> >

Masyarakat Baduy Minta Internet Diputus dan Cerita Orang Belanda Buat Penelitian Tanpa Penerjemah

Banten | 14 Juni 2023, 09:12 WIB
Sejumlah warga Baduy berjalan menuju Kantor Gubernur Banten untuk mengikuti tradisi Seba Baduy di Kota Serang, Sabtu (29/4/2023). Tradisi yang berlangsung setiap tahun tersebut ditandai dengan penyerahan hasil panen serta penyampaian aspirasi warga Baduy kepada pemerintah. (Sumber: ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Permintaan masyarakat Baduy Dalam itu terdengar tidak lazim untuk masa sekarang. Lewat Pemimpin Lembaga Adat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mereka meminta penghapusan sinyal internet di wilayahnya. 

Permintaan tersebut disampaikan melalui surat yang dilayangkan ke Bupati Lebak. Surat yang ditandatangani oleh Kepala Desa Kanekes Saija itu tercantum dua poin permohonan, pertama permohonan penghapusan sinyal internet, atau mengalihkan pemancar sinyal (tower), agar tidak diarahkan ke wilayah Tanah Ulayat Baduy dari berbagai arah, sehingga Tanah Ulayat Baduy menjadi wilayah yang bersih dari sinyal internet (blankspot area internet).

Kedua permohonan untuk membatasi, mengurangi atau menutup aplikasi, program dan konten negatif pada jaringan internet yang dapat mempengaruhi moral dan akhlak generasi bangsa. 

Baca Juga: Kawasan Baduy Dalam Dibuka Kembali untuk Wisatawan, Ini Syarat Masuknya

Masyarakat Baduy, baik Dalam maupun Luar, sejak lama memang menarik perhatian banyak orang.

Karena kondisi masyarakatnya yang terbilang masih mempertahankan tradisi dan warisan leluhur itulah, banyak yang datang untuk sekadar berwisata. Namun ada pula yang secara serius melakukan penelitian, salah satunya adalah Nicolaas Johannes Cornelis Geise OFM, orang Belanda yang pernah bertugas sebaga uskup di Gereja Katolik Bogor pada periode 1962-1975.

Namun ketertarikan dan penelitian tentang Baduy sudah dilakukan pada periode 1939-1941 sebelum pecah perang dunia II. Penelitian Nicolaas kemudian dijadikan disertasi doktor di Rijkuniversteit di Leiden Beland pada 1952, dengan judul Baduj en Moslims in Lebak Parahiang, Zuid Banten (Baduy dan Muslim di Lebak Parahiang, Banten Selatan), yang kini sudah diterbitkan menjadi buku oleh KOMPAS dengan judul Baduj en Moslims, Kajian Etnografis Masyarakat Adat di Lebak Parahaiang, Banten Selatan (tahun 2022).  

Banyak kisah menarik dituliskan selama melakukan penelitian. Salah satunya adalah, Nicolaas yang juga seorang pastor ini benar-benar hanya mengandalkan bahasa Sunda yang dia pelajari tanpa didampingi oleh penerjemah. Padahal "Juragan Geise",  banyak mewawancari orang Baduy baik lelaki maupun perempuan yang semuanya didokumentasikan dalam penelitian tersebut.

Kegiatan penelitian sepenuhnya dilakukan menggunakan Bahasa Sunda. "Peneliti sanggup tanpa hambatan berarti dengan lancar berkomunikasi dengan penduduk lokal. Selama penelitian tidak pernah digunakan penerjemah," katanya. Bahkan, Geise bisa menjalin kontak erat dengan penduduk setempat dengan akrab.

"Selama beberapa bulan di awal penelitian, peneliti melakukan penjajakan. Peneliti tinggal menetap di Kamancing, lokasi di tengah-tengah lintasan perjalanan dari jalan ke kawasan Baduy," kata Geise.

Penulis : Iman Firdaus Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU