> >

Mengenal Teknik Pemantauan Tertua Gunung Merapi

Berita daerah | 28 November 2020, 17:54 WIB
Erupsi Gunung Merapi, abu vulkanik setinggi 6.000 meter, pada Minggu (21/6/2020). (Sumber: Twitter @BPPTKG)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV- Memantau Gunung Merapi bisa dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya pemantauan visual yang merupakan metode pemantauan tertua Gunung Merapi.

Semula, pemantauan visual dilakukan dengan mata telanjang, seiring dengan perkembangan teknologi, media yang digunakan pun berbeda. Kini, pemantauan Gunung Merapi bisa dilakukan dengan teknologi forogrametri maupun penginderaan jauh melalui satelit.

Menurut Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Agus Budi Santoso, pemantauan visual bertujuan untuk memantau aktivitas Gunung Merapi melalui data-data visual.

“Zaman dulu, petugas pengamat Gunung Merapi melakukan pengamatan visual berupa kolom asap, titik api, alterasi batuan, lava pijar, awan panas, maupun perubahan morfologi,” ujarnya dalam Siaran Informasi BPPTKG, Sabtu (28/11/2020).

Baca Juga: Ada Bilik Asmara Disiapkan untuk Pengungsi Gunung Merapi

Pada saat itu, pengamat juga menggambar sketsa morfologi puncak secara berkala, sehingga perkembangan aktivitas Gunung Merapi bisa diketahui melalui sketsa itu.

Masa kini sudah berbeda, Jadi, BTTKG pun melakukan pemantauan visual Gunung Merapi dengan perangkat teknologi. Teknik yang digunakan adalah fotografi.

Saat ini terdapat 35 stasiun kamera yang berada di sekeliling Gunung Merapi, termasuk sembilan stasiun kamera DSLR dan dua kamera thermal.  Foto yang diperoleh dari kamera menggantikan sketsa untuk mengukur perubahan morfologi secara spasial. 

Selain dengan fotografi, BPPTKG juga menggunakan drone untuk menghasilkan foto.

“Kelebiha drone foto yang didapat bisa sesuai perspektif yang diinginkan, bahkan di kawasan yang tak terjangkau manusia,” ucapnya.

Baca Juga: Masih Banyak Warga Nyaman Tinggal di Rumah Jelang Erupsi Merapi, Begini Solusinya

Agus memaparkan pengambilan data menggunakan drone dilakukan secara berulang, sehingga membantu menganalisis perubahan morfologi dari waktu ke waktu.

Ia mencontohkan berdasarkan tangkapan drone, kubah lava 2018 berhenti tumbuh pada akhir Desember 2018. Selain itu, perhitungan volume kubah lava lebih akurat karena volume dihitung secara tiga dimensi.

Kondisi ini berbeda dengan sebelumnya, yakni hanya menggunakan foto dua dimensi sehingga kurang representatif. Pemantauan visual Gunung Merapi dilakukan secara intensif sejak menjelang erupsi pada 2018 sampai saat ini per satu minggu.

Teknik pemantauan visual lainnya untuk Gunung Merapi adalah melalui satelit yang prinsipnya sampa dengan menggunakan drone, yakni mendapatkan foto objek dari atas. Ada pula teknik data satelit citra radar, InSAR (Interferometric Synthetic-Aperture Radar).

Metode ini memberikan gambaran deformasi secara tiga dimensi dari perubahan fase gelombang radar yang dipancarkan ke obyek dan kembali ke satelit. Prinsip kerjanya mirip seperti metode EDM (Electronic Distance Measurements), akan tetapi dengan jumlah sinar yang jauh lebih banyak. 

Kekurangan dari metode InSAR adalah resolusi yang tidak terlalu tinggi sehingga agak sulit untuk mendapatkan resolusi orde sentimeter pada deformasi di Gunung Merapi. Berbeda dengan metode EDM yang bisa mencapai orde milimeter meskipun hanya diukur dari satu titik. Metode InSAR ini berguna jika ada suplai magma yang besar, sehingga orde deformasinya mampu terekam oleh satelit. 

Penulis : Switzy-Sabandar

Sumber : Kompas TV


TERBARU