> >

Gunung Ile Lewotolok di NTT Kembali Meletus, Masyarakat Diminta Waspada

Peristiwa | 2 Juli 2022, 09:44 WIB
Arsip. Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan aktivitas vulkanik sejak kembali bererupsi pada Desember 2020 lalu. (Sumber: BPBD Kabupaten Lembata)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali meletus, Sabtu (2/7/2022). Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok mengatakan, terjadi erosi gunung api dengan letusan sebanyak 15 kali terhitung sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WITA, Sabtu.

"Ketinggian letusannya berkisar dari 500 hingga 1.200 meter dari puncak kawah," kata Kepala Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok, Stanis Arakian, dilansir Antara, Sabtu.

Stanis menjelaskan, secara visualisasi gunung jelas hingga kabut 0-I, sementara asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna kelabu dan hitam dengan intensitas tebal dan tinggi.

Letusan yang terjadi disertai dengan gemuruh dan dentuman sedang hingga kuat, teramati lontaran ke segala arah dengan jarak luncur lebih kurang 300-800 meter dari pusat erupsi.

Letusan yang terjadi juga mengakibatkan kegempaan di sekitar pemukiman di bawah kaki gunung api dengan durasi berkisar dari 34-129 detik.

Baca Juga: Gunung Tangkuban Parahu dalam Catatan Sejarah 1829 hingga 2019: Meletus Sebanyak 13 Kali

Stanis mengimbau masyarakat sekitar waspada dengan erupsi yang terus terjadi, karena aktivitas gunung api sangat tinggi.

Gunung Ile Lewotolok pernah meletus pada November 2022. Hingga saat ini, level III atau siaga masih diberlakukan. Pihak pos pemantau mengeluarkan sejumlah rekomendasi agar warga sekitar waspada.

Rekomendasi yang dikeluarkan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh pada tanggal 14 Juni 2022 yang menyebutkan tingkat aktivitas Gunung api Ile Lewotolok masih berada pada Level III (Siaga) serta disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini.

Dalam tingkat aktivitas Level III (Siaga), masyarakat di sekitar gunung Ile Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak/kawah, radius 3,5 km untuk sektor Tenggara, radius 4 km untuk sektor Timur dan Timur Laut.

Penulis : Dian Septina Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV


TERBARU