> >

Kecelakaan Pesawat Super Tucano di Pasuruan Kemungkinan Bukan Tabrakan, Begini Penjelasan Kadispenau

Peristiwa | 18 November 2023, 13:44 WIB
Kolase foto pesawat Embraer Super Tucano dan tangkapan layar Super Tucano jatuh di Pasuruan Jawa Timur, Kamis (16/11/2023). (Sumber: Lombok.tribunnews.com)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama R Agung Sasongkojati menyebut kecelakaan pesawat Super Tucano di Pasuruan, Jawa Timur kemungkinan bukan karena tabrakan.

Pasalnya, Kadispenau menjelaskan, Emergency Locator Transmitter (ELT) atau alat pemancar sinyal darurat dari dua pesawat tersebut menyala dalam waktu yang berbeda, tidak bersamaan.

"Kalau dua ELT nya itu menyala dalam waktu yang tidak bersamaan, artinya kemungkinan besar itu tidak tabrakan," ujarnya ketika menyampaikan keterangan pers di Lapangan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (17/11/2023).

"Kalau tabrakan pasti ada ribut di udara kan? Karena masih ada waktu untuk sampai menghantam bawah," ucap dia dipantau dari program Breaking News Kompas TV.

Meski begitu, ia mengaku tak bisa mengambil kesimpulan dengan pasti karena pihaknya masih akan memeriksa data di dalam Flight Data Recorder (FDR) dari dua pesawat yang jatuh di lereng Gunung Bromo itu.

Baca Juga: Buntut Kecelakaan Pesawat di Pasuruan, TNI AU Setop Sementara Penggunaan Super Tucano

Agung menerangkan, ELT dua pesawat itu menyala setelah empat pesawat yang melakukan formasi saling menjauhkan diri karena pandangan para penerbang terhalang awan tebal.

Ia menerangkan, saat satu per satu pesawat naik ke angkasa, awan-awan di sekitarnya tipis, namun tiba-tiba awan-awan itu menebal, sehingga menyebabkan jarak pandang para penerbang terganggu, bahkan tidak bisa melihat apa-apa atau "blind".

"Mereka terbang formasi, take off satu per satu, setelah naik ke atas mereka bergabung menjadi satu kesatuan pesawat yang formasi, formasi itu dekat sekali," kata Kadispenau Agung Sasongkojati.

"Pada saat mereka climbing, mereka masuk ke awan, in-out-in-out, artinya awannya itu tipis-tipis saja, namun awan itu tiba-tiba menebal dengan pekat, sehingga pesawat yang dekat saja, mungkin jaraknya 30 meter itu tidak kelihatan," ujarnya. 

Sesuai prosedur, jelas Kadispenau, saat awan sangat tebal hingga mengganggu pandangan, para penerbang mengatakan "blind" atau dalam Bahasa Indonesia berarti "buta".

Baca Juga: TNI AU Janji Perhatikan Kesejahteraan Keluarga 4 Penerbang Korban Kecelakaan Pesawat Super Tucano

Penulis : Nadia Intan Fajarlie Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas TV


TERBARU