> >

Jokowi: Hati-hati Pilih Pemimpin, Jika Keliru Hilang Kesempatan Indonesia Jadi Negara Maju

Rumah pemilu | 14 Mei 2023, 16:32 WIB
Foto Arsip. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti masyarakat, khususnya para relawannya untuk lebih berhati-hati dalam memilih pemimpin saat Pemilu 2024 mendatang. (Sumber: Straits Times)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti masyarakat, khususnya para relawannya untuk lebih berhati-hati dalam memilih pemimpin saat Pemilu 2024 mendatang.

Kepala Negara ini mengingatkan bahwa dalam periode 13 tahun ke depan adalah menjadi masa penentuan nasib Indonesia untuk menjadi negara maju.

Sehingga, jika keliru dalam memilih pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), maka kesempatan Indonesia untuk menjadi negara maju ke depannya akan pupus.

Pesan ini disampaikan Jokowi dalam acara puncak Musyawarah Rakyat (Musra) relawan di Istora, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (14/5/2023).

"Peluang kita menjadi negara maju itu ada dalam 13 tahun ke depan. Ini disampaikan oleh para pakar dalam negeri maupun luar. Dan dalam sejarah peradaban negara-negara yang saya lihat, kesempatannya hanya sekali," kata Jokowi.

"Begitu kita keliru memilih pemimpin yang tepat untuk 13 tahun ke depan, hilanglah kesempatan untuk menjadi negara maju, hati-hati mengenai ini, hati-hati," tuturnya, menegaskan.

Jokowi kemudian mencontohkan negara-negara di Amerika Latin.

Menurut dia, sekitar tahun 50-an hingga 70-an, negara di kawasan tersebut sudah berada di posisi negara berkembang atau middle income.

Namun, akibat pemimpinnya tidak bisa memanfaatkan peluang yang ada, membuat negara tersebut masih menjadi negara berkembang.

Baca Juga: Jokowi Ingatkan Jangan Keliru Pilih Pemimpin: yang Kita Dengar Suara Rakyat, Bukan Elite

"Sudah 50 tahun mereka tetap menjadi negara berkembang. Karena apa? Karena tidak bisa memanfaatkan peluang saat itu. Dan mengejarnya lagi sudah tidak ada kesempatan lagi," tegasnya.

"Ini akan terjadi di negara kita. Begitu kita tidak bisa memanfaatkan waktu 13 tahun ini, ada yang namanya bonus demografis dan kita tidak bisa memanfaatkan, kita akan menjadi negara berkembang terus. Kesempatan itu tidak akan muncul dua kali dalam sejarah peradaban negara," katanya.

Sebab itu, Jokowi pun menegaskan, kepada masyarakat untuk tidak grusa-grusu dalam menentukan Capres di Pemilu 2024 mendatang.

"Oleh sebab itu, memilih pemimpin di tahun 2024 sangat krusial, penting sekali, harus tepat dan benar," ujarnya.

"Sehingga, saya bolak-balik menyampaikan jangan grasah-grusuh. Jangan tergesa-gesa, karena begitu keliru kita tidak bisa meminta kembali lagi," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga mengungkapkan kriteria pemimpin yang dibutuhkan rakyat Indonesia.

Menurutnya, rakyat butuh pemimpin yang mengerti bagaimana memajukan negara ini.

"Rakyat butuh pemimpin yang paham, yang ngerti bagaimana memajukan negara ini. Karena pemimpin itu harus paham dan tahu potensi serta kekuatan negara ini, kekuatan bangsa ini apa. Dia harus ngerti, dia harus tahu," ucapnya.

"Yang paham hati rakyat, yang tahu kebutuhan rakyat, yang mau bekerja keras untuk rakyat. Itu yang dibutuhkan. Dan berani, pemberani demi rakyat," katanya, menegaskan.

Baca Juga: Relawan Jokowi akan Serahkan Daftar Nama Bakal Cawapres, Ada Ridwan Kamil hingga Sandiaga Uno

Penulis : Isnaya Helmi Editor : Deni-Muliya

Sumber : Kompas TV


TERBARU