjelasan Rais Aam PBNU (Sumber: freepik)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, menjelaskan tentang makna Rebo Wekasan dan kepercayaan sebagai hari penuh kesialan. Rebo Wekasan adalah nama lain dari Rabu Kasan atau Rabu Pungkasan, merupakan Rabu terakhir di bulan Safar.

Pada tahun ini, Rebo Wekasan jatuh pada besok Rabu, 21 September 2022. Lalu, apa makna Rebo Wekasan menurut Islam?

Sebelum lebih lanjut tentang Rebo Wekasan, perlu diketahui, bagi sebagian masyarakat tanah air, khususnya di Jawa, ketika Rebo Wekasan tiba maka diadakan ritual atau ibadah khusus guna menolak kesialan atau bala.

Dilansir dari NU Online, kepercayaan terhadap kesialan di bulan Safar sudah terjadi dalam masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab.

Bangsa Arab sering mengatakan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Tasa'um (anggapan sial) ini telah terkenal pada umat jahiliah dan sisa-sisanya masih ada di kalangan muslimin hingga saat ini.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, "Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa." (HR Imam al-Bukhari dan Muslim).

KH Miftachul Akhyar pun menjelaskan terkait Rebo Wekasan tersebut, khususnya tentang kepercayaan sebagai hari nahas atau sial. 

“Nahas yang dimaksud adalah bagi mereka yang meyakininya, bagi yang mempercayainya, tetapi bagi orang-orang yang beriman meyakini bahwa setiap waktu, hari, bulan, tahun ada manfaat dan ada mafsadah, ada guna dan ada madharatnya," ujarnya. 

“Hari bisa bermanfaat bagi seseorang, tetapi juga bisa juga nahas bagi orang lain. Artinya hadits ini jangan dianggap sebagai suatu pedoman, bahwa setiap Rabu akhir bulan adalah hari naas yang harus kita hindari," ucapnya. 

“Karena ternyata pada hari itu, ada yang beruntung, ada juga yang buntung. Tinggal kita berikhtiar meyakini, bahwa semua itu adalah anugerah Allah,” jelasnya.

Penulis : Dedik Priyanto Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU